Vampire Academy #2 : Frostbite

Vampire Academy 2 : Frostbite – Chapter 03

LOBI ASRAMAKU SANGAT ribut ketika aku berlari menuruni tangga untuk berlatih sebelum sekolah dimulai. Kehebohan itu tidak mengejutkanku. Tidur nyenyak sudah membantuku melupakan kilasan gambar kejadian kemarin, tetapi aku tahu, baik aku maupun teman-teman sekelasku takkan bisa dengan mudah melupakan kejadian di luar kota Billings itu.

Namun, saat memperhatikan wajah dan kerumunan para novis lainnya, aku baru sadar ada sesuatu yang aneh. Ketakutan dan ketegangan akibat peristiwa kemarin masih tersisa, tetapi terlihat ada sesuatu yang baru; semangat. Ada dua novis baru yang hampir menjerit kegirangan sambil berbisik-bisik. Di dekat mereka, sekelompok pria sebayaku bergerak tak terkendali, wajah mereka cengar-cengir penuh semangat.

Pasti ada yang kulewatkan―kecuali sepanjang hari kemarin ternyata cuma mimpi. Aku berusaha keras tidak menghampiri salah satu dari mereka dan menanyakan apa yang terjadi. Kalau menunda lagi, aku akan terlambat latihan. Tetapi rasa penasaran ini benar-benar menggangguku. Apakah para Strigoi dan sekutu manusia mereka sudah ditemukan dan dibunuh? Tentunya ini berita bagus, tetapi firasatku mengatakan bukan itu yang terjadi. Aku membuka pintu depan, dengan sedih memutuskan menunggu sampai waktu sarapan untuk mencari tahu apa yang terjadi.

“Hathaway-ku, jangan tinggalkan daku,” sebuah suara riang memanggilku.

Aku melirik ke belakang dan tersenyum lebar. Mason Ashford, sesama novis dan teman baikku, berlari kecil menyamai langkahku.

“Memangnya umurmu berapa sih, dua belas tahun?” tanyaku sambil terus bergegas menuju gedung olahraga.

“Hampir,” katanya. “Aku merindukan senyum manismu kemarin. Kau ke mana?”

Ternyata keberadaanku di rumah keluarga Badica masih tidak banyak diketahui. Sebenarnya itu bukan rahasia, tetapi aku malas membahas peristiwa mengerikan itu. “Berlatih bersama Dimitri.”

“Astaga,” gumam Mason. “Pria itu selalu saja menyiksamu. Apa Dimitri tidak sadar dia sudah membuat kami kehilangan kecantikan dan pesona dirimu?”

“Senyum manis? Kecantikan dan pesona? Kau agak berlebihan pagi ini,” kataku sambil tertawa.

“Hei, aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Kau beruntung ada orang semenarik dan secemerlang aku yang memperhatikanmu sedalam itu.”

Aku masih nyengir. Mason penggoda ulung, dan terutama dia sangat senang menggodaku―sebagian karena aku menanggapinya dengan baik dan suka balas menggodanya. Tetapi aku tahu perasaannya kepadaku lebih dari sekadar persahabatan, dan aku masih mempertimbangkan perasaanku kepadanya. Aku dan Mason sama-sama memiliki selera humor konyol, dan cukup menonjol di kelas atau saat berkumpul bersama teman-teman. Mason memiliki mata biru yang indah dan rambut merah acak-acakan yang sepertinya tidak pernah disisir. Tetapi itu malah membuatnya imut.

Namun, berkencan dengan orang baru akan sulit dilakukan kalau aku masih sering memikirkan saat-saat aku setengah telanjang bersama Dimitri di tempat tidur.

“Menarik dan cemerlang, ya?” Aku menggelengkan kepala. “Kurasa perhatianmu padaku tidak sebesar pada egomu. Kau harus ditampar sedikit rupanya.”

“Oh ya?” tanyanya. “Hmm, kau bisa mencobanya di atas lereng.”

Aku berhenti di tempat. “Di atas apa?”

“Lereng.” Mason memiringkan kepala.“Kau tahu kan, perjalanan ski.”

“Perjalanan ski apa?” Aku jelas-jelas ketinggalan sesuatu yang penting.

“Kau ke mana saja pagi ini?”tanyanya, menatapku seolah aku orang gila.

“Di tempat tidur! Aku baru bangun, lima menit yang lalu. Nah, sekarang mulai dari awal dan beritahu aku apa yang kaubicarakan.” Aku menggigil kedinginan karena berhenti bergerak-gerak. “Tapi ceritakan sambil berjalan.”

“Begini, kau tahu kan semua orang cemas kalau anak-anak mereka pulang untuk Natal? Nah, di Idaho ada sebuah pondok ski raksasa yang khusus digunakan oleh para bangsawan dan kaum Moroi kaya raya. Pemiliknya membuka pondok itu untuk murid Akademi dan keluarga mereka―dan Moroi mana pun yang memang berminat pergi ke tempat itu. Dengan mengumpulkan semua orang di satu tempat, mereka akan menyediakan satu ton pengawal untuk melindungi tempat itu, jadi keadaannya benar-benar aman.”

“Kau pasti bercanda,” jawabku. Kami tiba di gedung olahraga lalu masuk ke dalam meninggalkan udara luar yang dingin.

Mason mengangguk penuh semangat.“Aku serius. Tempat itu pasti sangat mengagumkan.” Dia mengulas senyum yang selalu membuatku membalasnya. “Kita akan hidup bagaikan kaum bangsawan, Rose. Setidaknya selama satu minggu, kurang lebih. Kita berangkat satu hari setelah Natal.”

Aku hanya terpaku, senang sekaligus terpana. Benar-benar di luar dugaan. Ide ini benar-benar cemerlang, cara mempertemukan para anggota keluarga dengan aman. Dan tempat yang dipilih sangat keren! Pondok ski mewah. Tadinya kukira aku akan menghabiskan liburan dengan menonton televisi bersama Lissa dan Christian. Sekarang aku akan menghabiskannya di sebuah tempat berbintang lima. Makan malam dengan lobster. Pijat. Instruktur ski yang tampan….

Antusiasme Mason menular. Aku bisa merasakannya bergejolak di dalam diriku, tetapi kemudian, mendadak semuanya lenyap.

Mason melihat wajahku dan langsung menyadari perubahannya. “Ada apa? Rencana ini kan keren.”

“Memang,” aku mengakui. “Aku mengerti kenapa semua orang terlihat bersemangat, tapi yang menjadi alasan kita semua pergi ke tempat mewah ini karena, yah, karena kematian orang-orang. Maksudku, bukankah semua ini terasa aneh?”

Ekspresi ceria Mason memudar sedikit. “Yeah, tapi kita masih hidup, Rose. Kita tak boleh berhenti menikmati hidup hanya karena ada yang mati. Dan kita harus memastikan agar lebih banyak orang yang tidak ikut mati. Karena itulah ide ini sangat bagus. Tempat itu aman.” Tatapan Mason berubah marah. “Ya Tuhan, aku tidak sabar ingin cepat-cepat lulus dan terjun ke lapangan. Setelah mendengar apa yang terjadi, aku benar-benar ingin mencabik-cabik kaum Strigoi. Coba kita bisa pergi sekarang juga. Tidak ada alasan untuk menundanya. Mereka membutuhkan tenaga tambahan, dan bisa dibilang kita sudah tahu semua hal yang harus kita ketahui.”

Ketegasan dalam nada suara Mason mengingatkanku pada ledakan amarahku kemarin, meski dia tidak sekesal aku. Semangatnya untuk bertindak merupakan reaksi spontan dan naif, sedangkan ledakan amarahku berasal dari sesuatu yang tidak masuk akal, kelam, dan aneh, yang sampai saat ini belum bisa kupahami.

Karena aku tidak menjawab, Mason menatapku bingung. “Kau tidak mau melakukannya?”

“Entahlah, Mase.” Aku menunduk, menghindari tatapan Mason dengan berpura-pura mengamati ujung sepatuku.“Maksudku, aku juga tidak mau Strigoi berkeliaran di luar sana dan menyerang orang-orang. Dan secara teori aku ingin menghentikan mereka… tapi kita sama sekali belum siap. Aku pernah melihat apa yang sanggup mereka lakukan….Entahlah. Terburu-buru bukanlah jawabannya.” Aku menggeleng dan mendongak lagi. Astaga. Aku terdengar sangat logis dan waspada. Aku terdengar seperti Dimitri.“Sudahlah, toh itu tak akan terjadi. Kurasa sebaiknya kita menyambut rencana perjalanan itu dengan gembira, ya kan?”

Suasana hati Mason mudah berubah, dan dia sudah terlihat santai lagi. “Yap. Dan kau sebaiknya mengingat-ingat lagi cara bermain ski, karena aku menantangmu untuk menampar egoku di sana. Tapi sepertinya itu tidak bakal terjadi, deh.”

Aku tersenyum lagi. “Pasti menyedihkan rasanya kalau akumembuatmu menangis. Aku bahkan sudah merasa bersalah sekarang.”

Mason membuka mulut, sudah hendak membalas ejekanku ketika dia melihat sesuatu―atau lebih tepatnya, seseorang―di belakangku. Aku melirik ke belakang dan melihat sosok tinggi Dimitri menghampiri kami dari sisi luar gedung olahraga.

Mason membungkuk dalam-dalam dengan gaya kesatria padaku. “Tuan dan penguasamu. Sampai nanti, Hathaway. Mulailah merencanakan strategi ski dari sekarang.” Mason membuka pintu lalu menghilang ke tengah kegelapan yang membeku. Aku berbalik dan menghampiri Dimitri.

Seperti novis dhampir lainnya, aku menghabiskan setengah hari sekolah dengan berbagai bentuk pelatihan pengawal. Bentuknya bisa pertarungan fisik sungguhan, atau mempelajari Strigoi dan cara mempertahankan diri saat melawan mereka. Para novis juga terkadang harus menjalani latihan seusai sekolah. Namun, aku sendiri berada dalam situasi yang unik.

Aku masih berpendapat keputusanku untuk melarikan diri dari St. Vladimir itu benar. Ancaman Victor Dashkov pada Lissa terlalu mengkhawatirkan. Tetapi liburan diperpanjang kami itu ada konsekuensinya. Kabur dari sekolah selama dua tahun membuatku ketinggalan kelas, jadi pihak sekolah memutuskan aku harus menebus semua itu dengan menjalani latihan-latihan tambahan sebelum dan sepulang sekolah.

Bersama Dimitri.

Pihak sekolah sama sekali tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya juga memberiku pelajaran lain, yaitu menghindari godaan. Tetapi terlepas dari ketertarikanku pada Dimitri, aku cepat belajar, dan dengan bantuannya aku hampir menyusul murid senior yang lain.

Karena Dimitri tidak mengenakan mantel, aku tahu hari ini kami akan berlatih di dalam ruangan―yang merupakan kabar bagus. Cuaca di luar sangat dingin. Namun, kebahagiaanku itu sama sekali tidak sebanding dengan yang kurasakan saat melihat benda yang sudah disiapkan oleh Dimitri di salah satu ruang latihan.

Beberapa boneka latihan sudah diatur pada dinding seberang, boneka yang terlihat benar-benar hidup, bukan kantong kanvas berisi jerami. Boneka itu terdiri atas pria dan wanita yang mengenakan pakaian biasa, dengan kulit lentur, juga warna rambut dan mata yang berbeda-beda. Ekspresi mereka berlainan, ada yang bahagia, takut, marah. Aku pernah berlatih dengan boneka-boneka ini. Aku menggunakan mereka untuk melatih tendangan dan pukulan. Namun, aku belum pernah berlatih dengan boneka-boneka ini sambil memegang benda yang sekarang digenggam oleh Dimitri―sebuah pasak perak.

“Keren,” desahku.

Pasak itu persis dengan yang kutemukan di rumah keluarga Badica. Bagian bawahnya dilengkapi pegangan, mirip gagang namun tanpa bagian kecil yang menonjol. Tetapi kemiripannya dengan belati hanya sampai di situ. Alih-alih rata seperti mata pisau, bagian tengah pasak ini berbentuk bulat dan melancip hingga ke ujungnya. Lebih menyerupai pisau es. Panjang keseluruhan pasak itu agak lebih pendek daripada lengan atasku.

Dimitri bersandar ke dinding dengan santai, dalam posisi yang begitu luwes padahal tinggi badannya hampir dua meter. Dengan sebelah tangan, Dimitri melempar pasaknya ke udara. Pasak itu jungkir balik beberapa kali sebelum akhirnya terjatuh. Dimitri menangkap gagangnya.

“Tolong katakan hari ini aku akan mempelajari cara melakukan itu,” kataku.

Kedua mata gelapnya sekilas tampak geli. Kurasa kadang-kadang Dimitri kesulitan memasang tampang datar saat berada di dekatku.

“Kau beruntung kalau kubiarkan memegang pasak hari ini,” katanya. Dimitri kembali melempar pasak ke udara. Mataku mengikuti benda itu dengan tatapan kepingin. Aku sudah hendak mengatakan pernah memegang pasak, tetapi aku tahu logika tersebut tidak akan menghasilkan apa-apa.

Alih-alih, aku menjatuhkan ransel ke lantai, melemparkan mantel, lalu menyilangkan lengan penuh antisipasi. Aku memakai celana longgar yang diikat di pinggang, tank top, dan jaket bertudung. Rambut gelapku dikuncir asal-asalan ke belakang. Aku siap menghadapi apa pun.

“Kau ingin aku memberitahumu cara kerja pasak dan kenapa aku harus selalu berhati-hati saat berada di dekat senjata ini,” kataku lantang.

Dimitri berhenti melempar-lempar pasak dan menatapku takjub.

“Ayolah,” ucapku tertawa. “Kaupikir sampai sekarang aku masih belum paham cara kerjamu? Kita sudah hampir tiga bulan berbuat ini. Kau selalu menyuruhku memahami keselamatan dan tanggung jawabnya sebelum aku bisa bersenang-senang.”

“Baik,” katanya. “Kurasa kau sudah mengerti sekarang. Nah, silakan lanjutkan pelajarannya. Aku akan menunggu di sini sampai kau membutuhkan aku lagi.”

Dimitri memasukkan pasaknya ke dalam sarung kulit yang berayun dari ikat pinggangnya, lalu membuat dirinya nyaman dengan bersandar di dinding, kedua tangan dimasukkan ke dalam saku. Aku menunggu, menebak-nebak apakah dia hanya bercanda. Tetapi ketika dia tidak mengatakan apa-apa lagi, aku sadar dia tidak main-main. Sambil mengangkat bahu, aku menyebutkan segala hal yang kuketahui.

“Perak selalu menimbulkan dampak kuat pada semua makhluk sihir―benda itu bisa menolong sekaligus menyakiti mereka jika kau memasang kekuatan yang cukup. Pasak perak benar-benar mematikan karena butuh empat orang Moroi untuk membuatnya, dan mereka menggunakan semua elemen saat menempanya.” Aku mengernyit, tiba-tiba teringat pada sesuatu.“Kecuali roh. Jadi, benda ini sangat kuat dan satu-satunya senjata yang bisa melukai Strigoi tanpa memenggal kepala mereka―tetapi untuk membunuh mereka, pasaknya harus ditusukkan menembus jantung.”

“Apa pasak bisa menyakitimu?”

Aku menggeleng. “Tidak. Maksudku, kalau ditusukkan ke dalam jantungku, tentu saja aku akan kesakitan. Tetapi pasak tidak melukaiku seperti melukai Moroi. Gores saja mereka dengan pasak, mereka akan terluka cukup parah―tapi tidak separah dampaknya pada Strigoi. Dan pasak ini juga tidak akan melukai manusia.”

Aku berhenti sejenak dan menatap linglung jendela di belakang Dimitri. Serpihan es menutupi kaca dalam pola-pola yang terlihat bagaikan kristal berkilau, tetapi aku hampir tidak menyadarinya. Saat menyebut manusia dan pasak, pikiranku mengelana kembali ke rumah keluarga Badica. Darah dan kematian berkelebat dalam benakku.

Melihat Dimitri mengawasiku, aku langsung menyingkirkan kenangan itu dan melanjutkan pelajaran. Sesekali Dimitri akan mengangguk atau mengajukan pertanyaan. Seiring waktu yang berlalu, aku terus berharap Dimitri akan berkata bahwa tugasku sudah selesai dan kini bisa mulai menggunakan boneka-boneka itu. Tetapi Dimitri malah menunggu sampai hampir sepuluh menit sebelum latihan berakhir, baru setelah itu mengajakku menghampiri salah satu boneka―boneka seorang pria berambut pirang dan berjanggut. Dimitri mengeluarkan pasak dari sarungnya, tetapi tidak menyerahkannya padaku.

“Di mana kau akan menusukkannya?”tanya Dimitri.

“Di jantung,” jawabku kesal. “Aku sudah mengatakannya ratusan kali. Bisa kauserahkan pasak itu sekarang?”

Dimitri membiarkan dirinya tersenyum. “Di mana letak jantungnya?”

Aku memberinya tatapan apa-kau-serius. Dimitri hanya mengangkat bahu.

Dengan penekanan berlebihan, aku menuding sebelah kiri dada boneka. Dimitri menggeleng.

“Jantungnya bukan ada di sana,”katanya.

“Tentu saja ada di sana. Semua orang meletakkan tangan di atas jantung saat mengucapkan sumpah setia atau menyanyikan lagu kebangsaan.”

Dimitri terus menatapku penuh tanya.

Aku berbalik menghadap boneka dan mengamatinya. Aku teringat saat sedang mempelajari teknik pernapasan bantuan dan tempat kami harus meletakkan tangan. Aku menepuk bagian tengah dada boneka itu.

“Apa di sana?”

Sebelah alis Dimitri terangkat. Biasanya aku menganggapnya keren. Tetapi hari ini hal itu terlihat menyebalkan.“Aku tak tahu,” katanya. “Benarkah di sana?”

“Itu yang kutanyakan!”

“Kau seharusnya tidak perlu bertanya. Bukankah kalian semua harus mengambil kelas fisiologi?”

“Yeah. Tahun pertama. Aku sedang‘berlibur,’ ingat?” Aku menuding pasak yang mengilap itu. “Sekarang boleh aku menyentuhnya?”

Dimitri kembali memutar pasak, membiarkannya berkilau di bawah cahaya, lalu mengembalikannya ke dalam sarung.“Aku ingin kau memberitahuku di mana letak jantungnya saat kita bertemu lagi. Letak persisnya. Dan aku ingin tahu apa yang menghalanginya.”

Aku memelototi Dimitri, tetapi―jika melihat ekspresinya―sepertinya tidak segalak yang kuharapkan. Sembilan dari sepuluh kali kesempatan, aku menganggap Dimitri sebagai makhluk terseksi di muka bumi. Namun, ada juga saat-saat seperti sekarang….

Dengan kesal aku berjalan menuju pelajaran pertama hari ini―kelas bertarung. Aku tidak suka terlihat tidak kompeten di hadapan Dimitri, dan aku benar-benaringin menggunakan pasak. Jadi, di kelas aku menyalurkan kekesalan pada siapa pun yang bisa kupukul atau kutendang. Ketika kelas berakhir, tidak ada yang mau bertarung melawanku. Aku tidak sengaja memukul Meredith―salah satu dari sedikit cewek yang ada di kelas―dengan begitu keras sehingga dia bisa merasakannya melalui pelindung dagunya. Meredith pasti akan mendapatkan lebam yang parah, dan kini dia terus-menerus menatapku seolah aku melakukannya dengan sengaja. Permintaan maafku sia-sia.

Setelah itu, Mason menemuiku lagi.“Wow,” katanya, mengamati wajahku. “Siapa yang sudah membuatmu kesal?”

Aku langsung bercerita tentang pasak perak dan semua kekesalan hatiku.

Yang membuatku semakin jengkel, Mason malah tertawa. “Kok kau bisa tidak tahu di mana letak jantung? Mengingat banyaknya jantung cowok patah hati yang sudah kaulukai?”

Aku memelototinya seperti yang tadi kulakukan pada Dimitri. Kali ini berhasil. Wajah Mason langsung terlihat pucat.

“Belikov adalah cowok jahat sinting yang harus dilemparkan ke dalam lubang berisi ular buas karena sudah melakukan kejahatan besar kepadamu pagi ini.”

“Terima kasih,” ucapku angkuh. Kemudian, terpikir olehku sesuatu. “Memangnya ular bisa buas?”

“Kenapa tidak? Semua makhluk bisa jadi buas. Sepertinya.” Mason membukakan pintu selasar untukku. “Tapi angsa Kanada bisa lebih mengerikan daripada ular.”

Aku meliriknya sekilas. “Angsa Kanada lebih mematikan daripada ular?”

“Kau pernah memberi makan bajingan-bajingan kecil itu?” tanyanya, berusaha tetap serius namun gagal.“Mereka ganas. Kalau kau dilemparkan ke dalam lubang berisi ular, kau akan mati dengan cepat. Tetapi lubang berisi angsa? Siksaan akan berlangsung selama berhari-hari. Kau akan lebih menderita.”

“Wow. Aku tidak tahu apa harus merasa terkesan atau takut karena kau sudah memikirkan semua ini,” seruku.

“Aku hanya berusaha mencari cara kreatif untuk mengembalikan kehormatanmu, itu saja.”

“Tapi kupikir kau bukan jenis orang yang kreatif, Mase.”

Kami berdiri di luar ruang kelas pelajaran kedua. Ekspresi wajah Mason masih terlihat ringan dan penuh canda, tetapi saat dia bicara lagi, nada suaranya terdengar agak menjurus. “Rose, kalau berada di dekatmu, aku memikirkan segala macam hal kreatif untuk dilakukan.”

Aku masih terkikik karena soal ular tadi, lalu tiba-tiba berhenti dan memandanginya dengan terkejut. Aku selalu menganggap Mason cukup imut, tetapi dengan tatapan membara yang serius seperti ini, mendadak terpikir olehku bahwa sebenarnya dia cukup seksi juga.

“Oh, coba lihat,” Mason tertawa, menyadari bahwa aku lengah. “Rose tidak sanggup berkata-kata. Satu untuk Ashford, dan kosong untuk Hathaway.”

“Hei, aku tak mau membuatmu menangis sebelum perjalanan ski. Tidak bakal menyenangkan kalau aku sudah membuatmu kecewa sebelum kita meluncur di atas lereng bersalju.”

Mason tertawa dan kami masuk ke dalam. Ini kelas teori pengawal, yang diadakan di dalam ruang kelas sungguhan alih-alih di lapangan latihan. Kelas ini bisa dianggap sebagai selingan menyenangkan setelah semua siksaan fisik. Di depan kelas tampak tiga pengawal yang bukan berasal dari resimen sekolah. Para tamu hari raya, aku tersadar. Para orangtua dan pengawal mereka sudah mulai berdatangan ke kampus untuk menemani anak-anak mereka ke resor ski. Ketertarikanku akan perjalanan ini langsung menurun.

Salah satu tamu adalah seorang pria tinggi yang kelihatan berumur seratus tahun namun masih sanggup menghabisi orang lain. Tamu yang satu lagi kira-kira sebaya dengan Dimitri. Pria itu berkulit gelap terbakar matahari dan tubuhnya begitu tegap sehingga beberapa cewek di kelas terlihat nyaris pingsan.

Pengawal terakhir seorang wanita. Rambut keritingnya yang kemerahan dipotong pendek, dan kedua mata cokelatnya terlihat menyipit seperti sedang berpikir. Seperti yang pernah kukatakan, banyak wanita dhampir yang lebih memilih punya anak daripada menjadi pengawal. Karena aku juga salah satu dari sedikit perempuan yang memilih profesi ini, aku selalu senang bertemu dengan perempuan pengawal lain―seperti Tamara.

Namun, wanita ini bukan Tamara. Wanita ini orang yang sudah kukenal selama bertahun-tahun, orang yang memicu segala emosi kecuali kebanggaan dan kegembiraan. Alih-alih, aku merasa kesal. Kesal, marah, dan sangat murka.

Wanita yang berdiri di depan kelas itu ibuku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s