Vampire Academy #1

Vampire Academy – Chapter 03

MENYURUH KAMI UNTUK LANGSUNG BELAJAR DI KELAS setelah pertemuan tadi sepertinya lebih dari sekadar kejam, tapi persis seperti itulah yang dilakukan Kirova. Lissa digiring keluar, dan aku terpaksa melihatnya pergi, merasa lega karena ikatan yang terjalin di antara kami tetap memungkinkanku untuk membaca keadaan emosinya.

Mereka bahkan mengirimku untuk menemui seorang konselor terlebih dulu―seorang laki-laki Moroi yang sangat sepuh, yang seingatku sudah ada di sekolah sebelum aku meninggalkan tempat ini. Sejujurnya, aku tidak bisa memercayai bahwa dia masih ada di sini. Dia sudah sangat tua, dan seharusnya sudah pensiun. Atau mati.

Kunjungan tersebut menghabiskan lima menit penuh. Laki-laki itu tidak mengomentari kepulanganku, hanya menanyakan kelas-kelas yang kuambil saat berada di Chicago dan Portland. Dia membandingkannya dengan berkas lamaku dan cepat-cepat menuliskan jadwal baru. Aku menerimanya dengan muram dan bergegas menuju kelas pertama.

Jam pelajaran pertama                  Teknik Pertarungan Pengawal Lanjutan
Jam pelajaran kedua                       Teori Pengawalan dan Perlindungan Pribadi 3
Jam pelajaran ketiga                       Latihan Beban dan Pelenturan
Jam pelajaran keempat                  Seni Bahasa Senior (Novis)
―Istirahat makan―
Jam pelajaran kelima                    Fisiologi dan Perilaku Binatang
Jam pelajaran keenam                  Prakalkulus
Jam pelajaran ketujuh                  Budaya Moroi 4
Jam pelajaran kedelapan            Seni Slavia

Uh. Aku sudah lupa betapa panjangnya waktu belajar di Akademi. Para novis dan Moroi mengambil kelas terpisah selama setengah hari pertama, yang artinya aku takkan bertemu Lissa sampai selesai makan―itu pun jika kami mengikuti kelas sore yang sama. Sebagian besar merupakan kelas senior standar, jadi kesempatanku rasanya cukup besar. Menurutku Seni Slavia merupakan kelas pilihan yang tidak banyak dipilih, jadi kuharap mereka memasukkan Lissa ke kelas tersebut.

Dimitri dan Alberta mendampingiku menuju gym para pengawal untuk mengikuti pelajaran pertama. Tak seorang pun menghiraukan keberadaanku. Saat berjalan di belakang mereka, aku memperhatikan rambut Alberta yang dipotong pendek dan bergaya pixie sehingga memperlihatkan tanda sumpah dan tanda molnija di lehernya. Banyak pengawal perempuan melakukan hal yang sama. Aku takkan pernah memotong pendek rambutku, walaupun hal itu tidak berarti banyak untukku sekarang karena leherku belum bertato.

Alberta dan Dimitri tidak mengatakan apa pun, dan terus berjalan seakan-akan sekarang hanyalah hari normal yang sama seperti biasa. Ketika kami tiba, temantemanku bereaksi sebaliknya. Mereka sedang melakukan pemanasan, dan sama seperti saat di aula bersama, semua mata tertuju padaku. Aku tak bisa memutuskan apakah aku terlihat seperti bintang rock atau tontonan sirkus. Kalau begitu, baiklah. Aku akan terjebak di tempat ini dalam waktu yang lama, jadi aku takkan menunjukkan sikap takut kepada mereka lagi. Dulu Lissa dan aku dihormati di sekolah ini, dan sekaranglah waktunya untuk mengingatkan mereka akan hal itu. Aku melirik para novis yang menatapku dengan mulut menganga, dan mencari wajah-wajah yang kukenal. Sebagian besarnya lelaki. Salah seorang dari mereka menatapku dan aku nyaris tak sanggup menahan cengiran.

“Hei, Mason, hapus liur di wajahmu itu. Kalau kau ingin membayangkan aku telanjang, lakukan saja pada waktu pribadimu.”

Beberapa dengusan dan cekikikan memecah kesunyian yang mengerikan itu, dan Mason Ashford tersentak dari kebingungannya, lalu memberiku senyuman miring. Dengan rambut merah yang mencuat ke mana-mana dan sedikit bintik-bintik di wajah, Mason termasuk tampan, meskipun tidak bisa dibilang seksi. Dia juga salah satu laki-laki terlucu yang kukenal. Dulu kami merupakan teman baik.

“Ini adalah jamku, Hathaway. Aku memimpin sesi pelajaran hari ini.”

“Oh ya?” balasku. “Huh. Yah, kalau begitu sekarang adalah waktu yang tepat untuk membayangkanku telanjang.”

“Kapan pun selalu waktu yang tepat untuk membayangkanmu tanpa busana,” tambah seseorang yang ada di dekat sana, yang semakin menurunkan tingkat ketegangan. Eddie Castile. Temanku yang lain.

Dimitri menggelengkan kepala lalu berjalan pergi, menggumamkan sesuatu dalam bahasa Rusia yang kedengarannya bukan sebuah pujian. Dan aku … well, dalam sekejap, sudah kembali menjadi seorang novis lagi. Para novis adalah orang-orang yang santai, tidak terlalu memikirkan masalah silsilah dan politik seperti muridmurid Moroi.

Kelas ini menerimaku. Aku mendapati diriku sedang tertawa dan memandang halhal yang nyaris kulupakan. Semua orang ingin tahu ke mana kami pergi selama ini, ternyata aku dan Lissa sudah menjadi legenda di sini. Tentu saja, aku tak bisa memberitahu mereka alasan kepergian kami, jadi aku mengucapkan banyak ledekan dan kau-pasti-ingin-tahu-kan, yang cukup mampu untuk menghentikan pertanyaan mereka.

Reuni yang membahagiakan itu hanya bertahan beberapa menit sebelum akhirnya pengawal dewasa yang bertugas mengawasi latihan datang dan memarahi Mason karena sudah mengabaikan tugas. Masih nyengir, Mason meneriakkan perintahperintah pada semua orang, dan menjelaskan gerakan yang akan dipakai untuk memulai latihan. Dengan gelisah aku menyadari kalau aku tidak mengenali sebagian besar gerakannya.

“Ayolah, Hathaway,” Mason berkata sambil meraih lenganku. “Kau bisa menjadi pasangan latihanku. Kita lihat apa yang sudah kaupelajari selama ini.” Satu jam kemudian, Mason mendapatkan jawaban atas pertanyaannya tadi.

“Kau tidak pernah latihan, ya?”

“Aw,” aku mengerang, untuk sementara tidak sanggup bicara dengan normal. Mason mengulurkan tangan dan membantuku bangun dari matras tempat dia tadi menjatuhkanku―kira-kira sebanyak lima puluh kali.

“Aku membencimu,” aku berkata pada Mason sambil menggosok sebuah titik pada paha yang sudah bisa dipastikan besok akan memar.

“Kau akan lebih membenciku kalau aku tidak mengerahkan semua kekuatanku.”

“Yeah, benar,” aku menyetujui ucapannya, lalu tertatih-tatih sementara semua orang di kelas mengembalikan semua peralatan.

“Sebenarnya kau lumayan.”

“Apa? Aku baru saja dipermalukan.”

“Well, memang. Sudah dua tahun. Tapi hei, kau masih bisa berjalan. Setidaknya itu berarti sesuatu.” Mason tersenyum dengan ekspresi mengejek.

“Apa aku sudah bilang kalau aku membencimu?”

Mason menyunggingkan sebuah cengiran lagi, yang langsung berubah serius.

“Jangan salah paham … maksudku, kau memang seorang pejuang sejati, tapi kau tak mungkin bisa ikut ujian pada musim semi nanti―”

“Mereka memaksaku untuk mengambil sesi latihan tambahan,” aku menjelaskan. Bukan berarti ada pengaruhnya. Aku berencana mengeluarkan Lissa dan diriku dari sini sebelum urusan latihan ini benar-benar menjadi masalah. “Aku akan siap.”

“Sesi tambahan bersama siapa?”

“Cowok tinggi itu. Dimitri.”

Mason berhenti berjalan lalu memandangiku. “Kau dapat sesi latihan tambahan bersama Belikov?”

“Yeah. Memangnya kenapa?”

“Dia seorang dewa.”

“Kau suka melebih-lebihkan keadaan, ya?” tanyaku.

“Tidak, aku serius. Maksudku, dia memang pendiam dan biasanya tidak pernah bergaul, tapi saat bertarung … wow. Tubuhmu yang sakit sekarang ini takkan ada artinya saat dia selesai menanganimu. Mungkin kau sudah mati.”

Hebat. Semakin banyak alasan yang membuat hari-hariku ceria. Aku menyikut Mason dan melanjutkan perjalanan menuju pelajaran kedua. Kelas itu mencakup hal-hal penting mengenai seorang pengawal dan diwajibkan bagi semua murid senior. Sebenarnya, ini adalah kelas ketiga dalam rangkaian pelajaran yang dimulai pada kelas junior. Dan itu artinya aku juga tertinggal. Tapi kuharap pengalaman melindungi Lissa di dunia nyata bisa memberiku sedikit tambahan pengetahuan.

Instruktur kami adalah Stan Alto―diam-diam kami menyebutnya ‘Stan’, tapi dalam keadaan resmi kami memanggilnya ‘Garda Alto’. Stan sedikit lebih tua dari Dimitri, tapi kalah tinggi, dan wajahnya selalu terlihat kesal. Hari ini, ekspresi kesalnya tampak menjadi-jadi saat dia masuk ke kelas dan melihatku duduk di sana. Kedua matanya melebar dalam ekspresi terkejut yang terlihat mengejek. Kemudian dia berjalan mengitari ruangan dan akhirnya berdiri di samping mejaku.

“Apa ini? Tidak ada yang bilang kalau kita akan kedatangan pembicara tamu Rose Hathaway. Suatu kehormatan! Kau sangat murah hati karena mau meluangkan waktu dari jadwalmu yang padat dan berbagi pengetahuanmu bersama kami.” Aku merasakan pipiku terbakar, dan aku nyaris berteriak untuk menyuruhnya pergi ke neraka. Namun, aku cukup yakin kalau wajahku sudah menyampaikan pesan tersebut, karena cengiran di wajahnya semakin lebar. Stan mengisyaratkan agar aku berdiri.

“Well, ayo, ayolah. Jangan cuma duduk di sana! Ayo maju ke depan kelas supaya kau bisa membantuku mengajar.”

Aku merosot di kursiku. “Kau tidak sungguh-sungguh bermaksud―”

Senyuman mengejek itu sirna. “Maksudku tepat seperti yang tadi kukatakan, Hathaway. Pergi ke depan kelas.”

Kesunyian yang pekat terasa menyelimuti seluruh ruangan. Stan adalah instruktur yang menakutkan, dan sebagian novis terlalu ngeri untuk menertawakan kesialanku. Aku menolak menyerah, lalu berjalan ke depan dan berbalik hingga menghadap ke seisi kelas. Aku menatap mereka dengan berani dan mengibaskan rambut ke belakang, mendapatkan senyuman simpati dari teman-temanku. Pada saat itulah aku sadar kalau jumlah penontonku lebih banyak dari yang kuperkirakan sebelumnya. Ada beberapa pengawal―termasuk Dimitri―yang
berdiri di bagian belakang kelas. Di luar Akademi, para pengawal memusatkan diri dengan melindungi satu orang saja. Di sini, para pengawal memiliki lebih banyak orang untuk dilindungi sementara mereka juga harus melatih para novis. Jadi, daripada mengikuti seseorang ke mana-mana, mereka bekerja bergantian untuk melindungi sekolah secara keseluruhan dan mengawasi kelas-kelas.

“Jadi, Hathaway,” kata Stan dengan riang sambil menghampiriku. “Tolong jelaskan pada kami teknik melindungi yang kaugunakan.”

“Teknik … ku?”

“Tentu saja. Sepertinya kau punya rencana yang tidak kami pahami saat membawa seorang bangsawan Moroi di bawah umur keluar dari Akademi, dan membahayakannya di bawah ancaman tiada henti kaum Strigoi.”

Ini sama saja dengan ceramah Kirova tadi, hanya saja dengan tambahan lebih banyak saksi mata.

“Kami tak pernah bertemu dengan Strigoi sama sekali,” jawabku tegas.

“Sudah jelas, bukan,” kata Stan sambil terkekeh. “Aku sudah bisa menduganya, terutama setelah melihatmu masih hidup.”

Aku ingin berteriak dan mengatakan bahwa aku mungkin saja bisa mengalahkan seorang Strigoi. Tetapi setelah babak belur di kelas sebelumnya, aku curiga diriku takkan sanggup bertahan atas serangan Mason, apalagi Strigoi sungguhan.

Saat aku tidak mengatakan apa-apa, Stan mulai mondar-mandir di depan kelas.

“Kalau begitu, apa yang kaulakukan? Bagaimana kau memastikan keselamatan sang putri? Apa kalian menghindari keluar malam-malam?”

“Kadang-kadang.” Itu memang benar―terutama saat awal kami melarikan diri. Kami mulai sedikit bersantai setelah beberapa bulan berlalu tanpa serangan apa pun.

“Kadang-kadang,” ulang Stan dalam suara bernada tinggi, membuat jawabanku terdengar sangat bodoh. “Well, kurasa kalian tidur di siang hari dan terus-terusan berjaga di malam hari.”

“Err … tidak.”

“Tidak? Tapi itu hal pertama yang disebut dalam bab tentang pengawalan solo. Oh tunggu, kau tidak tahu karena kau tak ada di sini.”

Aku menelan beberapa umpatan yang nyaris keluar dari mulutku. “Aku mengawasi daerah mana pun yang kami datangi,” aku berkata, merasa harus membela diri.

“Oh? Wah, itu sebuah prestasi tersendiri. Apa kau menggunakan Metode Pengawasan Kuadran Carnegie atau Survei Rotasi?”

Aku diam.

“Ah. Kurasa kau menggunakan Metode Lirik-Ke-Sekitar-Saat-Kau-Ingat-ala- Hathaway.”

“Tidak!” aku berseru marah. “Itu tidak benar. Aku mengawasinya. Sekarang dia masih hidup, ya kan?”

Stan menghampiri lagi dan membungkukkan tubuh ke depan wajahku. “Karena kau beruntung.”

“Strigoi tidak mengintai setiap sudut yang ada di luar sana,” sahutku dengan ketus. “Keadaannya tidak seperti yang kalian ajarkan. Di sana lebih aman dari yang kalian ceritakan.”

“Lebih aman? Lebih aman? Kita sedang berperang melawan kaum Strigoi!” Stan berteriak. Dia berada sangat dekat denganku sehingga aku bisa mencium bau kopi pada napasnya. “Salah satu Strigoi bisa saja menghampirimu lalu mematahkan leher kecilmu yang indah itu tanpa kausadari―dan dia bahkan bisa melakukannya tanpa mengeluarkan keringat setetes pun. Mungkin kecepatan dan kekuatanmu melebihi seorang Moroi atau manusia, tapi kau bukan apa-apa, bukan apa-apa, jika dibandingkan dengan seorang Strigoi. Mereka itu mematikan, dan sangat kuat. Dan tahukah kau apa yang membuat mereka lebih kuat?”

Aku tidak mungkin membiarkan bajingan ini membuatku menangis. Seraya berpaling darinya, aku memusatkan pikiran pada hal lain. Mataku terpaku pada Dimitri dan pengawal lain. Mereka menyaksikan penghinaanku ini dengan wajah tanpa ekspresi.

“Darah Moroi,” bisikku.

“Apa kaubilang?” tanya Stan keras-keras. “Aku tidak mendengarnya.”

Aku memutar tubuh hingga menghadap Stan lagi. “Darah Moroi! Darah Moroi membuat mereka lebih kuat.”

Stan mengangguk dengan puas dan mundur beberapa langkah. “Ya. Benar. Darah Moroi memang membuat mereka lebih kuat dan sulit untuk dimusnahkan. Mereka akan membunuh dan minum darah manusia atau dhampir, tapi mereka menginginkan darah Moroi melebihi apa pun. Mereka mengincarnya. Mereka sudah berpaling pada kegelapan demi memperoleh kehidupan abadi, dan mereka akan melakukan apa pun untuk mempertahankan keabadian tersebut. Kaum Strigoi yang putus asa pernah menyerang Moroi di depan umum. Sekelompok Strigoi pernah mendatangi sekolah-sekolah seperti akademi ini. Ada kaum Strigoi yang sudah hidup selama ribuan tahun dan memangsa beberapa generasi Moroi. Mereka nyaris mustahil untuk dibunuh. Dan karena itulah jumlah kaum Moroi semakin sedikit. Kaum Moroi tidak cukup kuat―bahkan dengan adanya para pengawal―untuk melindungi diri mereka sendiri. Bahkan ada beberapa Moroi yang merasa tidak ada gunanya berlari lagi dan langsung menyerah pada kaum Strigoi atas pilihan mereka sendiri. Dan seiring dengan menghilangnya kaum Moroi…”

“… begitu pula dengan para dhampir,” aku menyelesaikan ucapan Stan.

“Well,” katanya sambil menjilati liur yang terciprat pada bibirnya. “Sepertinya kau memang mempelajari sesuatu. Sekarang kita harus melihat apakah kau cukup belajar untuk bisa lulus kelas ini dan memenuhi syarat untuk praktik lapangan pada semester depan.”

Ouch. Aku menghabiskan sisa kelas yang mengerikan itu―untungnya dari kursiku sendiri―dengan mengulang kata-kata terakhir tadi di dalam kepala. Praktik lapangan kelas senior merupakan bagian terbaik dari pelatihan para novis. Kami tidak ada jadwal kelas selama setengah semester. Alih-alih, kami semua akan diberi tanggung jawab mengawal dan mengikuti seorang murid Moroi ke mana pun mereka pergi. Para pengawal senior akan memantau dan menguji dengan serangan buatan serta ancaman lainnya. Penilaian bagaimana seorang novis bisa lulus praktik lapangan hampir sama pentingnya dengan gabungan seluruh nilai lain. Penilaian ini bisa memengaruhi keputusan mengenai Moroi mana yang akan ditugaskan pada si novis setelah kelulusan nanti. Sedangkan aku? Hanya ada satu Moroi yang kuinginkan.

Setelah dua pelajaran berikutnya berakhir, aku bisa melarikan diri saat istirahat makan. Saat aku tersaruk-saruk menyeberangi kampus menuju aula bersama, Dimitri langsung menyamai langkahku. Dia tidak terlihat seperti dewa―kecuali kau menganggap wajah tampannya bagaikan dewa.

“Kurasa kau melihat apa yang terjadi di kelas Stan?” aku bertanya, bahkan tidak repot-repot menyebut gelarnya.

“Ya.”

“Dan kau tidak berpikir kalau semua itu tak adil?”

“Tapi dia benar, bukan? Apa menurutmu kau sepenuhnya siap untuk melindungi Vasilisa?”

Aku menatap lantai. “Aku berhasil menjaganya tetap hidup,” gumamku.

“Bagaimana pertarunganmu dengan teman sekelasmu hari ini?” Pertanyaannya sangat kejam. Aku tidak menjawab, dan aku tahu aku tidak perlu melakukannya. Aku mengikuti kelas pelatihan lain setelah kelas Stan, dan tidak diragukan lagi kalau Dimitri sudah melihatku babak belur lagi tadi.

“Kalau kau tak bisa melawan mereka―”

“Yeah, yeah, aku tahu,” bentakku.

Dimitri memperlambat langkah-langkah panjangnya untuk mengimbangi langkah kakiku yang kesakitan.

“Kau kuat dan cepat secara alami. Kau hanya perlu rajin berlatih. Apa kau tidak mengikuti olahraga apa pun selama melarikan diri?”

“Tentu,” aku mengedikkan bahu. “Sesekali.”

“Kau tidak bergabung dalam tim apa pun?”

“Tidak ada waktu. Jika memang ingin berlatih sebanyak itu, mungkin aku akan tetap tinggal di sini.”

Dimitri menatapku dengan kesal. “Kau takkan pernah bisa melindungi sang putri sepenuhnya jika tidak mengasah bakatmu. Kau akan selalu tertinggal.”

“Aku akan sanggup melindunginya,” aku berkata tegas.

“Kau tahu tak ada jaminan bahwa kau akan ditunjuk menjadi pengawalnya, kan―baik saat praktik lapangan atau setelah kelulusan nanti.” Suara Dimitri pelan dan tanpa penyesalan. Rupanya mereka tidak memberiku mentor yang hangat dan ramah. “Tak seorang pun ingin menyia-nyiakan sebuah ikatan batin―tapi tak ada juga yang berniat memberi Vasilisa seorang pengawal kurang terampil. Kalau kau ingin bersamanya, maka kau harus mengusahakannya. Kau sudah mendapatkan pelajaranmu. Dan ada aku. Manfaatkan kami atau tidak sama sekali. Kau adalah pilihan tepat untuk mengawal Vasilisa jika kalian berdua sudah lulus―itu pun kalau kau bisa membuktikan bahwa dirimu memang pantas. Kuharap kau melakukannya.”

“Lissa, panggil dia Lissa,” ralatku. Lissa membenci nama panjangnya, dan lebih menyukai nama panggilan yang sudah di-Amerikanisasi. Dimitri berjalan pergi, dan tiba-tiba, aku tidak merasa bagai seorang anak nakal lagi. Aku sudah membuang-buang waktu sejak meninggalkan kelas. Sebagian besar murid lain sudah sejak tadi berlarian ke dalam aula bersama untuk makan, tak sabar untuk memaksimalkan kehidupan sosial mereka. Aku sendiri hampir tiba di sana saat seseorang memanggilku dari balik pintu.

“Rose?”

Aku menoleh ke sumber suara, dan melihat Victor Dashkov sedang bersandar pada tongkat berjalannya di dekat dinding. Dia tersenyum saat melihatku. Dua pengawalnya berdiri di dekatnya dalam jarak yang sopan.

“Mr. Dash―eh, Yang Mulia. Hai.”

Aku berhasil mengendalikan diri tepat pada waktunya, hampir melupakan panggilan bangsawan kaum Moroi. Aku tidak pernah menggunakannya selama tinggal di tengah-tengah manusia. Kaum Moroi memilih pemimpin mereka dari dua belas keluarga bangsawan. Orang-orang tertua di dalam keluarga mendapatkan gelar ‘pangeran’ atau ‘putri’. Lissa mendapatkan gelarnya karena dia merupakan satu-satunya yang tersisa dalam garis keturunan keluarganya.

“Bagaimana hari pertamamu?” tanyanya.

“Hari ini bahkan belum berakhir.” Aku berusaha memikirkan sesuatu yang bisa kami obrolkan. “Apa Anda hanya berkunjung sebentar?”

“Aku akan pulang sore ini setelah bertemu Natalie. Saat kudengar Vasilisa―dan kau―sudah kembali, aku tahu bahwa aku harus bertemu dengan kalian juga.” Aku mengangguk, tidak yakin harus bicara apa lagi. Victor lebih tepat dikatakan sebagai teman Lissa, bukan temanku.

“Aku ingin memberitahu…” Victor ragu. “Aku paham betapa seriusnya semua ini, tapi menurutku Kepala Sekolah Kirova melupakan sesuatu. Selama ini kau memang berhasil melindungi Vasilisa. Itu mengagumkan.”

“Well, aku bukan melawan Strigoi atau semacamnya,” jawabku.

“Tapi kau melawan sesuatu?”

“Tentu saja. Sekolah pernah mengirim psi-hound.”

“Mengagumkan.”

“Tidak juga. Menghindari makhluk-makhluk itu bisa dibilang cukup mudah.”

Victor tertawa. “Aku pernah berburu bersama mereka. Mereka tidak semudah itu untuk dihindari, tidak dengan kekuatan dan kepintaran yang mereka miliki.” Memang benar. Psi-hound merupakan salah satu dari berbagai jenis makhluk sihir yang berkeliaran di dunia ini, makhluk-makhluk yang tidak pernah diketahui keberadaannya oleh manusia. Manusia juga tidak memercayainya saat benar-benar melihatnya. Anjing-anjing pemburu itu berkeliaran dalam kelompok dan berbagi semacam komunikasi batin yang membuat mereka sangat mematikan bagi mangsanya―begitu pula dengan kenyataan bahwa anjing-anjing pemburu itu menyerupai serigala mutan. “Apa kau melawan yang lain?”

Aku mengedikkan bahu. “Kadang-kadang.”

“Mengagumkan,” ulang Victor.

“Kurasa hanya beruntung. Ternyata aku jauh tertinggal dalam hal pengawalan seperti ini.” Sekarang aku terdengar persis seperti Stan.

“Kau adalah gadis yang cerdas. Kau akan bisa menyusul pelajaran yang tertinggal. Dan kau juga memiliki ikatan dengan Vasilisa.”

Aku memalingkan wajah. Kemampuanku ‘merasakan’ Lissa sudah menjadi sebuah rahasia dalam waktu yang lama―rasanya aneh saat ada orang lain yang mengetahuinya.

“Dalam sejarah ada kisah-kisah mengenai para pengawal yang bisa merasakan saat orang yang menjadi tanggung jawab mereka berada dalam masalah,” lanjut Victor. “Aku mempelajari masalah itu serta beberapa masalah kuno lain, dan menjadikannya sebuah hobi. Kudengar ikatan itu merupakan aset yang sangat berharga.”

“Kurasa begitu.” Aku mengedikkan bahu. Hobi yang sangat membosankan, batinku, membayangkan laki-laki itu berkonsentrasi mempelajari sejarah zaman prasejarah di dalam perpustakaan lembap yang dipenuhi sarang laba-laba. Victor memiringkan kepala, wajahnya terlihat sangat penasaran. Kirova dan yang lain juga terlihat sama penasarannya saat kami memberitahu mengenai ikatan tersebut, seakan-akan kami ini kelinci percobaan.

“Bagaimana rasanya―kalau kau tak keberatan aku bertanya?”

“Rasanya … Entahlah. Aku hanya selalu merasakan semacam dengungan mengenai perasaan Lissa. Biasanya cuma berupa emosi. Kami tak bisa berkirim pesan atau semacamnya.” Aku tidak memberitahukan kalau aku pernah menyelinap ke dalam pikiran Lissa. Aku sendiri pun sulit memahaminya.

“Tapi tidak berlaku sebaliknya? Vasilisa tidak bisa merasakan apa yang kaurasakan?” Aku menggeleng.

Wajah Victor tampak berbinar kagum. “Bagaimana itu bisa terjadi?”

“Aku tidak tahu,” kataku sambil melirik ke arah lain. “Semua ini bermula sejak dua tahun silam.”

Victor mengernyit. “Kira-kira waktu yang bersamaan saat kecelakaan terjadi?”

Dengan ragu aku mengangguk. Kecelakaan itu adalah sesuatu yang tidak ingin kubicarakan, itu sudah pasti. Kenangan Lissa saja sudah cukup buruk, apalagi ditambah dengan kenanganku sendiri. Logam-logam penyok. Sensasi panas, lalu dingin, lalu panas lagi. Lissa berteriak padaku, berteriak agar aku bangun, berteriak agar orangtua dan saudara laki-lakinya bangun. Tak seorang pun dari mereka yang terbangun, hanya aku. Dan para dokter bilang kalau itu adalah keajaiban. Mereka berkata seharusnya aku tidak bisa selamat. Sepertinya Victor bisa merasakan ketidaknyamananku, sehingga dia membiarkannya mengambang dan kembali pada topik sebelumnya.

“Aku bahkan masih sulit memercayainya. Sudah sangat lama sejak kali terakhir ikatan seperti ini terjadi. Seandainya terjadi lebih sering … pikirkan manfaatnya bagi keselamatan kaum Moroi. Seandainya orang lain bisa merasakannya juga. Aku akan melakukan lebih banyak penelitian dan mencari tahu apakah hal ini bisa ditularkan pada orang lain.”

“Yeah.” Aku mulai merasa tidak sabar, meskipun sesungguhnya aku menyukai laki-laki ini. Natalie sangat senang mengoceh, dan cukup jelas dari siapa dia mewarisi kebiasaan itu. Waktu istirahat hampir habis, dan meskipun kaum Moroi serta para novis mendapatkan kelas sore yang sama, aku dan Lissa takkan punya banyak waktu untuk mengobrol.

“Mungkin kita bisa―” Victor mulai terbatuk, dengan sangat keras hingga seluruh tubuhnya gemetaran. Penyakitnya, Sindrom Sandovsky, menyerang paru-paru dan menyeret bagian tubuh lainnya menuju kematian. Aku menatap para pengawal dengan pandangan khawatir, dan salah seorang dari mereka melangkah maju.

“Yang Mulia,” laki-laki itu berkata sopan, “Anda harus masuk ke dalam. Di luar sini udaranya terlalu dingin.”

Victor mengangguk. “Ya, ya. Dan aku yakin Rose juga pasti ingin makan.” Dia memutar tubuh ke arahku. “Terima kasih sudah mau bicara denganku. Aku tak bisa menekankan betapa berartinya bagiku mengetahui bahwa Vasilisa selamat―dan kau membantu mewujudkannya. Aku sudah berjanji pada ayahnya untuk menjaga Vasilisa seandainya sesuatu terjadi pada laki-laki itu, dan aku merasa seperti seorang pecundang saat kau pergi.”

Perutku mencelos saat membayangkan Victor didera rasa bersalah dan khawatir akibat kepergian kami. Hingga saat ini, aku tidak pernah memikirkan perasaan orang lain mengenai kepergian kami.

Aku meninggalkannya dan mengucapkan selamat tinggal, lalu akhirnya tiba di dalam sekolah. Setibanya di sana, aku langsung merasakan kekhawatiran Lissa yang memuncak. Aku mengabaikan rasa sakit pada kakiku, dan mempercepat langkah menuju aula bersama. Dan hampir menabrak gadis itu.

Namun Lissa tidak melihatku. Begitu pula dengan orang-orang yang berdiri bersamanya: Aaron dan gadis boneka yang mungil itu. Aku berhenti dan mendengarkan, hanya berhasil menangkap bagian akhir pembicaraan mereka. Cewek itu mencondongkan tubuh ke arah Lissa―yang terlihat sangat kaget melebihi apa pun. “Kelihatannya itu barang bekas. Kupikir seorang Dragomir yang terhormat memiliki standar tersendiri.” Kata Dragomir diucapkannya dengan nada mengejek.

Aku merenggut pundak si Gadis Boneka, lalu menyentakkan tubuhnya. Tubuh cewek itu sangat ringan, sehingga dia terhuyung-huyung sejauh beberapa meter dan nyaris terjatuh.

“Dia memang punya standar,” aku berkata, “karena itulah waktumu untuk bicara dengannya sudah selesai.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s