Vampire Academy #1

Vampire Academy – Chapter 02

TERLEPAS DARI KEBENCIAN YANG KURASAKAN, aku harus mengakui bahwa Dimitri Beli-apa-pun-nama-panjangnya lumayan cerdik. Setelah menggiring kami ke bandara dan menaiki jet milik Akademi, Dimitri menatap kami berdua yang sedang berbisik-bisik dan memerintahkan agar kami dipisahkan.

“Jangan biarkan mereka mengobrol,” Dimitri memperingatkan pengawal yang mendampingiku ke bagian belakang pesawat. “Jika dibiarkan bersama-sama selama lima menit saja, mereka pasti akan langsung menemukan cara untuk melarikan diri.”

Aku menatap Dimitri dengan angkuh dan bergegas menyusuri lorong pesawat. Lupakan saja fakta bahwa kami memang sudah merencanakan pelarian diri. Seperti kelihatannya, keadaan tidak terlalu menguntungkan bagi para jagoan kita―atau mungkin lebih tepatnya, para jagowati kita. Begitu kami mengudara, kemungkinan untuk melarikan diri akan semakin tipis. Bahkan, dengan anggapan bahwa keajaiban akan terjadi dan aku sanggup mengalahkan sepuluh pengawal itu, kami akan kesulitan untuk turun dari pesawat. Tebersit dalam benakku bahwa mereka pasti memiliki parasut yang disimpan di suatu tempat dalam pesawat ini. Namun, seandainya entah bagaimana aku sanggup menggunakannya, masih ada masalah mengenai keselamatan, mengingat kami mungkin saja mendarat di suatu tempat di Pegunungan Rocky.

Tidak, kami takkan keluar dari pesawat ini sampai mendarat di tengah hutan rimba Montana nanti. Aku harus memikirkan sesuatu pada saat itu, sesuatu termasuk menghindari penangkal-penangkal berdaya sihir di Akademi dan pengawal yang jumlahnya sepuluh kali lipat dari sekarang. Yeah. Bukan masalah. Meskipun Lissa duduk di depan bersama si laki-laki Rusia, rasa takutnya seakanakan mengalun ke dalam diriku, berdentam-dentam di dalam kepalaku bagaikan palu. Kekhawatiran yang kurasakan untuknya memicu amarahku. Mereka tak boleh membawa Lissa kembali ke sana, tidak ke tempat itu. Aku penasaran mungkinkah Dimitri akan merasa ragu seandainya dia bisa merasakan apa yang kurasakan dan mengetahui semua hal yang kuketahui. Mungkin tidak. Dimitri tidak akan peduli.

Bagaimanapun, selama sesaat emosi Lissa terasa semakin kuat hingga aku kehilangan orientasi dan seakan-akan sedang duduk di kursinya―bahkan di dalam kulitnya. Terkadang hal seperti ini memang terjadi, dan tanpa peringatan lebih lanjut, Lissa menarikku ke dalam pikirannya. Tubuh tinggi Dimitri duduk di sampingku, dan tanganku―tangan Lissa―menggenggam sebuah botol air minum. Dimitri membungkukkan tubuh untuk mengambil sesuatu, sehingga memperlihatkan enam buah simbol kecil yang tertato pada bagian belakang lehernya: tanda molnija. Tanda tersebut terlihat seperti dua buah kilat bergerigi yang menyilang membentuk huruf X. Masing-masing tanda menyimbolkan setiap Strigoi yang berhasil dibunuhnya. Di atas tanda-tanda tersebut ada sebuah garis berliku, menyerupai seekor ular, yang menandainya sebagai seorang pengawal. Tanda sumpah.

Aku mengedipkan mata, berusaha melawan Lissa dan kembali ke dalam kepalaku sendiri sambil meringis. Aku tak suka saat hal itu terjadi. Mampu merasakan emosi Lissa adalah suatu hal tersendiri, tapi menyelinap masuk ke dalam tubuhnya adalah sesuatu yang kami berdua benci. Lissa memandangnya sebagai pelanggaran hak pribadi, jadi biasanya aku tidak memberitahunya saat hal itu terjadi. Tak satu pun dari kami yang bisa mengendalikannya. Ini adalah efek lain dari ikatan yang terjalin di antara kami, ikatan yang tidak kami pahami sepenuhnya. Ada banyak legenda mengenai ikatan batin yang terjalin antara para pengawal dan Moroi yang mereka jaga, tapi tidak pernah ada kisah yang menceritakan tentang sesuatu seperti ini. Kami berusaha meraba-raba melaluinya sebaik mungkin.

Mendekati akhir penerbangan, Dimitri menghampiri tempatku duduk dan bertukar tempat dengan pengawal yang duduk di sampingku. Aku terang-terangan berpaling darinya, dan memandang keluar jendela dengan tatapan kosong. Setelah beberapa saat yang sunyi, Dimitri akhirnya berkata, “Apa kau benar-benar bermaksud menyerang kami semua?” Aku tidak menjawab.

“Melakukannya … melindunginya seperti itu―adalah tindakan yang sangat berani.” Dimitri berhenti sejenak. “Tindakan bodoh, tapi tetap saja berani. Mengapa kau bahkan berusaha melakukannya?”

Aku melirik Dimitri, menyingkirkan rambut dari wajah supaya bisa menatap langsung ke dalam matanya. “Karena aku adalah pengawal Lissa.” Kemudian aku kembali berbalik menghadap jendela.

Setelah beberapa saat yang dipenuhi kesunyian lagi, Dimitri berdiri dan kembali ke bagian depan pesawat.

Saat kami mendarat, aku dan Lissa tak punya pilihan selain membiarkan komando itu mengantar kami ke Akademi. Mobil yang membawa kami berhenti di depan gerbang, dan sopirnya berbicara dengan penjaga yang memastikan bahwa kami bukan Strigoi yang berniat untuk melakukan pesta pembantaian. Satu menit kemudian mereka membiarkan kami masuk melewati penangkal-penangkal dan terus ke dalam Akademi. Saat itu kira-kira matahari sedang terbenam―permulaan hari para vampir―dan kampus terselubung oleh bayangan.

Bangunan itu mungkin masih terlihat sama, membentang luas dan bergaya gotik. Kaum Moroi sangat mementingkan tradisi, tidak ada yang berubah pada diri mereka. Sekolah ini tidak setua yang ada di Eropa, tapi dibangun dengan gaya yang sama. Gedung-gedungnya memiliki arsitektur yang rumit dan menyerupai gereja, dengan puncak-puncak tinggi dan ukiran batu. Gerbang yang terbuat dari besi tempa mengelilingi taman-taman kecil dan pintu-pintu yang tersebar di seluruh penjuru. Setelah tinggal di kampus sebuah college, aku memiliki penghargaan baru terhadap tempat ini, yang lebih menyerupai sebuah universitas daripada sebuah sekolah menengah pada umumnya.

Kami berada di kampus sekunder yang dibagi menjadi sekolah atas dan dasar. Masing-masing dibangun sekitar alun-alun terbuka berbentuk segi empat yang didekorasi dengan jalan setapak batu serta pepohonan berumur ratusan tahun. Kami langsung menuju alun-alun sekolah atas yang pada salah satu sisinya dipenuhi gedung-gedung akademis, sedangkan asrama dhampir dan ruang olahraga terletak di sisi seberangnya. Asrama Moroi terletak di sisi lain, dan di seberangnya terdapat gedung-gedung administrasi yang juga dijadikan sekolah dasar. Para siswa yang lebih muda tinggal di kampus utama yang terletak lebih ke barat.

Di sekitar kampus ada tanah kosong, tanah kosong lain, dan lebih banyak lagi tanah kosong. Lagi pula, kami berada di Montana, berkilo-kilometer jauhnya dari kota lain. Udaranya terasa dingin serta berbau pohon pinus dan dedaunan basah yang membusuk. Hutan yang dibiarkan tumbuh lebat mengelilingi perimeter Akademi, dan pada siang hari kau bisa melihat pegunungan yang menjulang di kejauhan.

Saat kami berjalan menuju bagian utama sekolah atas, aku melepaskan diri dari pengawalku dan berlari menghampiri Dimitri.

“Hei, Kamerad.”

Dimitri terus berjalan tanpa melihat ke arahku. “Apa kau mau bicara sekarang?”

“Apa kau akan membawa kami ke Kirova?”

“Kepala Sekolah Kirova,” ralatnya. Di sisi lain Dimitri, Lissa menatapku dengan pandangan yang berkata,  jangan macam-macam.

Kata-kataku menghilang saat para pengawal menggiring kami melalui beberapa buah pintu―langsung menuju aula bersama. Aku menghela napas. Kenapa sih orang-orang ini begitu kejam? Setidaknya kan ada sekitar selusin jalan lain untuk mencapai kantor Kirova, dan mereka malahan membawa kami tepat melewati pusat aula bersama.

Dan tepat saat waktu sarapan pula

Para pengawal novis―para dhampir seperti aku―dan Moroi duduk bersamasama, makan dan bersosialisasi, wajah-wajah mereka terlihat berbinar karena gosip yang sedang menjadi pusat perhatian di Akademi. Ketika kami melangkah masuk, dengungan bising yang berasal dari pembicaraan mereka langsung terhenti saat itu juga, seakan-akan ada seseorang yang mematikan tombolnya. Ratusan pasang mata berbalik pada kami.

Aku membalas tatapan mantan teman sekelasku dengan cengiran malas, berusaha untuk mengetahui apakah keadaan sudah banyak berubah. Tidak. Sepertinya sama sekali tidak berubah. Camille Conta masih terlihat seperti primadona, cewek jalang terawat sempurna seperti yang kuingat dulu, cewek yang menganggap dirinya pemimpin geng bangsawan Moroi. Jauh ke samping, nyaris-sepupu Lissa yang culun, Natalie, sedang memperhatikan dengan mata yang membulat, masih polos dan lugu seperti dulu.

Dan di sisi lain ruangan … well, ini menarik. Aaron. Aaron yang malang, yang tidak diragukan lagi patah hati saat Lissa pergi. Aaron masih terlihat seimut dulu―mungkin sekarang lebih imut lagi―dengan penampilan keemasan yang sama dan melengkapi sosok Lissa dengan sangat sempurna. Kedua mata Aaron mengikuti setiap gerak-gerik Lissa. Ya. Dia sudah pasti belum berhasil melupakan Lissa. Sebenarnya, ini menyedihkan, karena Lissa tidak pernah benar-benar jatuh cinta kepadanya. Sepertinya Lissa berkencan dengan Aaron hanya karena hal itu merupakan sesuatu yang sudah seharusnya dilakukan. Namun, yang kudapati paling menarik adalah Aaron sepertinya sudah menemukan jalan untuk melewatkan waktu tanpa kehadiran Lissa. Di samping Aaron, sedang memegangi tangannya, ada seorang cewek Moroi yang terlihat seperti berusia sebelas tahun (tapi harusnya lebih tua dari itu, kecuali Aaron memang berubah menjadi seorang pedofilia selama kami tidak ada di sini). Dengan pipi kecil yang ranum dan rambut ikal berwarna pirang, cewek itu terlihat bak boneka porselen. Sebuah boneka porselen yang sangat marah dan kejam. Dia menggenggam tangan Aaron dengan erat, menatap Lissa dengan kebencian yang begitu membara hingga mengejutkanku. Apa maksudnya? Aku tidak mengenal cewek itu. Kurasa dia hanya seorang pacar yang cemburu. Aku juga pasti akan marah kalau pacarku menatap seseorang dengan cara seperti itu.

Parade untuk mempermalukan kami ini untungnya berakhir, meskipun tempat yang kami datangi―kantor Kepala Sekolah Kirova―tidak bisa dibilang lebih baik. Nenek sihir itu persis seperti yang kuingat dulu, berhidung lancip dan berambut kelabu. Kirova bertubuh tinggi dan langsing, sama seperti sebagian besar kaum Moroi, dan dia selalu mengingatkanku pada seekor burung pemakan bangkai. Aku mengenalnya dengan sangat baik karena sering menghabiskan banyak waktu di kantornya.

Sebagian besar pengawal kami langsung pergi setelah Lissa dan aku duduk, sehingga aku tidak terlalu merasa seperti tawanan. Hanya Alberta, kapten pengawal sekolah, dan Dimitri yang tetap tinggal bersama kami. Mereka mengambil posisi merapat ke dinding, terlihat tenang dan menakutkan, persis seperti yang diwajibkan oleh pekerjaan mereka.

Kirova melayangkan tatapan marahnya pada kami berdua, lalu membuka mulut untuk memulai serangkaian omelan yang tak diragukan lagi akan sangat menjengkelkan. Namun suara lembut dan dalam menghentikan perempuan itu.

“Vasilisa.”

Aku terkejut dan baru menyadari bahwa ada orang lain di ruangan ini. Sebelumnya aku tidak memperhatikan. Sikap ceroboh untuk seorang pengawal, bahkan untuk seorang novis.

Dengan susah payah, Victor Dashkov bangkit dari sebuah kursi sudut. Pangeran Victor Dashkov. Lissa langsung berdiri dan berlari menghampirinya, melingkarkan lengan pada tubuh lemah laki-laki itu.

“Paman,” bisik Lissa. Suaranya terdengar nyaris menangis saat mempererat pelukannya.

Seraya tersenyum tipis, Victor menepuk punggung Lissa dengan lembut. “Kau tidak tahu betapa leganya aku karena melihatmu selamat, Vasilisa.” Victor menatap ke arahku. “Kau juga, Rose.”

Aku mengangguk balik padanya, berusaha untuk menyembunyikan keterkejutanku. Sang pangeran sedang sakit saat kami pergi, tapi ini … ini buruk sekali. Victor adalah ayah Natalie, usianya baru sekitar empat puluh tahun, tapi dia terlihat lebih tua dua kali lipat. Pucat. Lemah. Tangannya gemetar. Hatiku hancur saat melihatnya. Dengan begitu banyak orang jahat di dunia ini, rasanya tidak adil kalau laki-laki inilah yang harus menderita penyakit mematikan, yang mencegahnya menjadi raja.

Secara teknis, Victor bukan paman Lissa―kaum Moroi menggunakan istilah keluarga dengan sangat bebas, terutama untuk kalangan bangsawan―tapi merupakan teman dekat keluarga gadis itu, dan sudah melakukan semua yang mampu dilakukannya untuk membantu Lissa sejak kematian orangtuanya. Aku menyukai Victor, dialah orang pertama yang kehadirannya senang kulihat di tempat ini.

Kirova membiarkan mereka berdua selama beberapa saat, lalu menarik Lissa kembali ke tempat duduknya dengan sikap tegas. Waktunya untuk ceramah.

Ceramahnya bermutu―salah satu keahlian Kirova yang paling hebat, yang seakan-akan menegaskan sesuatu mengenai dirinya. Kirova sangat pintar berceramah. Aku bersumpah itulah satu-satunya alasan perempuan itu masuk ke dalam administrasi sekolah, karena aku belum pernah melihat bukti lain yang menunjukkan bahwa dia sungguh-sungguh menyukai anak-anak. Ocehannya mencakup topik yang standar: tanggung jawab, kelakuan gegabah, keegoisan … Blah. Aku langsung mendapati pikiranku melayang jauh, memikirkan segala persiapan dan tindakan yang diperlukan untuk melarikan diri melalui jendela kantornya.

Namun, saat omelannya berpindah padaku―well, pada saat itulah perhatianku kembali.

“Kau, Miss Hathaway, melanggar sumpah paling suci di antara kaum kita; sumpah seorang pengawal untuk melindungi seorang Moroi. Itu adalah kepercayaan besar. Sebuah kepercayaan yang kaulanggar dengan membawa pergi sang putri dari sini. Kaum Strigoi akan membantai keluarga Dragomir dengan senang hati, kau nyaris membantu mereka mewujudkannya.”

“Rose tidak menculikku.” Lissa bicara sebelum aku sempat membuka mulut.

Wajah dan suaranya tenang, meskipun sebenarnya dia gelisah. “Aku memang ingin pergi dari sini. Jangan salahkan Rose.”

Ms. Kirova berdecak pada kami berdua dan berjalan mondar-mandir, dengan kedua tangan terlipat di punggungnya yang kurus.

“Miss Dragomir, sepanjang pengetahuanku mungkin saja kaulah yang merencanakan semua ini, tapi tetap Rose yang bertanggung jawab dengan memastikan kau tidak melakukannya. Jika Rose melaksanakan kewajibannya dengan baik, maka dia akan memberitahu seseorang. Jika Rose melaksanakan kewajibannya dengan baik, maka dia akan memastikan keselamatanmu.”Amarahku meledak.

“Aku sudah melaksanakan kewajibanku!” Aku berteriak sambil melompat bangkit dari kursi. Dimitri dan Alberta tersentak, tapi mereka membiarkanku karena aku tidak berusaha menyerang siapa pun. Belum. “Aku memang memastikan keselamatannya! Aku memastikan keselamatannya saat tak seorang pun dari kalian”―aku menggerakkan tangan ke seluruh ruangan―“sanggup melakukannya. Aku membawa Lissa pergi untuk melindunginya. Aku melakukan apa yang terpaksa kulakukan. Sudah jelas kau takkan melakukannya.” Melalui ikatan di antara kami, aku merasa Lissa berusaha mengirimkan pesanpesan yang menenangkan, lagi-lagi mendesakku agar tidak membiarkan amarah menguasai. Terlambat.

Kirova menatapku, ekspresi wajahnya terlihat kosong. “Miss Hathaway, maafkan aku jika tak bisa memahami logika dalam pernyataanmu barusan. Bagaimana mungkin membawa Miss Dragomir keluar dari lingkungan yang dijaga ketat dan dilindungi sihir bisa dikatakan sebagai melindunginya? Kecuali ada sesuatu yang tidak kauceritakan pada kami?” Aku menggigit bibir.

“Aku mengerti. Well, baiklah kalau begitu. Berdasarkan perkiraanku, satu-satunya alasan kalian pergi dari sini―selain hal-hal baru yang terjadi sesudahnya, tidak diragukan lagi―adalah untuk menghindari konsekuensi dari aksi mengerikan dan merusak yang kalian lakukan tepat sebelum menghilang.”

“Tidak, itu bukan―”

“Dan itu hanya membuatku lebih mudah dalam membuat keputusan. Sebagai seorang Moroi, sang putri harus tetap berada di dalam Akademi demi keselamatannya sendiri, tapi kami tak punya kewajiban seperti itu padamu. Kau akan diusir dari sini secepat mungkin.”

Kesombonganku langsung menguap. “Aku … apa?”

Lissa berdiri di sampingku. “Kau tak bisa melakukannya! Dia pengawalku.”

“Dia sama sekali bukan pengawalmu, terutama karena dia bahkan bukan seorang pengawal. Dia masih novis.”

“Tapi orangtuaku―”

“Aku tahu apa yang diinginkan orangtuamu, semoga Tuhan mengistirahatkan jiwa mereka dengan tenang, tapi keadaannya sudah berubah. Miss Hathaway tidak penting. Dia tak pantas menjadi seorang pengawal, dan dia akan pergi dari sini.” Aku menatap Kirova, tak bisa memercayai apa yang baru saja kudengar.

“Kau akan mengirimku ke mana? Pada ibuku di Nepal? Apa dia bahkan menyadari kalau aku pergi? Atau mungkin kau akan mengirimku pada ayahku?” Kedua mata Kirova menyipit saat mendengar kata terakhir yang terdengar tajam itu. Saat bicara lagi, suaraku terdengar sangat dingin hingga diriku sendiri pun nyaris tak bisa mengenalinya.

“Atau mungkin kau akan berusaha mengirimku untuk menjadi pelacur darah. Coba saja lakukan itu dan kami akan menghilang dari sini malam nanti.”

“Miss Hathaway,” desis Kirova, “kau sudah keterlaluan.”

“Mereka berdua memiliki ikatan batin.” Suara Dimitri yang berat dan beraksen memecah suasana yang sangat tegang itu, dan kami semua berbalik menghadapnya. Kurasa Kirova sudah melupakan kehadiran Dimitri di sana, tapi aku tidak. Kehadiran laki-laki itu terlalu kuat untuk diabaikan. Dimitri masih berdiri sambil bersandar pada dinding, terlihat bagaikan seorang pengawal koboi dalam mantel panjangnya yang konyol itu. Dimitri memandangku, bukan Lissa, kedua mata gelapnya menatap lurus ke arahku. “Rose tahu apa yang dirasakan Vasilisa. Ya kan?”

Setidaknya aku mendapatkan kepuasan melihat Kirova tampak lengah saat melirik aku dan Dimitri. “Tidak … itu mustahil. Hal itu belum pernah terjadi lagi selama berabad-abad.”

“Ikatan itu terlihat dengan sangat jelas,” kata Dimitri. “Aku langsung menduganya saat pertama kali memperhatikan mereka.”

Baik Lissa maupun diriku tidak menanggapi ucapan Dimitri, dan aku mengalihkan tatapan darinya.

“Itu adalah anugerah,” gumam Victor dari sudut ruangan. “Hal langka dan mengagumkan.”

“Para pengawal terbaik selalu memiliki ikatan itu,” tambah Dimitri. “Di dalam kisah-kisah.”

Kemarahan Kirova bangkit lagi. “Kisah-kisah yang berumur ratusan tahun,” serunya. “Tentunya kau tidak menyarankan agar dia tetap tinggal di Akademi setelah semua hal yang sudah dilakukannya, kan?”

Dimitri mengedikkan bahu. “Dia mungkin saja liar dan tak tahu sopan santun, tapi jika dia punya potensi―”

“Liar dan tak tahu sopan santun?” selaku. “Memangnya kau ini siapa? Bantuan cabutan?”

“Garda Belikov adalah Pengawal sang putri sekarang,” kata Kirova. “Pengawal yang sah.”

“Kau menyewa tenaga kerja asing murah untuk melindungi Lissa?” Ucapanku itu memang kasar―terutama karena sebagian besar kaum Moroi dan pengawal mereka merupakan keturunan Rusia dan Rumania―namun pada saat itu komentar tersebut terdengar cukup cerdas dari yang sebenarnya. Dan bukan berarti aku adalah orang yang berhak bicara seperti itu. Aku mungkin saja dibesarkan di Amerika Serikat, tapi orangtuaku orang asing. Ibuku yang seorang dhampir adalah orang Skotlandia―berambut merah, dengan aksen yang menggelikan―dan aku diberitahu bahwa ayahku yang seorang Moroi berasal dari Turki. Gabungan genetis keduanya memberiku kulit sewarna kacang almond, juga penampilan yang lebih suka kusebut sebagai wajah semieksotis putri padang pasir: mata besar berwarna gelap dan rambut berwarna cokelat sangat gelap hingga biasanya terlihat hitam. Sebenarnya aku tidak keberatan jika mewarisi rambut merah, tapi kita harus menerima apa yang kita dapatkan.

Kirova mengangkat kedua tangannya dalam keputusasaan dan berpaling pada Dimitri. “Kau lihat? Sama sekali tidak disiplin! Semua ikatan batin dan potensi sangat mentah yang ada di dunia ini takkan pernah bisa menutupi kekurangan tersebut. Seorang pengawal tanpa disiplin lebih buruk daripada orang yang sama sekali bukan pengawal.”

“Kalau begitu ajari dia disiplin. Kelas baru saja dimulai. Masukkan dia kembali ke kelas agar dia mendapatkan pelatihan lagi.”

“Mustahil. Dia pasti tetap tertinggal jauh dari teman-temannya yang lain.”

“Tidak, aku takkan tertinggal,” protesku. Tak seorang pun mendengarkan.

“Kalau begitu beri dia sesi latihan tambahan,” kata Dimitri.

Mereka terus berdebat sementara yang lain memperhatikan adu argumen tersebut seperti sedang menonton permainan ping-pong. Harga diriku masih terluka akibat betapa mudahnya Dimitri mengelabui kami, namun terpikir olehku bahwa lakilaki ini mungkin bisa membuatku tetap di sini bersama Lissa. Lebih baik tinggal di lubang neraka daripada berpisah dengan sahabatku. Melalui ikatan di antara kami berdua, aku bisa merasakan percikan harapan yang tumbuh pada diri gadis itu.

“Siapa yang mau mengorbankan waktu tambahan?” tuntut Kirova. “Kau?”

Kirova menyilangkan lengan dengan ekspresi puas. “Ya. Sudah kuduga.”

Jelas-jelas sudah kalah, Dimitri merengut. Ia melirik ke arah Lissa dan aku, dan aku penasaran apa yang sedang dilihatnya. Dua gadis menyedihkan yang menatapnya dengan bola mata membesar dan memohon? Atau dua orang buronan yang melarikan diri dari sebuah sekolah berkeamanan tinggi dan menggasak setengah warisan Lissa?

“Ya,” akhirnya Dimitri berkata. “Aku bisa mengajari Rose. Aku akan memberikan latihan tambahan di samping sesi normalnya.”

“Setelah itu apa?” jawab Kirova marah. “Dia terbebas dari hukuman?”

“Cari cara lain untuk menghukumnya,” jawab Dimitri. “Jumlah pengawal sudah sangat menurun, jadi kita tak boleh mengambil risiko kehilangan seorang lagi. Terutama seorang perempuan.”

Makna yang tak terucap dari perkataan Dimitri membuat tubuhku bergidik, dan mengingatkanku pada ucapanku sendiri mengenai ‘pelacur darah’ tadi. Hanya ada sedikit dhampir perempuan yang masih menjadi pengawal.

Tiba-tiba Victor bersuara dari sudut tempatnya duduk. “Aku cenderung setuju dengan Garda Belikov. Mengirim Rose pergi dari sini akan sangat disayangkan, menyia-nyiakan sebuah bakat.”

Ms. Kirova memandang ke luar jendela. Di luar sangat gelap. Dengan jadwal nokturnal Akademi, pagi dan sore merupakan istilah yang relatif. Itu artinya jadwal pelajaran pagi dimulai saat matahari terbenam. Selain itu, mereka mewarnai jendelanya agar cahaya tidak menerobos ke dalam.

Ketika dia berbalik lagi, Lissa menatap tepat ke dalam matanya. “Kumohon, Ms. Kirova. Biarkan Rose tetap tinggal di sini.”

Oh, Lissa, batinku. Berhati-hatilah. Menggunakan kompulsi pada seorang Moroi merupakan hal yang berbahaya―terutama di hadapan banyak saksi. Namun Lissa hanya mengerahkan sedikit kemampuannya, dan kami membutuhkan semua bantuan yang bisa kami dapatkan. Untungnya, tak seorang pun tampak menyadari apa yang sedang terjadi.

Aku bahkan tidak tahu apakah kompulsi tersebut memberi pengaruh atau tidak, tapi akhirnya Kirova menghela napas.

“Jika Miss Hathaway tetap tinggal di sini, ini syaratnya.” Kirova berbalik menghadapku. “Statusmu di St. Vladimir adalah sebagai murid percobaan. Jika melanggar batas sekali saja, maka kau akan dikeluarkan. Kau harus menghadiri semua kelas dan pelatihan yang diwajibkan untuk para novis seumurmu. Kau juga akan berlatih bersama Garda Belikov setiap ada waktu luang―sebelum dan sesudah masuk kelas. Di luar semua itu, kau dilarang melakukan setiap kegiatan sosial, kecuali waktu makan, dan kau akan menghabiskan waktumu di asrama. Jika kau gagal melaksanakan semua itu, maka kau akan … diusir.”

Aku tertawa gusar. “Dilarang melakukan semua kegiatan sosial? Apa kau berusaha memisahkan kami berdua?” Aku menganggukkan kepala ke arah Lissa.

“Apa kau takut kami akan melarikan diri lagi?”

“Aku hanya mengambil tindakan pencegahan. Aku yakin kau pasti ingat, dirimu tidak pernah mendapat hukuman yang pantas atas tindakan menghancurkan properti sekolah. Kau harus menebus banyak hal.” Bibir tipis Kirova membentuk garis lurus. “Kau telah mendapatkan tawaran yang sangat murah hati. Kusarankan agar kau tidak membiarkan perilakumu menyia-nyiakan kesempatan itu.”

Aku baru saja hendak mengatakan bahwa tawarannya sama sekali tidak murah hati, tapi langsung berhenti ketika menangkap tatapan Dimitri. Tatapannya sulit dibaca, mungkin saja dia sedang mengatakan bahwa dirinya percaya padaku. Mungkin saja dia berusaha mengatakan bahwa aku idiot karena bersikukuh melawan Kirova. Aku tidak tahu.

Aku mengalihkan pandangan dari laki-laki itu untuk kedua kalinya dalam pertemuan ini, memandangi lantai, dan menyadari bahwa Lissa ada di sampingku, memberikan dukungan melalui ikatan kami. Akhirnya, aku menarik napas lalu mendongak menatap sang kepala sekolah.

“Baiklah, kuterima tawarannya.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s