Vampire Academy #1

Vampire Academy – Chapter 23

AKU TIDAK PERNAH MENGALAMI KESULITAN untuk keluar dari benak Lissa, tapi kami juga sama-sama belum pernah mengalami sesuatu yang seperti ini. Kuatnya pikiran dan perasaan Lissa terus-terusan menarikku masuk ke dalam kepalanya.

Aku dan Christian berlari menembus hutan, melewati semak-semak dan pepohonan, bergerak semakin jauh dari kabin. Ya ampun, kuharap tadi Lissa tetap di sana. Aku pasti akan sangat senang melihat penyerbuan melalui matanya.

Namun, semua itu sudah jauh kami tinggalkan, dan saat aku berlari, usaha Dimitri yang menempaku dengan lari dan latihan fisik akhirnya terbayarkan juga. Lissa tidak bergerak terlalu cepat, dan aku bisa merasakan jarak di antara kami semakin menipis, sehingga aku bisa tahu dengan pasti di mana Lissa berada. Namun, Christian juga tidak bisa mengimbangiku. Aku mulai melambat untuk mengimbanginya, tapi segera sadar betapa bodohnya hal tersebut. Christian pun menyadarinya. “Pergilah,” katanya terengah-engah, melambaikan tangan untuk menyuruhku terus berlari.

Saat aku tiba di tempat yang sudah cukup dekat hingga kupikir Lissa bisa mendengarku, aku memanggil namanya, berharap bisa membuatnya berbalik arah.

Alih-alih, jawaban yang kudapat adalah serangkaian lolongan―dengkingan anjing yang terdengar samar-samar.

Psi-hound. Tentu saja. Victor pernah berkata bahwa dia sering berburu dengan binatang-binatang itu, dia bisa mengendalikan binatang itu. Tiba-tiba aku mengerti mengapa tak ada seorang pun dari pihak sekolah yang ingat pernah mengirim psi-hound untuk mengejarku dan Lissa saat berada di Chicago.

Akademi tidak pernah mengatur semua itu; Victor yang melakukannya.

Satu menit kemudian, aku tiba di area terbuka tempat Lissa sedang merunduk di balik pohon. Dari ekspresi wajah dan perasaan yang mengalir melalui ikatan batin kami, seharusnya dia sudah pingsan sejak beberapa saat yang lalu. Hanya serpihan tekadlah yang membuatnya tetap bertahan.

Matanya terbelalak dan wajahnya pucat, Lissa menatap keempat psi-hound yang mengelilinginya dengan ngeri. Melihat matahari yang sedang bersinar penuh, aku menyadari bahwa Lissa dan Christian memiliki hambatan lain yang harus mereka hadapi.

“Hei,” aku berteriak pada anjing-anjing pemburu itu, berusaha menarik perhatian mereka padaku. Victor pasti mengirim binatang itu untuk menjebak Lissa, tapi aku berharap binatang-binatang itu bisa merasakan dan menanggapi adanya ancaman lain―terutama seorang dhampir. Sama seperti binatang lainnya, psihound tidak menyukai dhampir.

Benar saja, binatang-binatang itu langsung berbalik ke arahku, gigi mereka terpampang keluar dan air liur menetes-netes dari mulut mereka. Anjing-anjing pemburu itu menyerupai serigala, hanya saja mereka memiliki bulu berwarna cokelat dan mata yang menyala-nyala bagaikan api oranye. Victor mungkin memerintahkan anjing-anjing pemburu itu agar tidak menyakiti Lissa, tapi perintah itu pasti tidak berlaku untukku.

Serigala. Sama seperti yang diajarkan di kelas sains. Apa yang dikatakan oleh Ms. Meissner saat itu? Sebagian besar konfrontasi merupakan masalah kehendak?

Dengan berpegang pada teori itu, aku berusaha memperlihatkan perilaku seorang alfa, tapi sepertinya binatang-binatang itu tidak memercayainya. Mereka semua jauh lebih berat dariku. Oh yeah―mereka juga lebih banyak dariku. Tidak, mereka tak punya alasan untuk merasa takut.

Aku berusaha menganggap ini sebagai pertarungan tanpa beban bersama Dimitri, lalu aku mengambil sebatang dahan yang panjang dan beratnya hampir sama dengan tongkat pemukul baseball dari tanah. Aku baru saja mengatur letaknya di tanganku saat dua ekor anjing pemburu melompat ke arahku. Cakar dan gigi menggigit ke arahku, tapi secara mengejutkan aku berhasil mempertahankan diri sambil mengingat semua cara untuk melawan musuh yang lebih kuat dan lebih besar yang sudah kupelajari selama dua bulan terakhir.

Aku tidak mau menyakiti binatang-binatang itu. Mereka benar-benar mengingatkanku pada anjing peliharaan. Namun, pilihannya adalah aku atau mereka, dan insting bertahan hidup yang memenangkan pertarungan itu. Aku berhasil membanting salah satu anjing pemburu ke tanah, aku tidak tahu apakah ia hanya pingsan atau mati. Anjing pemburu lainnya masih membidikku, menghampiri dengan cepat dan murka. Kawan-kawannya terlihat siap untuk bergabung dengannya, tapi kemudian ada seorang lawan baru yang menghambur ke dalam arena pertarungan―yah, bisa dibilang begitu. Christian.

“Pergi dari sini,” aku berteriak pada Christian sambil mengibaskan anjing pemburu yang cakarnya sedang merobek kulit kakiku yang telanjang, hingga nyaris membuatku terjungkal. Aku masih mengenakan gaun, meskipun sepatu berhak tingginya sudah kusingkirkan beberapa saat yang lalu.

Namun Christian, seperti halnya cowok mana pun yang sedang dimabuk cinta, tidak menuruti saranku. Dia juga mengambil sebatang dahan dan mengayunkannya ke arah anjing-anjing pemburu. Api langsung berkobar dari kayu yang dipegangnya. Anjing-anjing pemburu itu mundur, mereka masih bertekad untuk menuruti perintah Victor, meskipun jelas-jelas terlihat takut pada api.

Kawannya, si anjing pemburu nomor empat, berjalan memutari obor dan menghampiri Christian dari belakang. Bajingan kecil yang pintar. Binatang itu melompat ke arah Christian, membuatnya jatuh tertelentang. Dahan pohon yang dipegang Christian terlepas dari tangannya, dan apinya langsung padam. Kedua anjing pemburu itu melompat ke atas tubuh Christian yang terjatuh. Aku melanjutkan pertarungan dengan anjing pemburu yang menyerangku―lagi-lagi merasa mual dengan apa yang terpaksa kulakukan untuk mengatasinya―dan menghampiri dua anjing pemburu lainnya, seraya bertanya-tanya sendiri apakah diriku masih memiliki kekuatan untuk mengalahkan anjing-anjing yang masih tersisa.

Namun, aku tidak perlu melakukannya. Bantuan datang dalam wujud Alberta yang muncul dari pepohonan. Dengan pistol di tangan, Alberta menembak anjing-anjing pemburu itu tanpa ragu. Mungkin pistol memang sangat membosankan―dan benar-benar tak berguna untuk melawan Strigoi―tapi melawan hal lain? Pistol sudah diuji coba dan terbukti. Anjinganjing pemburu itu berhenti bergerak dan tergolek tak berdaya di dekat tubuh

Christian.

Dan tubuh Christian….

Kami bertiga menghampirinya―aku dan Lissa bisa dibilang merangkak. Saat aku melihatnya, aku terpaksa memalingkan wajah. Isi perutku bergolak, dan butuh usaha keras agar tidak muntah. Christian belum mati, tapi kurasa tidak lama lagi.

Kedua mata Lissa terbelalak dan menatap tubuh Christian dengan khawatir. Lissa mencoba mengulurkan tangannya ke arah cowok itu, namun menurunkannya lagi.

“Aku tak bisa,” Lissa berhasil bicara dengan suara pelan. “Aku tak cukup kuat untuk melakukannya.”

Alberta, wajah kakunya terlihat tegas sekaligus penuh kasih sayang, menarik lengan Lissa dengan lembut. “Ayo, Putri. Kita harus pergi dari sini. Kita akan mengirim bantuan untuknya.”

Aku berbalik ke arah Christian lagi, memaksakan diri menatapnya dan membiarkan diriku merasakan sebesar apa perhatian yang dirasakan Lissa untuknya.

“Liss,” aku berkata ragu-ragu. Lissa menatapku, seakan-akan lupa bahwa aku ada di sana. Tanpa mengatakan apa-apa, aku menyingkirkan rambut dari leherku dan menyodorkannya ke arah Lissa.

Sejenak Lissa hanya memandanginya, wajahnya tanpa ekspresi; kemudian kedua matanya mulai terlihat memahami maksudku.

Taring-taring yang tersembunyi di balik senyum manis Lissa menggigit leherku, dan sebuah erangan kecil terlepas dari bibirku. Aku tidak sadar betapa aku merindukannya, rasa sakit yang manis dan menyenangkan, yang dilanjutkan oleh sensasi menakjubkan yang dahsyat. Aku mulai merasa bahagia. Mabuk kepayang. Menyenangkan. Seperti berada di dalam mimpi.

Aku tidak sepenuhnya ingat berapa lama Lissa meminum darahku. Mungkin tidak selama yang kubayangkan. Dia bahkan takkan pernah mempertimbangkan minum darah seseorang hingga sanggup membunuh orang tersebut dan menjadikan dirinya sendiri seorang Strigoi. Lissa selesai meminum darahku, dan Alberta langsung menangkap tubuhku yang terhuyung-huyung.

Dengan kepala pusing, aku memperhatikan Lissa yang membungkuk di atas tubuh Christian dan meletakkan kedua tangannya di atas tubuh cowok itu. Di kejauhan, aku mendengar pengawal lainnya berlari melintasi hutan.

Tidak ada kilas cahaya maupun kembang api dalam proses penyembuhan ini. Semua itu terjadi diam-diam, hanya antara Lissa dan Christian. Meskipun hormon endorfin yang dihasilkan oleh gigitan Lissa sudah menumpulkan ikatan batin kami, aku ingat penyembuhan yang dilakukan Lissa pada Victor. Aku ingat bagaimana warna-warna dan musik mengagumkan yang diberikan Lissa pada laki-laki itu.

Sebuah keajaiban terjadi di depan mataku, dan Alberta pun terkesiap. Luka pada tubuh Christian menutup. Darahnya mengering. Rona―setidaknya sebanyak yang dimiliki seorang Moroi―mulai kembali pada kedua pipi cowok itu. Kelopak matanya mulai mengerjap, dan kedua matanya menjadi hidup lagi. Christian memusatkan pandangan matanya pada Lissa, lalu tersenyum. Rasanya seperti sedang menonton film produksi Disney.

Aku pasti tak sadarkan diri sesudahnya, karena aku tak ingat apa-apa lagi. Akhirnya, aku terbangun di klinik Akademi, tempat mereka mencekokiku dengan cairan dan gula selama dua hari. Lissa berada di sampingku hampir sepanjang waktu, dan perlahan-lahan semua kejadian selama penculikan terungkap juga.

Kami terpaksa memberitahu Kirova dan beberapa orang lainnya mengenai kekuatan Lissa, bagaimana dia menyembuhkan Victor, Christian, dan, well, aku. Beritanya sangat mengejutkan, tapi para pengurus sekolah setuju untuk merahasiakannya dari penghuni sekolah lain. Tidak ada seorang pun yang berpikir untuk membawa Lissa pergi seperti yang mereka lakukan pada Ms. Karp.

Murid lainnya hanya tahu bahwa Victor Dashkov menculik Lissa Dragomir.

Mereka tidak tahu alasannya. Beberapa orang pengawal Victor mati saat kelompok Dimitri menyerang kabin―sangat disayangkan jika mengingat jumlah pengawal yang sudah semakin menurun. Victor ditahan di sekolah dan diawasi selama dua puluh empat jam setiap harinya, seraya menunggu pasukan pengawal kerajaan membawanya pergi. Para penguasa Moroi mungkin hanya pemerintah simbolis yang berada di dalam pemerintahan sebuah negara yang lebih besar, tapi mereka memiliki sistem keadilan sendiri dan aku pernah mendengar soal penjara penjara Moroi. Bukan tempat yang ingin kudatangi.

Sedangkan Natalie … ini sedikit lebih rumit. Natalie masih di bawah umur, tapi dia bersekongkol dengan ayahnya. Natalie yang membawa binatang-binatang mati dan mengawasi perilaku Lissa―bahkan sebelum kami melarikan diri dulu.

Natalie adalah pengguna sihir tanah seperti Victor, dan dialah yang membuat kayu pada bangku menjadi lapuk sehingga menyebabkan pergelangan kakiku patah.

Setelah melihatku mencegah Lissa menyembuhkan burung merpati, Natalie dan Victor sadar bahwa mereka harus melukai aku untuk memancing Lissa―hanya itulah satu-satunya harapan mereka untuk melihat kekuatan penyembuh Lissa lagi.

Natalie hanya menunggu sebuah kesempatan yang tepat. Natalie belum ditangkap atau semacamnya, dan pihak Akademi belum tahu apa yang harus dilakukan padanya sampai ada perintah dari kerajaan.

Aku merasa kasihan pada cewek itu. Dia orang yang sangat canggung dan lugu.

Siapa pun bisa memanipulasi Natalie, apalagi ayahnya sendiri yang sangat disayanginya, dan selama ini Natalie selalu berusaha mencari perhatian ayahnya.

Dia pasti bersedia melakukan apa pun untuknya. Ada kabar burung yang mengatakan bahwa Natalie berteriak-teriak di depan ruang hukuman, memohon agar diizinkan bertemu dengan ayahnya. Mereka menolak permintaan itu dan menggiringnya pergi.

Sementara itu, aku dan Lissa bersahabat kembali seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa. Pada sisi dunia Lissa yang lain, banyak hal yang terjadi. Setelah semua hal menegangkan dan drama yang terjadi, sepertinya Lissa mendapatkan sebuah persepsi baru mengenai hal-hal yang penting untuknya. Lissa memutuskan hubungannya dengan Aaron. Aku yakin Lissa melakukannya dengan cara baikbaik, tapi hal itu pasti tetap terasa berat bagi Aaron. Lissa sudah mencampakkannya dua kali. Kenyataan lain bahwa kekasih terakhirnya berselingkuh juga mungkin takkan membantu kepercayaan dirinya.

Dan sekarang Lissa mulai berkencan dengan Christian tanpa memedulikan konsekuensi yang ditimbulkan pada reputasinya. Melihat mereka berdua di muka umum membuatku agak heran. Christian sendiri sepertinya tidak bisa memercayai semua itu. Teman sekelas kami bahkan terlalu kaget untuk bisa memahami apa yang terjadi. Mereka bahkan tidak menyadari keberadaan Christian, apalagi melihatnya berkencan dengan seseorang seperti Lissa.

Kehidupan romansaku sendiri tidak seberbunga-bunga milik Lissa―itu pun kalau kau bisa menyebutnya sebagai kehidupan romansa. Dimitri tidak mengunjungiku selama berada dalam proses pemulihan, dan latihan-latihan kami ditunda untuk jangka waktu yang tidak ditentukan. Aku baru berpapasan dengan Dimitri di gedung olahraga pada hari keempat setelah penculikan Lissa. Hanya ada kami berdua.

Aku terpaksa kembali ke gedung olahraga karena tasku ketinggalan, dan tubuhku membeku saat melihat Dimitri, sama sekali tak sanggup bicara. Dimitri berjalan di depanku, lalu dia berhenti.

“Rose….” Dimitri memulai pembicaraan setelah beberapa menit yang terasa canggung. “Kau harus melaporkan apa yang terjadi. Pada kita berdua.”

Aku sudah sangat lama menunggu kesempatan untuk berbicara dengan Dimitri, tapi pembicaraan yang kubayangkan bukan seperti ini.

“Aku tak bisa melakukannya. Mereka bisa memecatmu. Atau bahkan lebih buruk dari itu.”

“Mereka memang seharusnya memecatku. Apa yang kulakukan itu salah.”

“Kau tak bisa mencegahnya. Semua itu gara-gara mantra….”

“Itu tidak penting. Itu perbuatan salah. Dan bodoh.”

Salah? Bodoh? Aku menggigit bibir, dan air mata mulai terancam jatuh dari kedua mataku. Aku cepat-cepat mengendalikan diri lagi.

“Dengar, semua itu bukan masalah besar.”

“Semua itu memang masalah besar! Aku memanfaatkanmu.”

“Tidak,” aku berkata datar. “Kau tidak memanfaatkanku.”

Pasti ada sesuatu dalam suaraku yang membuat Dimitri terdiam, karena dia menatap mataku dalam-dalam dengan serius.

“Rose, umurku tujuh tahun lebih tua darimu. Sepuluh tahun dari sekarang, semua itu takkan berarti banyak, tapi sekarang ini merupakan masalah besar. Aku sudah dewasa. Kau seorang anak kecil.”

Ouch. Aku tersentak. Rasanya akan lebih mudah jika Dimitri meninju wajahku.

“Kau sepertinya tidak menganggapku anak kecil saat sedang sibuk dengan tubuhku.”

Sekarang Dimitri yang tersentak. “Hanya karena tubuhmu … well, bukan berarti kau sudah dewasa. Kita berdua berada dalam dunia yang sangat berbeda. Aku sudah menjelajahi dunia. Aku sudah pernah tinggal sendirian. Aku sudah pernah membunuh, Rose―orang, bukan binatang. Sedangkan kau … kau baru memulai hidupmu. Hidupmu hanya berkisar soal pekerjaan rumah, baju-baju, dan pesta dansa.”

“Menurutmu hanya itu yang kupedulikan?”

“Tidak, tentu saja tidak. Tidak sepenuhnya. Tapi semua itu bagian dari hidupmu. Kau masih tumbuh, masih mencari jati diri, dan mencari tahu apa yang penting dalam hidupmu. Kau harus terus melakukannya. Kau harus berhubungan dengan lelaki seusiamu.”

Aku tidak menginginkan lelaki yang seusia denganku. Tapi aku tidak mengatakannya. Aku tidak mengatakan apa-apa.

“Bahkan kalau kau memutuskan untuk tidak mengatakannya, kau harus paham bahwa itu adalah sebuah kesalahan. Dan hal itu takkan pernah terjadi lagi,” tambah Dimitri.

“Karena kau terlalu tua untukku? Karena itu perbuatan tak bertanggung jawab?” Wajah Dimitri benar-benar terlihat tanpa ekspresi. “Tidak. Karena aku sama sekali tak tertarik padamu dari sudut pandang seperti itu.”

Aku terperangah. Pesan―penolakan―yang disampaikannya bisa kutangkap dengan jelas. Semua yang terjadi malam itu, semua yang kuanggap sangat indah dan penuh arti, berubah menjadi debu tepat di depan mataku.

“Semua itu hanya terjadi karena mantranya. Apa kau paham?”

Merasa malu dan marah, aku menolak mempermalukan diri dengan berdebat maupun memohon. Aku hanya mengedikkan bahu. “Yeah. Aku paham.”

Aku menghabiskan sisa hari itu dengan cemberut, mengabaikan Lissa maupun Mason yang berusaha mengajakku keluar dari kamar. Keinginanku untuk tetap tinggal di dalam kamar sungguh ironis. Kirova merasa cukup terkesan oleh prestasiku dalam penyelamatan Lissa hingga dia menyudahi status tahanan kamar yang diberikannya.

Sebelum sekolah dimulai keesokan harinya, aku pergi menuju tempat Victor ditahan. Akademi memiliki sel tahanan yang sesungguhnya, lengkap dengan jeruji dan dua orang pengawal yang berdiri berjaga-jaga di selasar di dekatnya. Butuh sedikit tipu muslihat agar aku diizinkan masuk dan bicara dengan Victor. Bahkan Natalie pun tidak diizinkan untuk melakukannya. Namun, salah seorang pengawal yang sedang berjaga-jaga berada satu mobil denganku saat penyelamatan, dan dia melihatku merasakan siksaan yang dialami Lissa. Aku berkata padanya bahwa aku harus menanyakan apa yang sudah dilakukan Victor pada Lissa. Itu bohong, tapi para pengawal memercayainya dan mereka merasa kasihan padaku. Mereka mengizinkanku bicara pada Victor selama lima menit, lalu mundur hingga jarak aman di mana mereka masih bisa melihat tapi tak bisa mendengar kami.

Saat berada di luar sel Victor, aku tak percaya dulu aku pernah merasa kasihan padanya. Melihat tubuh barunya yang sehat membuatku murka. Victor sedang duduk bersila di atas tempat tidur rendah sambil membaca. Saat mendengarku mendekat, Victor mendongak.

“Oh, Rose, kejutan yang menyenangkan. Kecerdasanmu selalu membuatku terkesan. Kukira mereka tidak mengizinkan siapa pun untuk menjengukku.”

Aku bersedekap, berusaha menampilkan wajah seorang pengawal yang tangguh.

“Aku mau kau mematahkan mantranya. Sudahi mantranya.”

“Apa maksudmu?”

“Mantra yang kauberikan padaku dan Dimitri.”

“Mantranya sudah selesai. Mantranya padam sendiri.”

Aku menggeleng. “Tidak. Aku masih terus-terusan memikirkannya. Aku masih ingin….”

Victor tersenyum penuh arti saat aku tidak menyelesaikan ucapanku. “My dear, perasaan itu memang sudah ada di dalam hatimu, jauh sebelum aku memasang mantranya.”

“Tapi tidak seperti ini. Tidak separah ini.”

“Mungkin secara tidak sadar. Tapi yang lainnya … ketertarikan―secara fisik maupun mental―sudah ada di dalam dirimu. Dan di dalam dirinya. Kalau tidak, mantranya tidak akan berfungsi. Mantranya tidak melakukan sesuatu yang baru―mantranya hanya menghilangkan kekangan diri dan memperkuat perasaan yang sudah kalian miliki satu sama lain.”

“Kau bohong. Dimitri bilang dia tidak memiliki perasaan seperti itu padaku.”

“Kalau begitu, dia yang bohong. Kuberitahu ya, mantranya takkan berfungsi kalau dia tidak punya perasaan seperti itu padamu, dan sejujurnya, seharusnya dia bersikap lebih bijaksana. Dia tak punya hak untuk membiarkan dirinya merasa seperti itu. Sebagai seorang gadis sekolah yang naksir seseorang kau masih bisa dimaafkan. Tapi dia? Seharusnya dia menunjukkan kendali diri yang lebih baik dalam menyembunyikan perasaannya. Natalie melihatnya dan memberitahuku. Setelah mengamatinya sendiri, aku juga bisa melihatnya dengan jelas. Hal itu memberiku kesempatan untuk mengalihkan perhatian kalian berdua. Aku memasang mantra pada kalung itu untuk kalian, dan kalian berdua yang bertanggung jawab atas yang terjadi sesudahnya.”

“Kau bajingan sinting, melakukan semua itu padaku dan Dimitri. Dan pada Lissa.”

“Aku tidak menyesali apa yang sudah kulakukan pada Lissa,” Victor berseru sambil bersandar ke dinding. “Kalau bisa, aku akan melakukannya lagi. Terserah kau mau percaya apa, aku mencintai rakyatku. Semua yang kulakukan demi kepentingan mereka. Sekarang? Sulit untuk mengatakannya. Mereka tak punya pemimpin, tak punya pemimpin sesungguhnya. Sungguh, tak seorang pun pantas.” Victor memiringkan kepala ke arahku, kelihatannya sedang mempertimbangkan sesuatu. “Vasilisa sebenarnya bisa menjadi pemimpin sejati―jika dia sanggup meyakini sesuatu di dalam hatinya dan mengatasi pengaruh roh. Memang sungguh ironis. Roh bisa membentuk seseorang hingga menjadi pemimpin, sekaligus menghancurkan kemampuannya untuk mempertahankan posisinya. Ketakutan, depresi, dan ketidakpastian bisa mengambil alih, dan mengubur kekuatan sejati Lissa di dalam dirinya. Meskipun begitu, Lissa memiliki darah Dragomir, yang bisa dibilang bukan hal sepele. Dan tentu saja, Lissa memilikimu, pengawalnya yang dicium bayangan. Siapa tahu? Lissa masih bisa membuat kejutan untuk kita.”

“Dicium bayangan?” Kata-kata itu lagi, Ms. Karp dulu memanggilku dengan sebutan yang sama.

“Kau sudah dicium oleh bayangan. Kau sudah menyeberangi Kematian, ke alam lain, dan kembali lagi. Apa menurutmu hal semacam itu tidak meninggalkan tanda pada jiwamu? Kau memiliki kepekaan yang lebih kuat mengenai kehidupan dan dunia ini―jauh lebih besar dari yang kumiliki―bahkan jika kau tidak menyadarinya sedikit pun. Seharusnya kau sudah mati. Vasilisa menyapu Kematian untuk membawamu kembali dan mengikatmu pada dirinya untuk selamanya. Sebenarnya kau berada di dalam genggaman kematian, dan ada sebagian dirimu yang akan selalu mengingatnya, selalu berjuang untuk bertahan hidup dan menjalani semua hal yang ditawarkan dalam hidup ini. Karena itulah kau memiliki sikap ceroboh dalam segala hal. Kau tidak menahan emosi, gairah, dan amarahmu. Sikap itu membuatmu hebat. Membuatmu berbahaya.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku tak sanggup berkata-kata, dan sepertinya Victor menyukainya.

“Itu juga yang membentuk ikatan kalian. Perasaan Lissa selalu menyembur keluar, pada orang lain. Sebagian besar orang tidak bisa menangkap emosinya, kecuali Lissa mengarahkan pikirannya langsung pada mereka dengan memakai kompulsi. Namun, kau memiliki pikiran yang sensitif pada energi di luar pancaindra―terutama yang berasal dari Lissa.” Victor menghela napas, nyaris dengan bahagia, dan aku teringat pernah membaca bahwa Vladimir pernah menyelamatkan Anna dari kematian. Pasti hal itu jugalah yang membentuk ikatan mereka.

“Ya. Akademi yang konyol ini sama sekali tidak tahu apa yang mereka miliki dalam dirimu dan Lissa. Kalau tidak ingat bahwa aku harus membunuhmu, aku berniat menjadikanmu sebagai bagian dari pengawal kerajaanku saat kau sudah lebih tua nanti.”

“Kau takkan pernah memiliki pengawal kerajaan. Apa menurutmu orang-orang takkan merasa aneh saat melihatmu tiba-tiba sembuh seperti ini? Bahkan jika tak ada seorang pun yang mengetahui soal Lissa, Tatiana takkan pernah menjadikanmu raja.”

“Mungkin kau benar, tapi itu tidak masalah. Ada banyak cara lain untuk mendapatkan kekuasaan. Terkadang kita perlu melewati jalur yang tidak biasa. Apa menurutmu Kenneth adalah satu-satunya Moroi yang mendukungku? Revolusi yang paling hebat dan paling kuat biasanya dimulai diam-diam, tersembunyi di balik bayangan.” Victor mengamati aku. “Ingat itu.”

Ada suara-suara aneh yang terdengar di pintu masuk ruang hukuman, dan aku melirik ke arahku masuk tadi. Para pengawal yang tadi membiarkanku masuk sudah menghilang. Dari sudut ruangan aku mendengar suara geraman dan derap langkah kaki. Aku mengerutkan kening dan menjulurkan leher agar bisa melihat lebih jelas.

Victor berdiri. “Akhirnya.”

Sepanjang tulang belakangku terasa merinding saking takutnya―setidaknya sampai aku melihat Natalie di sudut ruangan.

Gabungan rasa simpati dan amarah mengaliri tubuhku, tapi aku memaksakan sebuah senyum ramah. Natalie mungkin takkan melihat ayahnya lagi saat mereka membawanya pergi. Penjahat atau bukan, mereka seharusnya diizinkan untuk mengucapkan selamat tinggal.

“Hei,” aku berkata sambil menatap Natalie berjalan menghampiriku. Ada tekad yang tidak biasa dalam gerakan Natalie, sehingga sebagian diriku membisikkan ada sesuatu yang salah. “Kupikir mereka tidak membiarkanmu masuk.” Tentu saja, mereka juga seharusnya tidak membiarkanku masuk.

Natalie menghampiriku dan―tanpa melebih-lebihkan―melemparku ke dinding seberang. Tubuhku menghantam dinding dengan keras, dan ledakan bintang hitam menari-nari di depan mataku.

“Apa…” Aku meletakkan tangan di kening dan berusaha untuk bangkit. Sudah tidak memedulikanku, Natalie membuka sel Victor dengan serenceng kunci yang tadi kulihat menggantung pada sabuk pengawal. Aku terhuyung-huyung berdiri dan menghampirinya.

“Apa yang kaulakukan?”

Natalie mendongak menatapku, dan pada saat itulah aku melihatnya. Lingkaran merah samar yang ada di sekeliling pupil matanya. Kulitnya terlalu pucat, bahkan bagi seorang Moroi. Darah menodai pinggiran mulutnya. Dan yang paling terlihat jelas, tatapan matanya. Tatapan yang sangat dingin dan sangat jahat, jantungku nyaris berhenti berdetak. Tatapan itu menunjukkan bahwa Natalie sudah tidak termasuk kaum yang hidup lagi―sebuah tatapan yang mengatakan bahwa sekarang dia sudah menjadi Strigoi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s