Vampire Academy #1

Vampire Academy – Chapter 16

KEESOKAN HARINYA, AKU SEPENUHNYA menyadari betapa berbedanya keadaan di sekolah sejak gosip Jesse-dan-Ralf. Bagi sebagian orang, aku tetaplah sumber bisik-bisik dan tawa. Berkat usaha Lissa, aku menerima sikap bersahabat dan terkadang pembelaan. Secara keseluruhan, aku menyadari kalau teman sekelas kami sudah tidak terlalu memperhatikanku lagi. Terutama saat ada hal baru yang mengalihkan perhatian semua orang.

Lissa dan Aaron.

Ternyata, Mia akhirnya tahu soal pesta di kamar Lissa dan dia marah saat mengetahui bahwa Aaron datang tanpa dirinya. Mia memarahi Aaron dan berkata padanya jika cowok itu memang ingin tetap menjadi kekasihnya, maka Aaron tidak boleh menemui dan menghabiskan waktu bersama Lissa. Jadi, Aaron memutuskan bahwa dirinya tidak ingin menjadi kekasih Mia lagi. Aaron memutuskan Mia pagi itu juga … dan melanjutkan hidupnya.

Sekarang Aaron dan Lissa tak terpisahkan. Mereka berdiri berdampingan di tengah selasar dan saat istirahat makan, dengan lengan yang saling merangkul satu sama lain, seraya tertawa-tawa dan mengobrol. Perasaan yang terpancar melalui ikatan batin menunjukkan bahwa Lissa hanya sedikit tertarik pada Aaron, meskipun tatapan matanya seolah mengatakan kalau Aaron adalah makhluk paling menarik yang ada di planet ini. Sebagian besar sikapnya merupakan sebuah pertunjukan―tanpa sepengetahuan Aaron tentunya. Cowok itu terlihat seakanakan sanggup membangun sebuah kuil di bawah kaki Lissa kapan pun juga.

Sedangkan aku? Aku merasa mual.

Namun, perasaanku sama sekali tak ada artinya jika dibandingkan perasaan Mia. Saat istirahat makan, cewek itu duduk di seberang ruangan yang jauh dari kami, kedua matanya terpaku ke depan, sepenuhnya mengabaikan penghiburan temantemannya.

Ada bintik-bintik kemerahan pada pipi bulatnya yang pucat, dan tepian kedua matanya terlihat memerah. Mia tidak mengucapkan kata-kata kejam saat aku lewat di depannya. Tidak ada lelucon angkuh. Tidak ada tatapan mengejek.

Lissa sudah menghancurkannya, seperti Mia dulu pernah bersumpah untuk menghancurkan kami.

Satu-satunya orang yang lebih menderita dari Mia adalah Christian. Tidak seperti Mia, Christian sama sekali tidak ragu memandangi pasangan yang berbahagia itu dengan penuh kebencian. Seperti biasa, tak ada yang menyadari hal itu―selain aku, tentunya.

Setelah melihat Lissa dan Aaron bermesraan untuk kesepuluh kalinya, aku meninggalkan istirahat makan lebih cepat dan pergi menemui Ms. Carmack, guru yang mengajar dasar-dasar elemental. Sudah sejak lama aku ingin menanyakan sesuatu padanya.

“Rose, ya kan?” Ms. Carmack terlihat kaget saat melihatku, tapi tidak marah maupun kesal seperti sebagian besar guru lainnya akhir-akhir ini.

“Yeah. Aku punya pertanyaan mengenai, em, sihir.”

Ms. Carmack mengangkat sebelah alisnya. Novis tidak mengambil kelas sihir.

“Tentu. Apa yang ingin kautanyakan?”

“Aku sedang mendengarkan ceramah pendeta mengenai St. Vladimir beberapa hari yang lalu …. Apa kau tahu elemen apa yang menjadi spesialisasinya? Maksudku Vladimir. Bukan pendeta.”

Ms. Carmack mengerutkan kening. “Aneh. Meskipun dia sangat terkenal di sini, aku heran hal itu tak pernah disebut-sebut. Aku bukan ahlinya, tapi dalam semua kisah yang pernah kudengar, Vladimir tidak pernah melakukan sesuatu yang bisa kubilang berhubungan dengan salah satu elemen. Entah memang begitu kenyataannya, entah tidak pernah ada orang yang menulis soal itu.”

“Bagaimana dengan kemampuan menyembuhkan yang dimilikinya?” aku bertanya lebih lanjut. “Apa ada elemen tertentu yang menyebabkan seseorang bisa melakukan keahlian itu?”

“Tidak, setahuku tidak ada.” Bibir Ms. Carmack mengembang menjadi senyuman tipis. “Orang-orang yang beriman akan mengatakan bahwa Vladimir menyembuhkan dengan kekuatan yang diberikan Tuhan, bukan sihir elemental jenis apa pun. Lagi pula, satu-satunya hal yang diyakini dalam semua kisah adalah Vladimir orang yang ‘memiliki roh yang kaya’.”

“Mungkinkah dia tidak memiliki spesialisasi apa pun?”

Senyum Ms. Carmack memudar. “Rose, apa ini benar-benar mengenai St. Vladimir? Atau mengenai Lissa?”

“T-tidak juga…” Aku tergagap.

“Aku tahu semua ini sulit untuknya―terutama di depan teman-teman sekelasnya―tapi dia harus bersabar,” Ms. Carmack menjelaskan dengan lembut.

“Itu akan terjadi. Itu selalu terjadi.”

“Tapi kadang tidak.”

“Langka. Tapi menurutku Lissa takkan menjadi salah satu dari mereka. Dia memiliki kemampuan di atas rata-rata dalam keempat elemen, meskipun belum mencapai tingkat spesialisasi. Salah satu dari elemen itu akan menonjol secepatnya.”

Ucapannya memberiku sebuah ide. “Mungkinkah seseorang memiliki spesialisasi lebih dari satu elemen?”

Ms. Carmack tertawa dan menggelengkan kepala. “Tidak. Terlalu banyak energi yang dibutuhkan. Tidak seorang pun mampu menangani sihir sebanyak itu, tidak mungkin terjadi tanpa kehilangan akal sehatnya.”

Oh. Hebat sekali.

“Oke. Trims.” Aku baru saja hendak pergi, tapi kemudian teringat sesuatu. “Hei, apa Anda ingat Ms. Karp? Dia memiliki spesialisasi dalam elemen apa?”

Wajah Ms. Carmack memperlihatkan ekspresi tidak nyaman yang selalu ditunjukkan semua guru kapan pun ada seseorang yang menyebut-nyebut nama Ms. Karp.

“Sebenarnya―”

“Apa?”

“Aku hampir lupa. Kurasa dia adalah salah satu orang langka yang tidak memiliki spesialisasi. Dia selalu memiliki kemampuan yang kurang dalam keempat elemen.”

Aku menghabiskan sisa kelas sore dengan memikirkan ucapan Ms. Carmack, berusaha untuk menghubungkannya dengan teori Lissa-Karp-Vladimir yang sudah kugabungkan. Aku juga mengamati Lissa. Sekarang ada begitu banyak orang yang ingin bicara dengannya hingga dia sama sekali tidak menyadari sikap diamku. Namun, sering kali aku melihatnya melirik ke arahku dan tersenyum, kedua matanya menyorotkan rasa lelah. Tertawa-tawa dan bergosip bersama orang yang tidak benar-benar disukainya sangat menguras energi.

“Misi sudah tercapai,” aku berkata pada Lissa sepulang sekolah. “Kita bisa menghentikan Proyek Cuci Otak.”

Kami sedang duduk di bangku taman, dan Lissa mengayun-ayunkan kakinya.

“Apa maksudmu?”

“Kau sudah berhasil. Kau sudah menghentikan orang-orang yang ingin membuat hidupku sengsara. Kau sudah menghancurkan Mia. Kau mencuri Aaron. Bermainmainlah dengan Aaron selama beberapa minggu lagi, lalu putuskan dia dan para bangsawan lainnya. Kau akan jauh lebih bahagia.”

“Apa menurutmu sekarang aku tidak bahagia?”

“Aku tahu kau tidak bahagia. Beberapa pesta yang kaudatangi memang menyenangkan, tapi kau benci harus pura-pura berteman dengan orang-orang yang tidak kausukai―apalagi kau tidak menyukai sebagian besar dari mereka. Aku tahu betapa marahnya kau pada Xander kemarin malam.”

“Dia brengsek, tapi aku bisa menghadapinya. Kalau aku tidak bergaul dengan mereka lagi, semuanya akan kembali seperti dulu lagi. Mia akan mulai berulah. Dengan begini, dia tak bisa mengganggu kita.”

“Itu justru membebanimu.”

“Tidak ada yang membebaniku.” Lissa terdengar agak defensif.

“Benarkah?” tanyaku kejam. “Karena kau mabuk kepayang dengan Aaron? Karena kau sudah tak sabar ingin bercinta dengannya lagi?”

Lissa memelototiku. “Apa aku sudah pernah bilang kalau kadang-kadang kau bisa sangat menyebalkan?”

Aku mengabaikannya. “Aku cuma berusaha bilang, tanpa semua ini pun kau punya banyak masalah untuk dikhawatirkan. Kau menyiksa dirimu sendiri dengan kompulsi yang terus-terusan kaugunakan.”

“Rose!” Lissa melirik ke sekelilingnya dengan cemas. “Jangan keras-keras!”

“Tapi itu memang benar. Menggunakannya setiap saat akan mengacaukan kepalamu. Dalam arti sesungguhnya.”

“Apa menurutmu kau tidak berlebihan?”

“Bagaimana dengan Ms. Karp?”

Ekspresi pada wajah Lissa berubah menjadi sangat kaku. “Memangnya ada apa dengannya?”

“Kau. Kau sama persis dengannya.”

“Tidak. Aku tidak sama dengannya!” Amarah tepercik pada mata hijau itu.

“Dia bisa menyembuhkan juga.”

Lissa terpana saat mendengarku membicarakan hal ini. Topik ini sudah membebani kami sejak lama, tapi kami nyaris tidak pernah membicarakannya.

“Itu tidak berarti apa-apa.”

“Menurutmu begitu? Apa kau kenal orang lain yang bisa melakukannya? Atau seseorang yang bisa menggunakan kompulsi pada dhampir dan Moroi?”

“Dia tidak pernah menggunakan kompulsi seperti itu,” bantah Lissa.

“Dia melakukannya. Ms. Karp berusaha melakukannya padaku pada malam

kepergiannya. Kekuatan itu mulai bekerja, tapi kemudian mereka membawanya pergi sebelum dia sempat menyelesaikannya.” Benarkah begitu? Lagi pula, hanya satu bulan setelah itu aku dan Lissa melarikan diri dari Akademi. Aku selalu berpikir kalau itu adalah ideku, tapi mungkin pengaruh Ms. Karp-lah yang menjadi pendorong sesungguhnya di balik semua itu.

Lissa menyilangkan kedua lengan. Wajahnya terlihat pantang menyerah, tapi emosinya terasa gelisah. “Baik. Terus kenapa? Jadi dia orang aneh sepertiku. Itu tak berarti apa-apa. Dia menjadi gila karena … well, memang begitulah orangnya. Hal itu tak ada sangkut pautnya dengan yang lain.”

“Tapi bukan hanya Ms. Karp,” aku berkata perlahan. “Ada orang lain yang juga seperti kalian. Seseorang yang baru kupelajari.” Aku ragu-ragu. “Kau tahu St. Vladimir…”

Dan pada saat itulah akhirnya aku menceritakan semuanya pada Lissa; bagaimana dirinya, Ms. Karp, dan St. Vladimir bisa menyembuhkan dan menggunakan superkompulsi.

Meskipun hal itu membuat Lissa gemetaran, aku juga memberitahu bagaimana mereka semua mudah gelisah dan pernah berusaha menyakiti diri mereka sendiri.

“Vladimir pernah berusaha bunuh diri,” kataku tanpa menatap mata Lissa. “Dan aku pernah melihat bekas luka pada kulit Ms. Karp―seakan-akan dia sudah mencakari wajahnya sendiri. Dia berusaha menyembunyikannya dengan rambut, tapi aku bisa melihat bekas luka yang sudah lama, dan bisa membedakan saat dia memiliki bekas luka yang baru.”

“Itu tidak berarti apa-apa,” Lissa berkeras. “Itu―itu semua cuma kebetulan.”

Lissa terdengar ingin memercayai hal itu, tapi di dalam hatinya, sebagian dirinya memang memercayainya. Namun, ada bagian diri yang lain, bagian dirinya yang putus asa yang sudah sejak lama ingin merasa yakin bahwa dirinya bukanlah orang aneh, bahwa dia tidak sendirian. Bahkan jika beritanya buruk sekalipun, setidaknya sekarang Lissa tahu kalau ada orang lain yang sama seperti dirinya.

“Apakah hanya kebetulan jika mereka berdua sepertinya tidak memiliki spesialisasi?”

Aku menceritakan pembicaraanku dengan Ms. Carmack dan menjelaskan teoriku mengenai spesialisasi dalam keempat elemen sekaligus. Aku juga mengulangi komentar Ms. Carmack yang mengatakan kalau hal itu akan menguras energi seseorang.

Lissa menggosok kedua matanya saat aku selesai menceritakan semuanya, sehingga rias wajahnya sedikit luntur. Lissa tersenyum lemah. “Aku tidak tahu mana yang lebih gila; informasi yang kauceritakan atau kenyataan bahwa kau sungguh-sungguh membaca sesuatu untuk mencari tahu semua ini.”

Aku nyengir, lega karena Lissa masih sanggup bercanda. “Hei, aku juga tahu cara membaca.”

“Aku tahu kau tahu caranya. Aku juga tahu kau butuh satu tahun untuk membaca The Da Vinci Code.” Lissa tertawa.

“Itu bukan salahku! Dan jangan coba-coba mengubah topik pembicaraan.”

“Aku tidak berusaha mengubah topik pembicaraan.” Lissa tersenyum, lalu menghela napas. “Aku hanya tidak mengerti harus berpikir bagaimana mengenai semua ini.”

“Tak ada yang perlu dipikirkan. Kau cuma harus menghindari hal-hal yang membuatmu kesal. Ingat mengenai berbaur tanpa menarik perhatian? Lakukan itu lagi. Hal itu jauh lebih mudah untuk kaulakukan.”

Lissa menggeleng. “Aku tak bisa melakukannya. Tidak sekarang.”

“Kenapa tidak? Aku sudah bilang padamu―” aku berhenti, merasa heran mengapa aku tidak menyadarinya sebelum ini. “Ini bukan hanya karena Mia. Kau melakukan semua ini karena kau merasa sudah seharusnya melakukannya. Kau masih berusaha menjadi Andre.”

“Orangtuaku pasti ingin aku―”

“Orangtuamu pasti ingin kau bahagia.”

“Tidak semudah itu, Rose. Aku tak bisa mengabaikan orang-orang ini untuk selamanya. Aku juga seorang bangsawan.”

“Sebagian besar bangsawan menyebalkan.”

“Dan sebagian besar dari mereka akan membantu memerintah kaum Moroi. Andre memahami hal itu. Dia tidak seperti yang lain, tapi dia melakukan apa yang harus dilakukannya karena dia tahu betapa pentingnya orang-orang itu.”

Aku bersandar pada bangku. “Well, mungkin itulah masalahnya. Kita memutuskan siapa yang ‘penting’ berdasarkan pertimbangan keluarga saja, jadi pada akhirnya kita terpaksa menerima orang-orang kacau untuk membuat keputusan. Karena itulah jumlah kaum Moroi terus menurun dan perempuan jalang seperti Tatiana bisa menjadi ratu. Mungkin perlu ada sistem kebangsawanan yang baru.”

“Ayolah, Rose. Memang beginilah adanya; keadaannya sudah seperti itu sejak berabad-abad yang lalu. Kita terpaksa menerimanya.” Aku memelototi Lissa.

“Oke, bagaimana kalau begini?” lanjut Lissa. “Kau cemas aku akan menjadi seperti mereka―seperti Ms. Karp dan St. Vladimir―ya kan?Well, Ms. Karp bilang aku tak boleh menggunakan kekuatanku, karena akan membuat keadaannya semakin buruk. Bagaimana kalau aku berhenti saja? Kompulsi, menyembuhkan, dan semua kekuatan lainnya.”

Aku memicingkan mata. “Kau sanggup melakukannya?” Selain kompulsi yang kadang membantu, memang itulah yang selalu kuinginkan dari Lissa. Depresi yang dialami sahabatku dimulai pada saat bersamaan dengan munculnya kekuatan-kekuatan itu, tepat setelah kecelakaan terjadi. Mau tidak mau aku jadi percaya kalau hal-hal tersebut berhubungan, terutama dengan adanya bukti-bukti dan peringatan dari Ms. Karp.

“Ya.”

Wajah Lissa benar-benar terlihat tenang, ekspresinya serius dan mantap. Dengan rambut pirang pucatnya yang dijalin dalam kepang Prancis rapi dan sebuah blazer yang dipakai di atas gaunnya, Lissa kelihatan sanggup mengambil alih posisi keluarganya di dalam dewan saat ini juga.

“Kau harus mengorbankan semuanya,” aku memperingatkan. “Tidak boleh menyembuhkan, tak peduli seberapa lucu dan menggemaskannya binatang itu. Dan tidak boleh memakai kompulsi lagi untuk memesona para bangsawan.”

Lissa mengangguk dengan serius. “Aku bisa melakukannya. Apa itu membuatmu merasa lebih baik?”

“Yeah, tapi aku akan merasa jauh lebih baik lagi jika kau benar-benar berhenti melakukan sihir dankembali bergaul dengan Natalie.”

“Aku tahu, aku tahu. Tapi aku tak bisa berhenti, setidaknya tidak sekarang.” Aku tidak bisa mengubah pendapatnya mengenai hal itu―belum―tapi mengetahui bahwa Lissa akan menghindari penggunaan kekuatannya sudah membuatku lega.

“Baiklah,” kataku sambil mengambil ransel. Aku terlambat untuk latihan. Lagi.

“Kau bisa tetap bermain dengan para bocah manja, selama kau tetap mengendalikan ‘hal lain.’” Aku ragu-ragu. “Dan kau tahu ‘kan, kau benar-benar sudah menegaskan maksudmu pada Aaron dan Mia. Kau tidak perlu mempertahankan Aaron untuk berada di sampingmu agar bisa tetap bergaul dengan para bangsawan.”

“Kenapa aku terus-terusan merasa sepertinya kau tidak menyukainya lagi?”

“Aku lumayan menyukainya―yang bisa dibilang sama seperti yang kaurasakan padanya. Dan menurutku kau tidak perlu bermesraan dengan orang yang kau suka sampai taraf ‘lumayan’.”

Lissa membelalakkan mata, pura-pura kaget. “Apa ini Rose Hathaway yang sedang bicara? Apa kau sudah berubah? Atau kau sudah punya seseorang yang kausukai ‘lebih dari taraf lumayan’?”

“Hei,” aku berkata dengan gelisah, “Aku hanya berusaha untuk menjagamu. Selain itu, sebelumnya aku tidak pernah menyadari betapa membosankannya Aaron.”

Lissa mendengus. “Menurutmu semua orang membosankan.”

“Christian tidak.”

Kata-kata itu meluncur sebelum aku bisa menghentikannya. Senyum Lissa menghilang. “Diabajingan. Dia tiba-tiba tak mau bicara padaku lagi tanpa alasan jelas.” Lissa menyilangkan kedua lengannya. “Dan bukankah kau membencinya?”

“Aku masih bisa membencinya dan menganggapnya menarik pada saat bersamaan.”

Namun, aku juga mulai berpikir kalau aku mungkin sudah membuat kesalahan mengenai cowok itu. Dia memang menakutkan, kelam, dan senang membakar orang lain. Tapi selain itu, Christian juga pintar dan lucu―dengan cara yang agak nyentrik―dan entah bagaimana sanggup menenangkan Lissa.

Tapi aku sudah mengacaukan segalanya. Aku membiarkan amarah dan rasa iri menguasaiku sehingga akhirnya mereka berpisah. Jika aku membiarkan Christian menghampiri Lissa di taman malam itu, mungkin Lissa takkan terlalu sedih hingga mengiris pergelangan tangannya sendiri. Mungkin sekarang mereka sudah bersatu, dan terhindar dari politik sekolah.

Takdir pasti berpikiran sama sepertiku, karena lima menit setelah aku meninggalkan Lissa, aku berpapasan dengan Christian yang sedang melintasi alun-alun. Mata kami berserobok sejenak. Aku nyaris terus berjalan. Nyaris.

Seraya menghela napas dalam, aku berhenti.

“Tunggu … Christian.” Aku memanggilnya. Sial, aku benar-benar terlambat untuk latihan. Dimitri pasti akan membunuhku. Christian berbalik hingga menghadap ke arahku, kedua tangannya dimasukkan ke saku mantel panjangnya yang berwarna hitam, bahunya merosot dan terlihat cuek.

“Yeah?”

“Terima kasih untuk buku-bukunya.”

Christian diam saja.

“Buku-buku yang kauberikan pada Mason.”

“Oh, kupikir kau membicarakan buku yang lain.”

Dasar sok. “Apa kau takkan bertanya untuk apa buku-buku itu?”

“Itu urusanmu. Aku hanya menduga kau merasa bosan karena sedang dihukum.”

“Aku harus merasa sangat bosan untuk bisa melakukan hal itu.”

Christian tidak tertawa mendengar leluconku. “Apa yang kauinginkan, Rose? Ada beberapa tempat yang harus kudatangi.”

Aku tahu dia bohong, tapi sepertinya sikap sinisku tidak selucu biasanya. “Aku ingin kau, uh, menghabiskan waktu dengan Lissa lagi.”

“Apa kau serius?” Christian mengamatiku dengan saksama, wajahnya terlihat sangat curiga. “Setelah semua yang kaukatakan padaku?”

“Yeah … Apa Mason tidak menyampaikannya padamu…?”

Christian mencibir. “Dia mengatakan sesuatu.”

“Dan?”

“Dan aku tak mau mendengarnya dari Mason.” Cibirannya semakin lebar saat aku memelototinya. “Kau mengirimnya untuk meminta maaf untukmu. Bersikaplah seperti seorang pemberani dan lakukan sendiri.”

“Dasar bajingan,” kataku.

“Yeah. Dan kau seorang pembohong. Aku ingin melihatmu menelan harga dirimu sendiri.”

“Aku sudah menelan harga diriku selama dua minggu ini,” aku mengerang.

Christian mengedikkan bahu, lalu berbalik dan mulai berjalan pergi.

“Tunggu!” aku memanggilnya, meletakkan tanganku di pundaknya. Christian berhenti berjalan dan berbalik menghadapku lagi. “Baiklah, baiklah. Aku berbohong mengenai perasaan Lissa padamu. Dia tak pernah mengatakan semua itu, oke? Lissa menyukaimu. Aku mengada-ada semua itu karena aku tidak menyukaimu.”

“Dan sekarang kau mau agar aku bicara padanya.”

Saat kata-kata berikutnya meluncur keluar dari mulutku, aku nyaris tidak bisa memercayainya. “Kurasa … kau mungkin … baik untuknya.”

Kami berdua saling pandang selama beberapa saat yang tegang. Cibiran pada wajah Christian agak berkurang. Tidak banyak yang bisa membuat Christian terkejut. Namun ucapanku barusan sepertinya berhasil membuatnya terkejut.

“Maafkan aku. Aku tidak mendengarmu dengan baik. Kau bisa mengulanginya?” akhirnya Christian bertanya.

Aku nyaris meninju wajahnya. “Sudahlah, berhenti bersikap menyebalkan seperti itu! Aku mau kau menghabiskan waktu bersama Lissa lagi.”

“Tidak.”

“Dengar, aku sudah bilang padamu, aku berbohong―”

“Bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah dia. Apa menurutmu sekarang aku bisa bicara dengannya? Sekarang dia sudah menjadi Putri Lissa lagi.” Racun seakan-akan menetes dari setiap patah kata yang diucapkan Christian. “Aku tak bisa mendekatinya, tidak saat dia dikelilingi para bangsawan itu.”

“Kau juga bangsawan,” aku berkata, lebih pada diriku sendiri ketimbang pada Christian. Aku sering kali melupakan kenyataan bahwa keluarga Ozera termasuk dalam dua belas keluarga bangsawan.

“Tidak ada artinya bagi keluarga yang terdiri atas Strigoi, ya kan?”

“Tapi kau bukan―tunggu. Karena itulah dia merasa cocok denganmu,” aku tiba tiba menyadari.

“Karena aku akan menjadi Strigoi?” tanya Christian sinis.

“Bukan … karena kau juga kehilangan orangtuamu. Kalian berdua melihat orang tua kalian meninggal.”

“Lissa melihat orangtuanya meninggal. Aku melihat orangtuaku dibunuh.”

Aku tersentak. “Aku tahu. Maafkan aku, itu pasti sangat … well, aku tidak tahu bagaimana rasanya mengalami semua itu.”

Kedua mata biru jernih Christian terlihat tidak fokus. “Rasanya seperti melihat satu pasukan Kematian menerobos masuk ke dalam rumahku.”

“Apa maksudmu … orangtuamu?”

Christian menggeleng. “Para pengawal yang datang untuk membunuh orangtuaku. Maksudku, yeah, orangtuaku memang mengerikan, tapi bagiku mereka masih kelihatan seperti orangtuaku―hanya saja agak lebih pucat. Mata mereka sedikit kemerahan. Tapi mereka masih berjalan dan berbicara dengan cara yang sama. Aku tidak menyadari ada yang aneh pada diri mereka, tapi bibiku menyadarinya. Dia sedang mengasuhku saat mereka datang mencariku.”

“Mereka berniat untuk mengubahmu juga?” Aku lupa pada misi awalku berada di sini karena terlalu hanyut dalam cerita Christian. “Saat itu kau masih sangat kecil.”

“Kurasa mereka berniat untuk mengurusku sampai lebih besar, lalu mengubahku. Bibi Tasha tidak membiarkan mereka mengambilku. Mereka berusaha untuk membujuk bibiku, mengubahnya juga, dan saat dia tidak mau mendengar permintaan mereka, mereka mencoba untuk membawanya dengan paksa. Bibi Tasha melawan―keadaan sangat kacau―kemudian para pengawal datang.” Mata Christian kembali tertuju padaku. Dia tersenyum, tapi tidak ada kebahagiaan dalam senyum itu. “Seperti yang kubilang tadi, satu pasukan Kematian. Menurutku kau sudah gila, Rose, tapi jika kau akhirnya berubah menjadi seperti mereka, kau akan menjadi sangat berbahaya. Bahkan aku pun takkan berani macam-macam denganmu.”

Aku merasa sangat buruk. Hidup Christian menyedihkan, dan aku sudah mengambil satu dari sedikit hal indah dalam hidupnya. “Christian, aku menyesal sudah merusak hubunganmu dengan Lissa. Perbuatanku itu sangat bodoh. Lissa ingin bersamamu. Kurasa sekarang pun dia masih menginginkannya. Kalau saja kau mau―”

“Sudah kukatakan, aku tak bisa.”

“Aku mengkhawatirkan Lissa. Dia menjerumuskan diri bersama para bangsawan karena menurutnya hal itu bisa membalaskan dendamnya pada Mia―dia melakukannya untukku.”

“Dan kau tidak merasa bersyukur karenanya?” Sarkasme Christian sudah kembali. “Aku cemas. Lissa tidak akan sanggup menghadapi semua permainan politik yang licik ini. Semua itu tidak baik untuknya, tapi dia tak mau mendengarku. Aku butuh … aku butuh bantuan.”

“Lissa yang butuh bantuan. Hei, jangan kelihatan kaget seperti itu―aku tahu ada sesuatu yang aneh padanya. Dan aku bahkan tidak sedang membicarakan masalah pergelangan tangannya.”

Aku terlonjak. “Apa Lissa memberitahumu soal itu…?” Kenapa tidak? Lissa memberitahu Christian mengenai hal lainnya.

“Dia tak perlu melakukannya,” kata Christian. “Aku punya mata.” Wajahku pasti terlihat sangat menyedihkan, karena Christian menghela napas dan menyapukan tangan pada rambutnya. “Dengar, kalau aku melihat Lissa sedang sendirian …. Aku akan mencoba bicara padanya. Tapi sungguh … kalau kau memang ingin menolong Lissa … well, aku tahu aku sendiri seharusnya bersikap anti pemerintah, tapi kau akan mendapat bantuan yang lebih baik jika meminta bantuan dari orang lain. Kirova. Laki-laki pengawalmu. Entahlah. Seseorang yang mengerti. Seseorang yang kaupercaya.”

“Lissa takkan mau.” Aku mempertimbangkannya. “Begitu pula denganku.”

“Yeah, well, kita semua harus melakukan hal-hal yang tidak kita inginkan. Begitulah hidup.”

Tombol sinisku langsung menyala. “Memangnya kau siapa, seorang ahli mengenai kehidupan di luar sekolah?”

Senyuman samar terlintas pada wajah Christian. “Kalau kau tidak terlalu gila, kau orang yang menyenangkan untuk diajak bergaul.”

“Lucu, aku juga merasakan hal yang sama mengenai dirimu.”

Christian tidak mengatakan apa-apa lagi, tapi cengirannya bertambah lebar, dan dia pun berjalan pergi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s