Vampire Academy #2 : Frostbite

Vampire Academy 2 : Frostbite – Chapter 02

DIMITRI MENELEPON, DAN sebuah tim SWAT muncul.

Tetapi mereka baru datang setelah dua jam, dan setiap menit yang berlalu terasa bagaikan satu tahun. Akhirnya aku tidak tahan lagi dan kembali ke mobil. Dimitri memeriksa rumah secara lebih menyeluruh, lalu ikut duduk di sampingku. Kami tidak berbicara selama menunggu. Kilasan gambar mengerikan yang terjadi di dalam terus-menerus menghantui pikiranku. Aku merasa ketakutan dan kesepian, berharap Dimitri memelukku untuk menenangkanku.

Aku segera memarahi diri sendiri karena menginginkan hal itu. Untuk keseribu kalinya aku mengingatkan diri bahwa Dimitri adalah instrukturku dan tidak punya urusan untuk memelukku, apa pun situasinya. Lagi pula, aku ingin menjadi kuat. Aku tidak mau menghambur ke pelukan seorang pria setiap kali mendapat masalah berat.

Saat kelompok pengawal yang pertama muncul, Dimitri membuka pintu mobil lalu melirik ke arahku. “Kau harus melihat cara mengatasi semua ini.”

Sejujurnya, aku tidak mau melihat rumah itu lagi, tetapi aku tetap membuntuti Dimitri. Para pengawal ini asing bagiku, tetapi Dimitri mengenal mereka. Sepertinya dia selalu mengenal semua orang. Kelompok ini terkejut saat melihat seorang novis di tempat kejadian, tetapi tak ada yang keberatan dengan kehadiranku di sana.

Aku berjalan di belakang saat mereka memeriksa rumah. Tak ada yang menyentuh barang-barang, tetapi mereka berlutut di depan mayat-mayat serta mengamati noda darah dan jendela yang rusak. Ternyata Strigoi tidak hanya menggunakan pintu depan dan teras belakang untuk memasuki rumah.

Para pengawal berbicara dengan tegas, sama sekali tidak terlihat jijik atau takut seperti yang kurasakan. Mereka bagaikan mesin. Salah seorang dari mereka, satu-satunya wanita dalam kelompok itu, berjongkok di samping Arthur Schoenberg. Aku langsung tertarik karena jarang melihat pengawal perempuan. Aku mendengar Dimitri memanggilnya Tamara, dan kelihatannya dia berusia dua puluh lima tahun. Rambut hitamnya hanya sebatas pundak, seperti umumnya pengawal perempuan.

Kesedihan terpancar dari mata kelabunya saat mengamati wajah pengawal yang sudah mati itu. “Oh, Arthur,” desahnya. Seperti Dimitri, wanita ini juga sanggup menyampaikan ratusan hal hanya dalam beberapa kata. “Tak pernah kuduga ini akan terjadi. Dia mentorku.” Seraya mendesah lagi, Tamara berdiri.

Wajahnya langsung terlihat serius lagi, seolah pria yang dulu melatihnya tidak terbaring mati di hadapannya. Aku tak bisa percaya ini. Pria itu mentornya. Bagaimana mungkin dia sanggup mengendalikan diri sekuat ini? Selama setengah detik, aku membayangkan melihat Dimitri terbaring mati di lantai. Tidak. Tidak mungkin aku bisa setenang itu jika dalam posisi Tamara. Aku mungkin akan histeris. Aku mungkin akan menjerit-jerit dan menendang segala macam benda. Aku mungkin akan memukul siapa pun yang berusaha menenangkanku dengan mengatakan semuanya baik-baik saja.

Untungnya, aku tidak percaya ada orang yang mampu mengalahkan Dimitri. Aku pernah melihatnya membunuh Strigoi tanpa mengeluarkan keringat setetes pun. Dimitri tak terkalahkan. Dia seorang jagoan. Seorang dewa.

Tentu saja, Arthur Schoenberg juga dulu seperti itu.

“Bagaimana mereka melakukannya?” cetusku. Enam pasang mata menoleh padaku. Kusangka Dimitri akan menatapku dengan pandangan mencela, tetapi ternyata dia hanya kelihatan penasaran. “Bagaimana mereka membunuhnya?”

Tamara mengangkat bahu sedikit, wajahnya masih tenang. “Seperti cara mereka membunuh yang lain. Dia bukan makhluk abadi, sama seperti kita semua.”

“Yeah, tapi dia kan… Arthur Schoenberg.”

“Bagaimana kalau kau yang memberitahu kami, Rose,” kata Dimitri. “Kau sudah melihat rumahnya. Katakan cara mereka melakukannya.”

Ketika mereka menatapku, tiba-tiba aku tersadar bahwa mungkin saja seharian ini aku sedang menjalani ujian. Aku memikirkan semua hal yang sejak tadi kuperhatikan dan kudengar. Aku menelan ludah, berusaha menyimpulkan bagaimana yang mustahil menjadi mungkin.

“Ada empat titik jalan masuk, artinya sedikitnya ada empat Strigoi. Di rumah ini ada tujuh Moroi.” Keluarga yang menghuni rumah ini sedang menjamu beberapa tamu sehingga pembantaiannya sedahsyat ini. Tiga korban adalah anak kecil. “…dan tiga pengawal. Yang tewas terlalu banyak. Empat Strigoi tak mungkin membantai sebanyak itu. Enam Strigoi mungkin sanggup jika membunuh para pengawal lebih dulu dan melakukannya saat mereka sedang lengah. Keluarga Moroi itu pasti terlalu panik untuk melawan.”

“Dan bagaimana cara mereka menyerang saat para pengawal sedang lengah?” desak Dimitri.

Aku ragu-ragu. Para pengawal, sesuai aturan umum, tidak boleh lengah. “Karena pertahanannya berhasil ditembus. Di rumah yang tidak dilengkapi pertahanan sihir, mungkin akan ada pengawal yang berjaga-jaga di halaman pada malam hari. Tapi mereka tidak melakukannya di sini.”

Aku menunggu pertanyaan selanjutnya yang pasti mengenai cara yang digunakan untuk menembus pertahanannya. Tetapi Dimitri tidak menanyakannya. Tidak perlu. Kami semua sudah tahu jawabannya. Kami sudah melihat pasaknya. Aku kembali bergidik. Manusia yang bekerja sama dengan Strigoi―sekelompok besar Strigoi.

Dimitri hanya mengangguk kecil sebagai tanda persetujuan, dan kelompok itu melanjutkan pemeriksaan. Saat kami tiba di kamar mandi, aku membuang muka. Aku sudah melihat ruangan ini bersama Dimitri, dan tidak berminat mengulangi pengalaman itu. Di dalam kamar mandi itu ada mayat seorang pria, dan darah keringnya terlihat mencolok di atas lantai keramik putih. Selain itu, karena ruangan ini berada di dalam, udaranya tidak sedingin ruangan di dekat teras. Jadi tak ada proses pengawetan. Mayatnya belum busuk, tetapi tidak harum juga.

Tetapi saat memalingkan wajah, aku menangkap sesuatu yang berwarna merah gelap―malah cenderung cokelat―di cermin. Aku tadi tidak melihatnya karena perhatianku terpaku pada semua hal lain di tempat ini. Pada permukaan cermin ada sebuah pesan yang ditulis dengan darah.

Sungguh malang nasib keluarga Badica. Hanya sedikit yang tersisa. Satu keluarga bangsawan nyaris musnah. Yang lainnya akan menyusul.

Tamara mendengus jijik dan berpaling dari cermin, mengamati detail lainnya yang ada di kamar mandi. Tetapi ketika kami keluar, kata-kata itu terus mengiang dalam kepalaku. Satu keluarga bangsawan nyaris musnah. Yang lainnya akan menyusul.

Memang benar, keluarga Badica adalah salah satu klan bangsawan terkecil. Tetapi mereka yang terbunuh di sini sama sekali bukan keturunan terakhir Badica. Mungkin masih ada sekitar dua ratus orang anggota keluarga Badica yang tersisa di luar sana. Jumlah mereka tidak sebanyak keluarga lain, contohnya keluarga Ivashkov. Keluarga bangsawan ini sangat besar dan tersebar luas. Namun, jumlah keluarga Badica masih lebih banyak daripada beberapa keluarga bangsawan lain.

Contohnya keluarga Dragomir.

Lissa adalah satu-satunya anggota keluarga Dragomir yang masih tersisa.

Jika Strigoi ingin memusnahkan garis keturunan bangsawan, tidak ada yang lebih baik daripada mengincar Lissa. Darah Moroi memperkuat Strigoi, jadi aku memahami keinginan mereka untuk melakukannya. Kurasa secara spesifik membidik kaum bangsawan hanya bagian dari sifat kejam dan sadis mereka. Ironis rasanya Strigoi bermaksud menghancurkan kaum Moroi mengingat sebagian besar dari mereka dulunya bagian dari komunitas itu.

Cermin berisi ancaman itu terus menghantuiku selama kami berada di rumah tersebut, dan ketakutan serta kekagetanku berubah menjadi amarah. Bagaimana mungkin mereka melakukan ini? Bagaimana mungkin ada makhluk yang begitu sinting dan kejam sehingga sanggup melakukan semua ini pada sebuah keluarga―sehingga mau memusnahkan seluruh garis keturunannya? Bagaimana mungkin ada makhluk yang sanggup melakukan semua ini padahal dulu mereka sama seperti aku dan Lissa?

Memikirkan Lissa―dan memikirkan Strigoi yang ingin memusnahkan keluarga Lissa―membangkitkan amarah gelap dalam diriku. Intensitas emosi tersebut nyaris membuatku gila. Rasanya gelap dan muram, terus membengkak dan bergulung. Sebuah awan badai yang siap meledak. Tiba-tiba saja aku merasa ingin mencabik-cabik setiap Strigoi yang bisa kutemui.

Saat akhirnya naik ke mobil dan kembali ke St. Vladimir bersama Dimitri, aku membanting pintu mobil dengan begitu keras sehingga aku sendiri heran pintunya tidak copot.

Dimitri melirikku kaget. “Ada apa?”

“Apa kau serius?” seruku heran. “Bagaimana mungkin kau menanyakannya? Kau ada di sana. Kau melihatnya.”

“Memang,” kata Dimitri. “Tapi aku tidak melampiaskannya pada mobil.”

Aku memasang sabuk pengaman dan cemberut. “Aku benci mereka. Aku benci mereka semua! Coba aku ada di sana. Akan kusobek tenggorokan mereka!”

Aku hampir berteriak. Dimitri menatapku lekat-lekat―dengan wajah tenang―tetapi jelas dia takjub melihat ledakan amarahku.

“Kau benar-benar yakin dengan semua itu?” tanya Dimitri. “Setelah melihat apa yang dilakukan Strigoi di dalam sana, kaupikir bisa bertindak lebih baik daripada Art Schoenberg? Setelah melihat apa yang dilakukan Natalie kepadamu?”

Aku terdiam. Aku sempat berhadapan dengan sepupu Lissa, Natalie, saat dia berubah menjadi Strigoi, tepat sebelum Dimitri datang dan menjadi pahlawan. Bahkan sebagai Strigoi yang baru berubah―lemah dan belum bisa mengendalikan gerakannya―Natalie bisa melemparku ke seberang ruangan.

Aku menutup mata dan menghela napas dalam-dalam. Tiba-tiba saja aku merasa bodoh. Aku sudah melihat apa yang bisa diperbuat oleh Strigoi. Jika aku terburu-buru berusaha menjadi pahlawan, nasibku mungkin akan berakhir dalam kematian yang sangat cepat. Aku sedang berkembang menjadi pengawal tangguh, tetapi aku masih harus banyak belajar―dan seorang gadis berusia tujuh belas tahun tak mungkin sanggup melawan enam Strigoi.

Aku membuka mata. “Maafkan aku,” kataku setelah bisa mengendalikan diri lagi. Kemarahan yang tadi meledak mulai memudar. Aku tidak tahu dari mana datangnya. Aku memang mudah marah dan sering kali bertindak impulsif, tetapi ledakan emosi tadi termasuk para dan mengerikan, bahkan untukku. Aneh.

“Tak apa,” kata Dimitri. Dia meletakkan tangan di atas tanganku selama beberapa saat. Kemudian dia melepasnya dan menyalakan mobil. “Hari ini sangat melelahkan. Untuk kita semua.”

 

* * *

 

Ketika kami tiba di Akademi St. Vladimir sekitar tengah malam, semua orang sudah tahu soal pembantaian itu. Hari sekolah vampir baru saja berakhir, dan aku belum tidur selama lebih dari dua puluh empat jam. Mata dan tubuhku terasa berat, dan Dimitri langsung menyuruhku cepat-cepat kembali ke asrama untuk tidur. Tentu saja, Dimitri masih terlihat waspada dan siap menghadapi apa pun. Kadang-kadang aku bahkan tidak yakin dia pernah tidur. Dimitri pergi untuk membahas masalah serangan ini dengan para pengawal lainnya, dan aku berjanji padanya akan langsung tidur. Tetapi saat Dimitri sudah tidak terlihat, aku malah berbalik menuju perpustakaan. Aku harus menemui Lissa, dan menurut ikatan batin kami di sanalah dia sekarang berada.

Saat aku menyusuri jalan setapak berbatu di alun-alun yang menghubungkan asramaku dengan bangunan utama sekolah menengah, keadaannya gelap gulita. Salju sepenuhnya menutupi rumput, tetapi trotoarnya benar-benar bersih dari es ataupun salju. Ini mengingatkanku pada rumah keluarga Badica yang malang tadi.

Aula bersama berada di sebuah bangunan besar bergaya gotik yang lebih mirip lokasi pembuatan film berlatar abad pertengahan daripada sekolah. Di dalam bangunan, aura misterius dan sejarah kuno terus terpancar. Dinding batu yang rumit dan lukisan antik berseberangan dengan komputer dan lampu neon. Teknologi modern memang diterima di tempat ini, tetapi takkan pernah mendominasi.

Setelah menyelinap melalui gerbang elektronik perpustakaan, aku langsung ke sudut belakang tempat buku-buku geografi dan perjalanan wisata disimpan. Benar saja, aku menemukan Lissa duduk di lantai, bersandar pada rak buku.

“Hei,” kata Lissa, mendongak dari buku yang terbuka di atas lututnya. Dia menyibak beberapa helai rambut dari wajah. Kekasihnya, Christian, berbaring di lantai di dekatnya, kepalanya bersandar pada lutut Lissa yang lain. Christian menyapaku dengan anggukan kepala. Mengingat perdebatan yang kadang membara di antara kami berdua, anggukan itu bisa disamakan dengan pelukan hangat darinya. Meski Lissa tersenyum tipis, aku bisa merasakan ketegangan dan ketakutan yang dirasakannya. Emosi tersebut seakan mengalun dari ikatan batin kami.

“Kau sudah dengar,” kataku sambil duduk bersila.

Senyum Lissa menghilang, perasaan takut dan gelisah yang dirasakannya semakin menjadi-jadi. Aku senang hubungan batin kami membuatku bisa melindungi Lissa dengan lebih baik, tetapi sebenarnya aku tidak suka perasaan gelisahku sendiri berlipat ganda.

“Ini mengerikan,” kata Lissa bergidik. Christian bergeser dan menautkan jari pada jari Lissa. Lissa balas meremasnya. Mereka berdua benar-benar sedang jatuh cinta dan memperlakukan satu sama lain dengan sikap semanis gula; saking manisnya sehingga aku ingin menggosok gigi setelah berada di dekat mereka. Namun, mereka berdua sekarang terlihat pendiam, pasti gara-gara berita pembantaian itu. “Mereka bilang… mereka bilang di sana ada enam atau tujuh Strigoi. Dan katanya ada manusia yang membantu mereka menembus pertahanan.”

Aku menyandarkan kepala pada rak buku. Berita menyebar dengan cepat. Tiba-tiba saja aku merasa pusing. “Memang benar.”

“Benarkah?” kata Christian. “Kusangka semua itu berita yang dilebih-lebihkan.”

“Tidak…” Pada saat itu aku baru sadar bahwa tidak ada yang tahu ke mana aku pergi seharian ini. “Aku… aku ada di sana.”

Kedua mata Lissa melebar, kekagetan yang dirasakannya mengalir padaku melalui ikatan batin. Bahkan Christian―contoh sejati bocah “sok tahu”―terlihat muram. Kalau tidak ingat berapa mengerikannya kejadian itu, aku pasti girang melihat reaksi Christian.

“Kau bercanda,” kata Christian dengan suara tidak yakin.

“Kupikir kau sedang menjalani Kualifikasi….” Suara Lissa tiba-tiba mengecil.

“Mestinya begitu,” kataku. “Bisa dibilang aku berada di tempat dan waktu yang salah. Pengawal yang seharusnya mengujiku tinggal di rumah itu. Aku dan Dimitri baru akan masuk ke dalam rumah, dan…”

Aku tak sanggup meneruskan cerita. Gambaran mengenai darah dan kematian yang memenuhi rumah keluarga Badica melintas di benakku lagi. Wajah Lissa dan ikatan batin di antara kami menunjukkan kekhawatiran yang dirasakannya.

“Rose, kau baik-baik saja?” tanyanya dengan lembut.

Lissa sahabatku, tetapi aku tak mau dia tahu betapa takut dan kesalnya aku dengan kejadian ini. Aku ingin terlihat tangguh.

“Ya,” jawabku dengan rahang terkatup.

“Seperti apa rasanya?” tanya Christian. Suaranya terdengar penasaran, tetapi terselip rasa bersalah―seolah dia sadar bahwa penasaran mengenai hal mengerikan semacam ini keliru. Tetapi dia tak bisa menahan diri untuk tidak menanyakannya. Satu-satunya kesamaan di antara kami berdua adalah tidak bisa mengendalikan dorongan spontan.

“Rasanya…” Aku menggeleng. “Aku tak mau membicarakannya.”

Christian sudah hendak protes, tapi Lissa menyapukan tangan ke rambut hitam lurus Christian. Peringatan lembut itu segera membuat cowok itu terdiam. Sesaat suasana di antara kami terasa canggung. Saat membaca pikiran Lissa, aku bisa merasakan dia sedang berusaha keras mengalihkan topik pembicaraan.

“Mereka bilang kejadian ini akan mengacaukan semua acara liburan,” kata Lissa beberapa saat kemudian. “Bibinya Christian akan datang berkunjung, tapi sebagian besar orang sepertinya enggan bepergian. Mereka ingin anak-anak mereka tetap berada di tempat aman. Mereka khawatir kelompok Strigoi ini sedang berkeliaran.”

Sebelumnya aku tidak pernah memikirkan konsekuensi dari serangan seperti ini. Natal akan tiba sekitar satu minggu lagi. Biasanya, saat Natal kaum Moroi sibuk bepergian ke berbagai tempat. Para siswa pulang ke rumah untuk mengunjungi orangtua mereka, atau para orangtua datang menjenguk anak-anak mereka di kampus.

“Kejadian ini akan memisahkan banyak keluarga,” gumamku.

“Dan mengacaukan banyak acara kumpul-kumpul kaum bangsawan,” kata Christian. Keseriusannya yang tadi muncul sejenak sudah lenyap, dan kebiasaan sinisnya kembali. “Kau kan tahu bagaimana sikap mereka pada saat-saat seperti ini―bersaing mengadakan pesta termegah. Mereka pasti sangat kebingungan.”

Aku bisa membayangkannya. Hidupku memang berkutat dengan perkelahian, tetapi kaum Moroi jelas memiliki pertarungan mereka sendiri―terutama yang berhubungan dengan kaum terpandang dan bangsawan. Mereka menghadapi pertempuran dengan kata-kata dan aliansi politik, dan sejujurnya, aku lebih memilih metode tepat sasaran seperti memukul dan menendang. Lissa dan Christian sendiri harus menghadapi beberapa masalah. Mereka berasal dari keluarga bangsawan, itu artinya mereka mendapatkan banyak perhatian baik di dalam maupun di luar Akademi.

Keadaan mereka lebih buruk daripada keluarga bangsawan Moroi pada umumnya. Keluarga Christian hidup di bawah bayang-bayang kelam kedua orangtuanya. Kedua orangtua Christian berubah menjadi Strigoi atas kehendak sendiri, menukar sihir dan kehidupan mereka demi kehidupan abadi dan membunuh orang lain. Mereka kini sudah meninggal, tetapi kematian mereka belum menghilangkan ketidakpercayaan orang-orang pada Christian. Mereka beranggapan Christian bisa berubah menjadi Strigoi kapan saja dan memaksa yang lain untuk bergabung dengannya. Sikap kasar dan selera humor gelapnya juga tidak membuat keadaan menjadi lebih baik.

Lissa menjadi pusat perhatian karena dia satu-satunya yang masih hidup dalam keluarganya. Selain Lissa, tak ada Moroi lain yang memiliki cukup darah Dragomir sehingga berhak menyandang nama tersebut. Calon suaminya mungkin akan berada di suatu tempat dalam silsilah keluarganya untuk memastikan anak-anak Lissa kelak diakui sebagai keturunan Dragomir. Tetapi untuk sekarang, menjadi satu-satunya Dragomir membuat Lissa bagaikan selebriti.

Memikirkan semua ini tiba-tiba mengingatkanku pada peringatan yang tertulis di cermin. Aku merasa mual. Amarah gelap dan keputusasaan kembali bergejolak, tetapi aku mengabaikannya dengan sebuah lelucon.

“Kalian harus mencoba menyelesaikan masalah seperti kami. Sedikit perkelahian mungkin bisa membantu bangsawan seperti kalian.”

Lissa dan Christian tertawa mendengarnya. Christian mendongak menatap Lissa sambil tersenyum licik, memperlihatkan taringnya. “Bagaimana menurutmu? Taruhan aku bisa mengalahkanmu kalau kita bertarung satu lawan satu.”

“Kau pasti bermimpi,” goda Lissa. Perasaan gelisahnya mulai berkurang.

“Sebenarnya aku memang memimpikannya,” kata Christian menatapnya lekat-lekat.

Suara Christian terdengar begitu sensual sehingga membuat jantung Lissa langsung berdebar. Kecemburuan langsung menyerangku. Aku dan Lissa sudah bersahabat seumur hidup. Aku bisa membaca pikirannya. Tetapi kenyataannya, sekarang Christian menjadi bagian penting dalam kehidupan Lissa, dan dia punya peran yang tak bisa kugantikan―sama halnya dengan Christian yang tidak akan bisa ambil bagian dalam ikatan batin yang terjalin antara aku dan Lissa. Bisa dibilang kami berdua sama-sama menerima tetapi tidak menyukai kenyataan bahwa kami harus berbagi perhatian Lissa, dan kadang-kadang sepertinya gencatan senjata yang terjadi di antara kami setipis kertas.

Lissa mengusap pipi Christian. “Jaga sikapmu.”

“Sudah,” kata Christian, suaranya masih terdengar agak serak. “Kadang-kadang. Tapi kadang-kadang kau tak membiarkanku untuk…”

Seraya mengerang, aku pun berdiri. “Ya ampun. Aku akan pergi supaya kalian bisa berduaan.”

Lissa mengerjap dan mengalihkan tatapannya dari Christian, mendadak terlihat malu.

“Maaf,” gumamnya. Rona merah muda pucat menyebar ke pipinya. Karena kulit Lissa sangat pucat seperti umumnya kaum Moroi, rona itu malah membuatnya terlihat lebih cantik. Bukan berarti dia perlu sesuatu untuk menambah kecantikannya. “Kau tak perlu pergi…”

“Tidak apa-apa. Aku lelah,” aku meyakinkan Lissa. Christian tampaknya tidak terlalu kecewa melihat kepergianku. “Aku akan menemuimu besok.”

Aku mulai berbalik pergi, tetapi Lissa memanggilku. “Rose? Kau… kau yakin baik-baik saja? Setelah semua yang terjadi?”

Aku menatap mata hijau giok Lissa. Kekhawatiran yang dirasakannya begitu kuat dan dalam sehingga membuat dadaku terasa sakit. Aku mungkin lebih dekat dengan Lissa daripada siapa pun di dunia ini, tetapi aku tak mau dia mengkhawatirkan aku. Akulah yang bertugas memastikan keselamatannya. Seharusnya dia tidak terbebani denganku―terutama saat Strigoi tiba-tiba memutuskan membuat daftar korban yang terdiri atas kaum bangsawan.

Aku menyunggingkan senyum ceria. “Aku baik-baik saja. Tak ada yang perlu dikhawatirkan selain kemungkinan kalian berdua saling melucuti pakaian sebelum aku sempat pergi dari sini.”

“Kalau begitu, sebaiknya kau pergi sekarang juga,” kata Christian datar.

Lissa menyikutnya, dan aku memutar bola mata. “Selamat malam,” ucapku.

Begitu aku memunggungi mereka, senyumku langsung lenyap. Aku berjalan ke asrama dengan hati berat, berharap malam ini tidak akan bermimpi tentang keluarga Badica.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s