Vampire Academy #1

Vampire Academy – Chapter 18

AKU TERBANGUN DENGAN MEMANDANGI langit-langit klinik yang berwarna putih dan membosankan. Seberkas cahaya temaram―disesuaikan untuk pasien Moroi―menyinari tubuhku. Aku merasa aneh, agak bingung, tapi tidak kesakitan.

“Rose.”

Suara itu terdengar bagaikan sutra di kulitku. Lembut. Terdengar menyenangkan. Saat memalingkan kepala, aku mendapati kedua mata Dimitri yang berwarna gelap. Dia sedang duduk di samping tempat tidurku, rambut cokelatnya yang sepanjang bahu menggantung ke depan dan membingkai wajahnya.

“Hei,” aku berkata, suaraku terdengar sangat serak.

“Bagaimana perasaanmu?”

“Aneh. Sedikit kaku.”

“Dr. Olendzki memberimu sesuatu untuk mengatasi rasa sakitnya―kau kelihatan cukup parah saat kami membawamu ke sini.”

“Aku tidak ingat…. Berapa lama aku pingsan?”

“Beberapa jam.”

“Obatnya pasti ampuh sekali. Pasti masih ampuh sampai sekarang.” Beberapa detail kejadian mulai kuingat. Bangku kayu. Pergelangan kakiku yang tersangkut.

Aku tidak ingat banyak setelah kejadian itu. Merasa kepanasan lalu kedinginan, lalu kepanasan lagi. Ragu-ragu, aku berusaha untuk menggerakkan jempol kakiku yang sehat. “Aku tidak merasa sakit sama sekali.”

Dimitri menggeleng. “Tidak. Karena kau tidak terluka parah.”

Suara pergelangan kakiku yang patah mulai kuingat lagi. “Apa kau yakin? Aku ingat … bagaimana pergelangan kakiku tertekuk. Tidak. Pasti ada sesuatu yang patah.” Aku berhasil duduk, jadi aku bisa melihat pergelangan kakiku. “Atau setidaknya terkilir.”

Dimitri maju untuk menghentikan aku. “Hati-hati. Pergelangan kakimu mungkin baik-baik saja, tapi kau belum sepenuhnya pulih.”

Aku bergeser dengan hati-hati ke pinggir tempat tidur dan menunduk. Celana jinsku digulung ke atas. Pergelangan kakiku terlihat sedikit memerah, tapi tidak ada lebam maupun bekas luka yang terlihat mengkhawatirkan.

“Ya Tuhan, aku beruntung. Kalau aku terluka, hal itu akan membuatku berhenti latihan sementara waktu.”

Dimitri tersenyum, dan kembali ke kursinya. “Aku tahu. Kau terus-terusan mengatakan hal itu saat aku membopongmu. Hal itu membuatmu sangat kesal.”

“Kau … kau membopongku kemari?”

“Setelah kami membelah bangku kayu itu dan membebaskan kakimu.”

Ya ampun. Aku ketinggalan banyak hal. Satu-satunya hal yang lebih hebat daripada membayangkan Dimitri membopongku adalah membayangkan Dimitri bertelanjang dada saat sedang membopongku.

Kemudian aku menyadari kenyataan dari situasi yang kualami ini.

“Aku dikalahkan bangku kayu,” erangku.

“Apa?”

“Aku berhasil melewati sehari penuh mengawal Lissa, dan kalian bilang aku melakukannya dengan baik. Lalu, aku kembali ke Akademi dan menerima kekalahanku dalam bentuk sebuah bangku kayu.” Ugh. “Apa kau tahu betapa memalukannya itu? Dan kalian semua melihatnya juga.”

“Itu bukan salahmu,” kata Dimitri. “Tak ada yang tahu kalau bangku kayunya sudah lapuk. Awalnya kelihatan baik-baik saja.”

“Tapi seharusnya aku tetap berjalan di trotoar seperti orang normal. Para novis lain pasti akan meledek habis-habisan saat aku kembali.”

Dimitri menahan senyuman. “Mungkin hadiah-hadiah bisa membuatmu ceria.”

Aku duduk lebih tegak. “Hadiah-hadiah?”

Senyum Dimitri menghilang, dan dia menyerahkan sebuah kotak kecil yang disertai selembar kertas.

“Ini dari Pangeran Victor.”

Aku terkejut karena tidak menduga Victor akan memberiku sesuatu, lalu membaca pesannya. Pesannya hanya terdiri dari beberapa kalimat yang ditulis dengan terburu-buru.

Rose―

Aku senang kau tidak menderita luka serius apa pun akibat jatuh yang kaualami. Sesungguhnya, itu adalah keajaiban. Kau menjalani hidup yang diberkahi, dan Vasilisa beruntung memilikimu.

“Dia baik sekali,” kataku sambil membuka kotak tersebut, dan melihat apa isinya.

“Whoa. Baik sekali.”

Isinya adalah kalung mawar yang ingin Lissa belikan untukku tapi tak sanggup dibelinya. Aku mengangkatnya, melingkarkan rantainya pada tanganku sehingga liontin mawar yang bertatahkan berlian berkilau itu menggantung dengan leluasa.

“Kalung ini sangat berlebihan untuk hadiah yang dimaksudkan sebagai ucapan lekas sembuh,” pikirku saat mengingat harganya.

“Sebenarnya dia membeli kalung itu untuk menghargai hari pertamamu sebagai pengawal resmi yang sudah kaujalani dengan sangat baik. Dia melihatmu dan Lissa sedang memandangi kalung itu.”

“Wow.” Hanya itu yang sanggup kukatakan. “Aku tidak menganggap diriku melakukan tugas sebaik itu.”

“Aku beranggapan begitu.”

Aku nyengir, dan meletakkan kembali kalungnya ke dalam kotak, lalu meletakkannya di meja yang ada di dekatku. “Tadi kau bilang ‘hadiah-hadiah,’ ya kan? Maksudmu lebih dari satu?”

Dimitri tertawa―suaranya langsung membungkus tubuhku bagaikan belaian. Ya Tuhan, aku sangat menyukai suara tawa Dimitri.

“Ini hadiah dariku.”

Dimitri menyerahkan sebuah tas kecil polos. Aku merasa bingung dan penasaran, lalu membukanya. Lip gloss, jenis yang kusukai. Aku sering mengeluh pada Dimitri bahwa aku kehabisan lip gloss, tapi aku tidak menduga dia memperhatikannya.

“Bagaimana kau bisa membelinya? Aku selalu melihatmu selama berada di mall.”

“Rahasia pengawal.”

“Untuk apa hadiah ini? Untuk merayakan hari pertamaku?”

“Tidak,” kata Dimitri dengan ringan. “Karena kupikir hadiah ini akan membuatmu senang.”

Tanpa memikirkannya sedikit pun, aku mencondongkan tubuh dan memeluk Dimitri. “Terima kasih.”

Jika melihat posisi tubuhnya yang kaku, sudah pasti aku membuatnya terkejut. Dan yeah … aku sendiri pun terkejut. Namun, beberapa saat kemudian Dimitri merasa santai lagi, dan saat dia mengulurkan tangan ke balik tubuhku dan meletakkannya di punggung bawahku. Kupikir aku akan mati saat itu juga.

“Aku senang kau sudah merasa lebih baik,” kata Dimitri. Suaranya terdengar seakan-akan berasal dari rambutku, tepat di atas telingaku.

“Waktu aku melihatmu jatuh…”

“Kau pasti berpikir, ‘Wow, dia benar-benar seorang pecundang.’”

“Bukan itu yang kupikirkan.”

Dimitri menarik diri sedikit, sehingga dia bisa melihatku dengan lebih baik, tapi kami tidak mengatakan apa-apa lagi. Kedua mata Dimitri terlihat sangat gelap dan dalam sehingga aku merasa ingin menyelaminya. Memandangi kedua mata itu membuat seluruh tubuhku terasa hangat, seakan-akan di dalamnya ada api yang menyala. Perlahan-lahan dan hati-hati, jemari Dimitri yang panjang terulur dan menelusuri tepian tulang pipiku, lalu naik menuju sisi wajahku. Saat merasakan sentuhan pertamanya pada kulitku, tubuhku menggigil. Dimitri melingkarkan helaian rambutku pada salah satu jarinya, sama seperti yang dilakukannya di gedung olahraga.

Aku menelan ludah, dan memalingkan mataku dari bibir Dimitri. Selama ini aku memikirkan bagaimana rasanya menciumnya. Pikiran itu membuatku penasaran sekaligus takut, yang bisa dikatakan sebagai hal bodoh. Aku sudah pernah mencium banyak laki-laki dan tidak pernah terlalu memikirkannya. Tidak ada alasan mengapa laki-laki lain―apalagi yang lebih tua dariku―membuatnya menjadi masalah sebesar itu. Namun, pikiran mengenai Dimitri yang semakin merapat pada tubuhku dan mengarahkan bibirnya pada bibirku membuat dunia ini serasa berputar.

Sebuah ketukan pelan terdengar dari pintu, dan aku cepat-cepat bersandar lagi. Dr. Olendzki mengulurkan kepalanya ke dalam. “Kupikir aku mendengar kalian mengobrol. Bagaimana keadaanmu?”

Perempuan itu menghampiri dan menyuruhku berbaring lagi. Dia menyentuh dan menekuk pergelangan kakiku, memeriksa lukanya, dan akhirnya menggelengkan kepala saat sudah selesai.

“Kau beruntung. Dari suara ribut yang kudengar saat kau dibawa kemari, kupikir kakimu harus diamputasi. Mungkin hanya kaget saja.” Dr. Olendzki mundur lagi.

“Aku akan lebih tenang kalau kau libur dari semua latihan rutinmu besok, tapi selain itu kau sudah boleh pergi.”

Aku mengembuskan napas lega. Aku tidak ingat sikapku yang histeris―dan sesungguhnya merasa malu karena sudah bersikap seperti itu―tapi ternyata dugaanku mengenai masalah yang akan kudapatkan jika pergelangan kakiku patah atau terkilir memang besar. Aku tidak boleh menyia-nyiakan waktu dengan berada di tempat ini, aku harus mengikuti semua ujian dan lulus pada musim semi mendatang.

Dr. Olendzki mengizinkan aku keluar dari klinik, lalu dia pergi meninggalkan ruangan. Dimitri berjalan menuju kursi lain untuk membawakan sepatu dan mantelku. Saat melihatnya, aku merasakan lagi embusan hawa hangat yang menyapu tubuhku saat mengingat apa yang terjadi sebelum dokter itu masuk. Dimitri mengamatiku saat sedang memakai sepatu. “Kau memiliki seorang malaikat penjaga.”

“Aku tak percaya pada malaikat,” aku memberitahunya. “Aku percaya pada apa yang bisa kulakukan untuk diriku sendiri.”

“Kalau begitu, kau punya tubuh yang sangat mengagumkan.”

Aku mendongak dan menatapnya dengan bertanya-tanya.

“Maksudku dalam hal kesembuhan. Aku mendengar soal kecelakaan itu…”

Dimitri tidak menjelaskan kecelakaan mana yang dibicarakannya, tapi hanya ada satu kecelakaan yang dimaksud olehnya. Biasanya membicarakan hal itu membuatku gelisah, tapi bersama Dimitri aku merasa sanggup membicarakan apa pun.

“Semua orang bilang seharusnya aku takkan bisa selamat,” aku menjelaskan pada Dimitri. “Mengingat tempat dudukku dan bagaimana posisi mobil saat menabrak pohon. Lissa adalah satu-satunya yang berada di posisi terlindung. Aku dan Lissa berhasil selamat hanya dengan beberapa luka gores saja.”

“Dan kau tak percaya pada malaikat maupun keajaiban.”

“Tidak. Aku―”

Sungguh, ini adalah keajaiban. Kau memiliki hidup yang diberkahi…

Dan hanya seperti itu, aku langsung teringat pada jutaan pemikiran. Mungkin …

mungkin aku memang memiliki seorang malaikat penjaga….

Dimitri langsung menyadari perubahan perasaanku. “Ada apa?”

Aku meraih ke dalam benakku, berusaha memperlebar ikatan batin dan menyingkirkan efek obat penghilang rasa sakit. Beberapa perasaan Lissa yang lain mulai mengalir pada tubuhku. Cemas. Kesal.

“Di mana Lissa? Apa dia di sini?”

“Aku tidak tahu dia di mana. Dia tak mau meninggalkanmu saat aku membawamu ke sini. Dia duduk di samping tempat tidur sampai dokternya datang. Kau langsung tenang saat Lissa duduk di sampingmu.”

Aku menutup mata dan merasa seperti akan pingsan. Aku menjadi tenang saat Lissa duduk di sampingku karena dia sudah menyingkirkan rasa sakitku. Lissa sudah menyembuhkan aku….

Seperti yang dilakukannya pada malam kecelakaan. Sekarang semua itu menjadi masuk akal. Seharusnya aku tidak selamat. Semua orang berkata begitu. Siapa yang tahu luka seperti apa yang sebenarnya kualami?

Pendarahan dalam. Patah tulang. Semua itu tak masalah karena Lissa sudah mengobatinya, seperti dia mengobati yang lainnya. Karena itulah Lissa sedang membungkuk di atas tubuhku saat aku terbangun.

Mungkin karena itulah Lissa pingsan saat mereka membawanya ke rumah sakit. Dia merasa lelah selama beberapa hari sesudahnya. Dan tepat pada saat itulah depresinya dimulai. Depresi yang dialami Lissa terlihat sebagai hal normal setelah kehilangan keluarganya, tapi sekarang aku curiga alasannya bukan hanya itu, jangan-jangan depresinya berhubungan dengan menyembuhkan aku.

Aku berusaha membuka pikiran lagi dan menjangkaukannya ke arah Lissa, ingin menemukannya. Jika dia sudah menyembuhkan aku, keadaannya sekarang takkan bisa ditebak. Suasana hati dan sihir yang dimilikinya saling berhubungan, dan ini merupakan praktik sihir yang cukup berat.

Obat penahan rasa sakit itu sudah hampir hilang dari saluran darahku, dan dengan mudahnya aku langsung terhubung dengan Lissa. Gelombang emosi besar menghantamku, lebih buruk dibandingkan saat mimpi buruk yang dialami Lissa memerangkapku. Sebelumnya, aku tidak pernah merasakan emosi sekuat ini.

Lissa sedang duduk di loteng kapel, menangis. Lissa sendiri tidak sepenuhnya tahu mengapa dirinya menangis. Dia merasa senang dan lega aku baik-baik saja, karena dia sudah berhasil menyembuhkan aku. Pada saat yang bersamaan, Lissa merasa tubuh dan pikirannya lemah. Di dalam dirinya dia merasa, seakan-akan sudah kehilangan akal sehatnya. Lissa khawatir aku akan marah karena sudah menggunakan kekuatannya. Dia juga merasa ngeri untuk menjalani hari sekolah besok, berpura-pura merasa senang menghabiskan waktu dengan kelompok yang tidak memiliki minat lain selain menghabiskan uang keluarga mereka dan mengolok-olok orang yang lebih jelek dan kurang populer. Lissa tak ingin pergi ke pesta dansa bersama Aaron dan melihat lelaki itu menatapnya dengan memuja―dan merasakan sentuhannya―karena dia hanya ingin berteman dengannya.

Menurutku, sebagian besar masalah Lissa merupakan kekhawatiran yang normal, namun semua itu menghantamnya dengan keras, lebih keras dari yang dialami orang lain. Lissa tak sanggup berpikir jernih mengenai semua masalah itu, atau mencari tahu bagaimana cara mengatasinya.

“Apa kau baik-baik saja?”

Lissa mendongak dan menyingkirkan rambut yang menempel pada pipinya yang basah. Christian berdiri di depan pintu masuk loteng. Lissa bahkan tidak mendengar cowok itu menaiki tangga. Dia terlalu hanyut dalam kesedihannya sendiri. Percikan rasa rindu dan marah melintas dalam dirinya.

“Aku baik-baik saja,” bentak Lissa sambil mendengus, berusaha menghentikan air matanya. Dia tak ingin Christian melihatnya dalam keadaan lemah.

Cowok itu bersandar pada dinding, melipat kedua lengan, dan memandangi Lissa dengan ekspresi yang tak terbaca. “Apa … apa kau ingin membicarakannya?”

“Oh…” Lissa tertawa kasar. “Sekarang kau mau bicara denganku? Setelah berkali-kali aku mencoba―”

“Aku tidak ingin melakukannya! Itu Rose yang―”

Christian menghentikan ucapannya sendiri dan tersentak. Aku ketahuan. Lissa berdiri dan berjalan menghampirinya. “Memangnya ada apa dengan Rose?”

“Tak ada apa-apa.” Topeng berwajah datar yang biasa dipakai Christian sudah kembali. “Lupakan saja.”

“Ada apa dengan Rose?” Lissa mendekatinya. Bahkan di tengah amarahnya, dia masih merasakan ketertarikan yang tak terelakkan lagi pada Christian. Kemudian dia memahaminya. “Dia yangmenyuruhmu melakukannya, ya kan? Dia menyuruhmu berhenti bicara padaku?”

Christian menatap lurus-lurus ke depan. “Mungkin semua ini yang terbaik. Aku hanya mengacaukan hidupmu. Kau takkan menjadi dirimu yang sekarang.”

“Apa maksudmu?”

“Memangnya menurutmu apa yang kumaksud? Ya Tuhan. Sekarang semua orang hidup dan mati sesuai dengan perintahmu, Yang Mulia.”

“Kau bersikap terlalu dramatis.”

“Benarkah? Sepanjang hari aku selalu mendengar orang-orang membicarakan apa yang sedang kaulakukan, apa yang sedang kaupikirkan, dan apa yang sedang kaukenakan. Apakah kau akan menyetujui sesuatu. Siapa yang kausukai. Siapa yang kaubenci. Mereka semua adalah bonekamu.”

“Tidak seperti itu. Lagi pula, aku terpaksa melakukannya. Untuk membalas dendam pada Mia….”

Christian memutar bola matanya, dan berpaling dari Lissa. “Kau bahkan tidak tahu membalas dendam apa padanya.”

Amarah Lissa membara. “Dia menjebak Jesse dan Ralf untuk mengatakan hal-hal itu mengenai Rose! Aku tak bisa membiarkan perbuatannya.”

“Rose orang yang tangguh. Dia pasti sanggup menghadapinya.”

“Kau tidak melihatnya,” Lissa menjawab dengan keras kepala. “Rose menangis.”

“Terus kenapa? Semua orang menangis. Kau menangis.”

“Tapi Rose tidak pernah menangis.”

Christian berbalik kembali menghadap Lissa, senyum kelam tersungging di bibirnya. “Aku tidak pernah melihat sepasang sahabat seperti kalian berdua. Selalu mengkhawatirkan satu sama lain. Aku memahami alasan Rose―urusan aneh yang berkaitan dengan para pengawal―tapi kau juga sama saja.”

“Rose temanku.”

“Kurasa alasannya memang sesederhana itu. Aku takkan pernah memahaminya.” Christian menghela napas, sesaat terlihat serius, lalu kembali pada gaya sinisnya.

“Omong-omong. Mia. Jadi kau membalas dendam padanya atas kelakuannya terhadap Rose. Tapi kau tidak menangkap maksudnya. Kenapa dia melakukannya?”

Lissa mengernyit. “Karena dia cemburu padaku dan Aaron―”

“Lebih dari sekadar itu, Putri. Untuk apa dia merasa cemburu padamu soal itu? Dia sudah memiliki Aaron. Dia tak perlu menyerangmu untuk melakukannya. Dia bisa saja melakukannya dengan memamerkan kemesraan mereka berdua. Seperti yang kalian lakukan sekarang.” Christian menambahkan dengan datar.

“Oke. Kalau begitu apa alasan lainnya? Kenapa dia ingin menghancurkan hidupku? Aku tidak pernah melakukan apa-apa padanya―maksudku sebelum semua kejadian ini.”

Christian mencondongkan tubuh ke depan, kedua matanya yang berwarna biru jernih menusuk tajam ke dalam mata Lissa.

“Kau benar. Kau memang tidak melakukan apa-apa padanya―tapi kakakmu.”

Lissa mundur. “Kau tidak tahu apa-apa soal kakakku.”

“Aku tahu dia mengkhianati Mia. Dalam arti sesungguhnya.”

“Hentikan, hentikan kebohonganmu.”

“Aku tidak bohong. Sumpah demi Tuhan atau siapa pun yang kaupercayai. Dulu aku sering mengobrol dengan Mia, saat dia baru masuk. Dulu cewek itu bukan anak yang populer, tapi dia pintar. Sekarang pun masih. Dia sering terlibat menjadi panitia berbagai macam acara bersama para bangsawan―pesta dansa dan semacamnya. Aku tidak mengerti semua itu. Tapi aku tahu dia mengenal kakakmu dalam salah satu acara itu, dan bisa dibilang mereka berdua berkencan.”

“Tidak, mereka tidak berkencan. Aku pasti mengetahuinya. Andre pasti memberitahuku.”

“Tidak. Andre tidak memberitahu siapa pun. Dia juga menyuruh Mia agar tidak memberitahu siapa pun. Andre meyakinkan Mia bahwa itu akan menjadi semacam hal romantis antara mereka berdua, padahal sebenarnya dia tidak mau temantemannya mengetahui dirinya tidur dengan seorang murid baru yang bukan bangsawan.”

“Kalau Mia yang memberitahumu soal itu, maka dia mengada-ada,” seru Lissa.

“Yah, menurutku Mia tidak mengada-ada karena aku melihatnya menangis. Andre merasa bosan pada Mia setelah beberapa minggu dan mencampakkannya. Andre bilang Mia terlalu muda dan dia tak bisa memiliki hubungan serius dengan seseorang yang tidak berasal dari keluarga terhormat. Berdasarkan pengamatanku, Andre bahkan melakukannya dengan cara yang kasar―dia bahkan tidak berbasabasi dengan mengatakan ‘kita sebaiknya berteman saja.’”

Lissa mendekatkan wajahnya pada wajah Christian. “Kau bahkan tidak kenal Andre! Dia takkan mungkin melakukan hal seperti itu.”

“Kau yang tidak mengenalnya. Aku yakin Andre pasti bersikap manis pada adik perempuannya; aku yakin dia menyayangimu. Tapi di sekolah, bersama semua teman-temannya, Andre sama brengseknya seperti bangsawan lain. Aku melihat kelakuannya karena aku mengamati semua hal yang terjadi di sini, hal itu mudah untuk dilakukan jika tak ada seorang pun yang menyadari keberadaanmu.”

Lissa menahan tangisnya, tidak yakin harus memercayai ucapan Christian atau tidak. “Jadi karenainilah Mia membenciku?”

“Yup. Mia membencimu karena Andre. Selain itu, Mia juga membencimu karena kau seorang bangsawan, dan dia selalu merasa rendah diri saat berada di dekat para bangsawan. Karena itulah dia mati-matian untuk menaikkan kelas sosialnya dan berteman dengan para bangsawan. Kurasa hanya kebetulan saja Mia akhirnya berpacaran dengan mantan kekasihmu, tapi karena sekarang kau sudah kembali, mungkin hal itu membuat keadaannya semakin buruk. Dengan mencuri Aaron dan menyebarkan cerita mengenai orangtuanya, kalian benar-benar memilih cara terbaik untuk membuat Mia menderita. Kerja yang hebat.”

Sengatan rasa bersalah bergejolak di dalam diri Lissa. “Aku masih menganggapmu berbohong.”

“Aku memiliki banyak kekurangan, tapi aku bukan pembohong. Itu keahlianmu. Dan Rose.”

“Kami tidak―”

“Melebih-lebihkan cerita mengenai keluarga orang lain? Mengatakan bahwa kau membenciku? Pura-pura berteman dengan orang-orang yang kauanggap bodoh? Berkencan dengan seseorang yang tidak kausukai?”

“Aku menyukainya.”

“Suka atau suka dalam tanda kutip?”

“Oh, memang ada bedanya?”

“Ya. ‘Suka dalam tanda kutip’ adalah jika kau berkencan dengan orang bodoh berambut pirang yang menertawakan lelucon bodohnya sendiri.”

Kemudian, tanpa terduga, Christian maju dan mencium Lissa. Ciumannya panas, cepat, dan ganas―luapan amarah, gairah, dan kerinduan yang selama ini tersimpan di dalam dirinya. Lissa belum pernah dicium seperti itu, dan aku bisa merasakan renpons Lissa terhadap ciuman itu, responsnya terhadap Christian―bagaimana cowok itu sudah membuatnya merasa jauh lebih hidup daripada saat bersama Aaron maupun cowok lain.

Christian menarik dirinya mundur dari ciuman itu, namun wajahnya masih berada dekat dengan wajah Lissa.

“Itulah yang kaulakukan dengan orang yang kau suka.”

Jantung Lissa berdebar-debar akibat marah sekaligus gairah. “Well, aku tidak suka maupun suka dalam tanda kutip kepadamu. Dan menurutku kau dan Mia samasama berbohong soal Andre.Aaron takkan mungkin mengada-ada sepertimu.”

“Itu karena Aaron tidak pernah mengatakan sesuatu yang membutuhkan kata-kata yang terdiri lebih dari satu silabel.”

Lissa menarik dirinya menjauh. “Keluar. Menjauhlah dariku.”

Christian melihat ke sekeliling dengan wajah jenaka. “Kau tak bisa mengusirku. Kita berdua sudah menandatangani perjanjian sewa tempat ini.”

“Keluar!” teriak Lissa. “Aku membencimu!”

Christian membungkuk. “Apa pun yang kauinginkan, Yang Mulia.” Dengan tatapan kelam terakhir, Christian pun meninggalkan loteng.

Lissa terpuruk hingga berlutut, membiarkan air mata yang sedari tadi disembunyikannya dari Christian mengalir. Aku nyaris tidak bisa memahami halhal yang menyakiti Lissa. Hanya Tuhan yang tahu apa saja yang membuatku kesal―contohnya kejadian Jesse―tapi semua masalah itu tidak menyerangku dengan cara yang sama seperti pada Lissa. Semua masalah itu berputar di dalam diri sahabatku, mendera otaknya. Cerita mengenai Andre. Kebencian Mia. Ciuman Christian. Menyembuhkan aku. Aku menyadari, seperti inilah depresi yang sesungguhnya. Sebuah kegilaan sesungguhnya.

Setelah pulih, tenggelam di dalam rasa sakitnya sendiri, Lissa akhirnya membuat satu-satunya keputusan. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan Lissa untuk menyalurkan semua emosi itu. Lissa membuka tas dan menemukan silet kecil yang selalu dibawanya ke mana pun…

Aku merasa mual, tapi tak bisa melepaskan diri. Lalu aku pun merasakan saat Lissa menyayat lengan kirinya, sehingga menghasilkan bekas luka yang sangat lurus, dan aku hanya bisa melihat saat darah mengalir di atas kulit putihnya.

Seperti biasa, Lissa selalu menghindari urat nadi, namun kali ini sayatannya lebih dalam dari biasanya. Luka sayat itu terasa amat sangat menyengat, namun saat melakukannya, Lissa bisa memusatkan diri untuk merasakan sakit fisik sehingga mengalihkan dirinya dari amarah yang ada di dalam jiwanya dan membuatnya merasa memegang kendali lagi.

Tetesan darah terciprat ke atas lantai yang berdebu, dan dunia Lissa mulai berputar. Melihat darahnya sendiri membuat Lissa merasa aneh. Dia sudah terbiasa meminum darah orang lain sepanjang hidupnya. Aku. Para donor.

Sekarang, di hadapannya ada darah mengalir. Seraya terkikik gugup, Lissa memutuskan bahwa semua ini lucu. Mungkin dengan mengeluarkan darahnya sendiri, dia seakan memberikannya kembali pada orang-orang yang darahnya sudah dicuri olehnya. Atau mungkin Lissa memang menyia-nyiakannya, menyianyiakan darah Dragomir yang menjadi obsesi semua orang.

Aku memaksa diriku untuk masuk ke kepala Lissa, dan sekarang aku tak bisa keluar. Emosi Lissa telah menjebakku―emosinya terlalu kuat dan terlalu bertenaga. Tapi aku harus melepaskan diri―aku menyadarinya sepenuh hati. Aku harus menghentikan Lissa. Lissa terlalu lemah akibat menyembuhkanku untuk kehilangan darah sebanyak ini. Saatnya untuk memberitahu seseorang.

Akhirnya aku bisa melepaskan diri dan mendapati diriku kembali berada di klinik. Kedua tangan Dimitri memegangi tubuhku, mengguncangnya perlahan sambil terus-menerus menyebut namaku sebagai usaha untuk menarik perhatianku. Dr. Olendzki berdiri di sampingnya, wajahnya terlihat kelam dan khawatir.

Aku menatap Dimitri dan bisa melihat betapa dia mengkhawatirkanku dan peduli padaku. Christian sudah pernah menyuruhku untuk mencari bantuan, untuk mengadu mengenai Lissa pada seseorang yang kupercaya. Aku mengabaikan nasihat Chrstian karena tidak memercayai siapa pun kecuali Lissa. Namun saat menatap Dimitri, merasakan perasaan saling memahami yang terjalin di antara kami, aku sadar bahwa ada orang lain yang kupercaya.

Aku mendengar suaraku sendiri serak saat berkata, “Aku tahu di mana Lissa berada. Kita harus menolongnya.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s