Vampire Academy #2 : Frostbite

Vampire Academy 2 : Frostbite – Chapter 04

AKU TAK PERCAYA. Janine Hathaway. Ibuku. Ibuku yang luar biasa terkenal dan tidak pernah ada di sampingku. Ibuku memang bukan Arthur Schoenberg, tetapi reputasinya cukup tenar di dunia pengawal. Sudah bertahun-tahun aku tidak bertemu dengannya karena dia selalu pergi untuk menjalankan misi berbahaya. Namun… kini dia ada di Akademi―tepat di hadapanku―dan dia bahkan tidak merasa perlu mengabariku tentang kedatangannya. Apalagi menunjukkan kasih sayang seorang ibu.

Lagi pula, apa yang dilakukan ibuku di sini? Jawabannya datang saat itu juga. Semua Moroi yang berkunjung ke kampus pasti membawa serta para pengawal mereka. Ibuku bertugas melindungi seorang bangsawan yang berasal dari klan Szelsky, dan beberapa orang anggota keluarga itu datang untuk berlibur. Tentu saja ibuku ikut bersama mereka.

Aku menyelinap duduk di kursi dan merasakan sesuatu bergolak di dalam perutku. Aku tahu ibuku pasti sudah melihatku masuk, tetapi perhatiannya sedang terpusat pada hal lain. Dia memakai celana jins dan kaus berwarna beige, melapisinya dengan jaket denim paling membosankan yang pernah kulihat. Dengan tinggi badan hanya satu setengah meter, dia terlihat sangat kerdil di samping pengawal lainnya, tetapi pembawaan dan cara berdirinya membuat ibuku terlihat lebih tinggi.

Instruktur kami, Stan, memperkenalkan para tamu dan menjelaskan bahwa mereka akan berbagi pengalaman dengan kami.

Stan berjalan mondar-mandir di depan kelas, alis tebalnya bertaut saat dia bicara. “Aku tahu ini tidak biasa,” jelasnya. “Pengawal yang berkunjung biasanya tidak sempat mampir di kelas kita. Tetapi ketiga tamu kita sudah meluangkan waktu untuk bicara di depan kelas sehubungan dengan peristiwa yang terjadi baru-baru ini…” Stan berhenti sejenak, dan tak ada yang perlu menjelaskan peristiwa yang dimaksudnya. Serangan pada keluarga Badica. Stan berdeham dan melanjutkan. “Mengingat peristiwa yang baru saja terjadi, kami beranggapan sebaiknya mempersiapkan kalian untuk mempelajari sesuatu dari mereka yang sekarang sudah terjun di lapangan.”

Seisi kelas tegang saking senangnya. Mendengarkan cerita―terutama yang berisi banyak darah dan aksi―jauh lebih menarik daripada menganalisis teori dari buku teks. Pengawal kampus yang lain sepertinya berpikiran sama. Mereka memang sering mendatangi kelas kami, tetapi hari ini jumlah mereka lebih banyak dari biasanya. Dimitri adalah salah satu dari mereka yang berdiri di belakang kelas.

Si pria tua yang pertama bicara. Dia menyampaikan kisahnya, dan aku langsung terpana. Dia menceritakan kejadian saat putra bungsu dari keluarga yang menjadi tanggung jawabnya tiba-tiba menghilang di sebuah tempat umum yang sedang diintai oleh Strigoi.

“Matahari baru akan terbenam,” kata pria itu dengan suara muram. Dia menyapukan kedua tangan ke bawah, seolah menunjukkan bagaimana proses matahari terbenam. “Kami hanya berdua dan harus membuat keputusan singkat untuk mengatasinya.”

Aku memajukan badan, kedua siku di atas meja. Pengawal kerap bekerja berpasangan. Yang satu―pengawal dekat―biasanya berada di dekat orang yang sedang mereka lindungi, sementara yang lain―pengawal jauh―mengamankan area sekitarnya. Pengawal jauh biasanya masih berada dalam jangkauan pandang, jadi aku memahami dilema yang mereka alami. Setelah dipikir-pikir, kalau aku berada dalam situasi seperti itu, aku akan meminta pengawal dekat untuk membawa anggota keluarga yang lain ke lokasi aman sementara pengawal jauh mencari si bocah yang hilang.

“Akhirnya kami membawa keluarga itu ke dalam sebuah restoran dengan penjagaan rekanku, sementara aku menyapu seluruh area di sana,” lanjut si pengawal tua. Dia merentangkan tangan dengan gerakan menyapu, dan aku langsung merasa sombong karena tebakanku tepat. Kisah itu berakhir bahagia, mereka menemukan si bocah lelaki dan tidak berpapasan dengan Strigoi.

Pria kedua, si pengawal tampan, menceritakan anekdot saat dia mengalahkan seorang Strigoi yang sedang mengincar Moroi.

“Aku sebenarnya sedang tidak bertugas,” katanya. Seorang cewek yang duduk di dekatku menatapnya dengan mata melebar dan memuja. “Aku sedang mengunjungi seorang teman dan keluarga yang dilindunginya. Saat meninggalkan apartemen mereka, aku melihat seorang Strigoi sedang mengintai di balik bayangan. Dia tidak menduga ada pengawal yang berada di luar. Aku mengitari blok, menghampirinya dari belakang, lalu…” Pria itu melakukan gerakan menusuk, jauh lebih dramatis daripada gerakan tangan pria tua tadi. Dongeng tersebut bahkan melibatkan gerakan memuntir pasak hingga menembus jantung si Strigoi.

Kemudian, tiba giliran ibuku. Wajahku langsung cemberut bahkan sebelum dia berkata-kata, dan kerutan pada wajahku itu semakin dalam saat dia memulai ceritanya. Sumpah deh, kalau tidak memercayai ketidakmampuannya dalam berimajinasi―dan pilihan busananya yang membosankan yang menunjukkan bahwa dia benar-benar tidak memiliki imajinasi―aku pasti mengira ibuku berbohong. Ceritanya sungguh luar biasa. Lebih mirip epik, jenis yang akan dibuat menjadi film dan memenangi piala Oscar.

Ibuku menceritakan saat Moroi yang menjadi tanggung jawabnya, Lord Szelsky, dan istrinya menghadiri acara pesta dansa yang diadakan oleh keluarga bangsawan terpandang lainnya. Ada beberapa Strigoi yang mengintai. Ibuku menemukan satu dari mereka, bergegas menangkapnya, lalu memperingatkan para pengawal lain yang hadir di sana. Dengan bantuan mereka, dia memburu Strigoi lain yang berkeliaran di sana dan membunuh sebagian besarnya sendirian.

“Itu tidak mudah,” jelasnya. Jika orang lain yang mengucapkan pernyataan itu mungkin akan terdengar seperti sedang menyombongkan diri. Tetapi tidak ibuku. Gaya berbicaranya terdengar tegas, menyampaikan fakta dengan begitu efisien sehingga tidak ada ruang untuk mengada-ada. Ibuku dibesarkan di Glasgow dan sebagian besar ucapannya masih memiliki aksen samar Skotlandia. “Di dalam bangunan itu masih ada tiga Strigoi lain. Pada saat itu, jumlah ini termasuk sangat besar untuk sebuah kelompok yang bekerja sama. Tetapi sekarang tidak bisa dibilang begitu, mengingat pembantaian keluarga Badica.”

Beberapa orang mengernyit mendengar gayanya yang santai saat membicarakan serangan itu. Mayat-mayat itu kembali terbayang dalam benakku. “Kami harus mengatasi Strigoi yang tersisa secepat dan setenang mungkin agar tidak disadari oleh yang lain. Nah, kalau kau memiliki elemen kejutan, cara terbaik mengatasi Strigoi adalah hampiri mereka dari belakang, patahkan leher mereka, lalu tusuk dengan pasak. Tentu saja, mematahkan leher takkan membunuh mereka, tapi itu bisa membuat mereka terpana sehingga memudahkanmu untuk menusuk sebelum mereka sempat bersuara. Sebenarnya, bagian yang paling sulit adalah menyelinap diam-diam ke belakang Strigoi. Pendengaran mereka sangat tajam. Karena tubuhku kecil dan ringan, maka kemungkinanku untuk bergerak tanpa bersuara lebih besar. Jadi, akhirnya akulah yang melakukan dua dari tiga pembunuhan itu.”

Lagi-lagi, ibuku terdengar apa adanya saat menggambarkan keahliannya mengendap-endap. Kedengarannya sangat menyebalkan, bahkan lebih menyebalkan daripada kalau dia terang-terangan menyombongkan diri. Wajah teman-teman sekelasku tampak bersinar kagum. Mereka jelas kelihatan lebih tertarik pada gagasan mematahkan leher Strigoi daripada menganalisis kemampuan bercerita ibuku.

Ibuku melanjutkan ceritanya. Setelah dia dan pengawal lainnya membunuh Strigoi yang tersisa, mereka baru sadar bahwa ada dua Moroi yang diculik dari pesta. Perbuatan seperti itu bukan tidak biasa dilakukan Strigoi. Terkadang mereka ingin menyimpan Moroi untuk dijadikan “camilan”. Kadang-kadang ada Strigoi golongan rendah yang diperintahkan oleh golongan yang lebih kuat untuk membawa pulang mangsa mereka. Apa pun yang terjadi, ada dua orang Moroi yang menghilang dari pesta dan pengawal mereka terluka.

“Tentu saja, kami tidak bisa membiarkan kedua Moroi itu berada dalam genggaman Strigoi,” katanya. “Kami melacak Strigoi itu sampai ke tempat persembunyian mereka dan menemukan beberapa dari mereka hidup bersama. Aku yakin kalian tahu betapa jarangnya itu terjadi.”

Memang benar. Sifat jahat dan egois kaum Strigoi membuat mereka saling melawan semudah yang mereka lakukan pada korban mereka. Mengatur serangan―mengingat hanya keinginan mendesak akan darah yang ada dalam benak mereka―adalah hal terbaik yang bisa mereka lakukan. Tetapi tinggal bersama? Tidak. Hampir mustahil untuk dibayangkan.

“Kami berhasil membebaskan dua Moroi yang diculik, dan ternyata kami menemukan Moroi lainnya yang juga dijadikan tawanan,” kata ibuku. “Tapi, kami tak bisa menyuruh Moroi yang kami selamatkan itu pulang sendirian, jadi para pengawal yang ikut bersamaku pergi mengantar mereka, dan tugas untuk menyelamatkan yang lainnya diserahkan kepadaku.”

Ya, tentu saja, pikirku. Ibuku yang pemberani pergi sendirian. Di tengah jalan, dia sempat tertangkap, tetapi berhasil melarikan diri dan menyelamatkan para tawanan. Saat melakukannya, ibuku melakukan sesuatu yang mungkin bisa dianggap sebagai hattrick terhebat abad ini. Dia berhasil membunuh Strigoi dengan tiga cara berbeda: menusuk dengan pasak, memenggal kepala, dan membakar tubuh mereka.

“Aku baru saja menusuk seorang Strigoi dengan pasak saat ada dua lainnya datang menyerang,” jelasnya. “Aku tidak sempat mencabut pasaknya saat mereka melompat ke arahku. Untungnya, di dekat sana ada sebuah perapian, dan aku mendorong salah satu dari mereka ke dalamnya. Strigoi yang terakhir mengejarku ke luar, ke sebuah gubuk tua. Di dalam gubuk itu ada sebuah kapak, dan aku menggunakannya untuk memenggal kepala si Strigoi. Lalu aku mengambil sekaleng bensin dan kembali ke rumah. Strigoi yang tadi kulempar ke dalam perapian belum terbakar sepenuhnya, tapi begitu kusiram dengan bensin, dia langsung terbakar hangus.”

Seisi kelas terkagum-kagum mendengar cerita ibuku. Mulut mereka ternganga. Mata mereka terbelalak. Tidak ada suara yang terdengar. Saat melirik sekeliling, aku merasa waktu seakan berhenti untuk semua orang―kecuali aku. Kelihatannya hanya aku yang tidak terkesan oleh ceritanya yang mengerikan, dan melihat ekspresi kagum pada wajah semua orang benar-benar membuatku marah. Setelah ibuku selesai bercerita, ada sekitar selusin tangan yang terangkat dan membombardirnya dengan pertanyaan mengenai teknik-teknik yang digunakannya, apakah dia merasa takut, dan sebagainya.

Setelah kira-kira pertanyaan kesepuluh, aku sudah tidak tahan lagi. Aku mengacungkan tangan. Butuh beberapa saat hingga akhirnya ibuku menyadarinya dan memanggil namaku. Kelihatannya dia agak takjub melihatku ada di kelas. Kuanggap diriku beruntung karena setidaknya dia mengenaliku.

“Nah, Garda Hathaway,” aku memulai. “Kenapa kalian tidak mengamankan tempat itu saja?”

Ibuku mengerutkan kening. Kurasa dia agak bingung. “Apa maksudmu?”

Aku mengangkat bahu dan kembali bersandar di kursi, berusaha menunjukkan kesan santai dan bersahabat. “Entahlah. Menurutku kalian melakukan kesalahan. Kenapa kalian tidak menyisir tempat itu sejak awal dan memastikannya terbebas dari Strigoi? Dengan begitu, kalian tidak perlu bersusah payah seperti itu.”

Semua mata di kelas berbalik menatapku. Sejenak ibuku tak sanggup berkata-kata. “Kalau kami tidak ‘bersusah payah’ seperti itu, sekarang ada tujuh Strigoi lain yang masih berkeliaran di muka bumi ini, dan para Moroi lain yang ditawan sudah mati atau diubah menjadi Strigoi.”

“Ya, ya, aku mengerti bagaimana kalian berhasil menjadi pahlawan dan macam-macam lagi, tapi aku ingin kembali menyoroti prinsip-prinsip utama. Maksudku, ini kelas teori, kan?” Aku melirik Stan yang menatapku dengan marah. Aku dan Stan memiliki sejarah yang panjang dan tidak menyenangkan di kelas. Kurasa sebentar lagi kami akan mengalami konflik baru. “Jadi, aku hanya ingin mencari tahu apa yang salah sejak awal.”

Aku kagum pada ibuku―pengendalian dirinya jauh lebih hebat daripada aku. Seandainya posisi kami dibalik, sekarang aku pasti sudah menghampiri meja dan menghajar diriku. Namun, wajah ibuku tetap tenang, dan satu-satunya tanda yang menunjukkan bahwa aku sudah membuatnya kesal adalah bibirnya yang terlihat agak kaku.

“Tidak sesederhana itu,” jawabnya. “Tata ruang di tempat itu sangat rumit. Kami sudah memeriksanya secara menyeluruh dan tidak menemukan apa-apa. Kami yakin para Strigoi datang setelah acara dimulai―atau mungkin ada jalan dan ruang rahasia yang tidak kami ketahui.”

Seisi kelas riuh oleh seruan kagum saat mendengar tentang jalan rahasia, tetapi aku sama sekali tidak terkesan.

“Jadi, maksudmu kalian gagal melacak keberadaan mereka saat penyisiran pertama, atau mereka memang berhasil menembus ‘keamanan’ yang kalian pasang selama pesta berlangsung. Apa pun itu, sepertinya tetap ada kesalahan yang dilakukan.”

Bibir ibuku terlihat semakin kaku, dan suaranya mulai terdengar dingin. “Kami mengambil tindakan terbaik dalam keadaan yang tidak biasa. Aku mengerti jika orang setingkat dirimu masih belum bisa memahami kerumitan kisah yang kuceritakan. Tapi kalau sudah benar-benar belajar hingga bisa memahami lebih dari sekadar teori, kau akan mengerti betapa keadaannya sangat berbeda saat kau berada di luar sana dan bertanggung jawab atas nyawa orang lain.”

“Tentu saja.” Aku menyetujui ucapannya. “Apa hakku mempertanyakan metode yang kaugunakan? Maksudku, yang penting kau bisa mendapatkan tanda molnija, kan?”

“Miss Hathaway.” Suara berat Stan bergemuruh di dalam ruangan. “Silakan bawa barang-barangmu dan tunggu di luar hingga kelas selesai.”

Aku memandangnya dengan bingung. “Kau serius? Sejak kapan bertanya dianggap pelanggaran?”

“Kelakuanmu yang melanggar.” Stan menuding pintu. “Pergi.”

Ruangan dilingkupi kesunyian yang lebih mencekam daripada ketika ibuku menceritakan kisahnya. Aku berusaha keras tidak mengerut di bawah tatapan para pengawal dan novis lainnya. Ini bukan pertama kalinya aku dikeluarkan dari kelas Stan. Bahkan bukan pertama kalinya aku dikeluarkan dari kelas Stan dengan disaksikan oleh Dimitri. Sambil mengayunkan ransel ke atas bahu, aku menyeberangi jarak pendek yang terbentang menuju pintu―jarak yang terasa seperti berkilo-kilo jauhnya―dan menghindari kontak mata dengan ibuku saat melewatinya.

Sekitar lima menit sebelum kelas bubar, ibuku menyelinap ke luar lalu menghampiri aku yang sedang duduk di selasar. Saat menunduk menatapku, ibuku bertolak pinggang dengan gaya menyebalkan sehingga membuatnya terlihat lebih tinggi dari yang sebenarnya. Rasanya tidak adil orang yang lima belas sentimeter lebih pendek dariku membuatku merasa sekecil ini.

“Kulihat kelakuanmu selama bertahun-tahun ini belum berubah juga.”

Aku berdiri dan merasa mataku tiba-tiba melotot tajam. “Senang bertemu denganmu juga. Aku kaget kau mengenaliku. Kusangka kau bahkan tidak ingat padaku, mengingat kau tidak memberitahuku sedang berada di kampus.”

Ibuku memindahkan tangan dari pinggung dan menyilangkannya di depan dada. Sikapnya―kalau memang memungkinkan―semakin datar. “Aku tidak bisa mengabaikan tugas demi memanjakanmu.”

“Memanjakan?” tanyaku. Seumur hidup wanita ini tidak pernah memanjakanku. Aku bahkan takjub dia mengenal kata itu.

“Aku tidak berharap kau bisa memahaminya. Dari yang kudengar, kau bahkan tidak tahu apa yang namanya ‘tugas’ itu.”

“Aku tahu pasti apa yang namanya tugas,” jawabku. Suaraku sengaja terdengar kasar. “Aku mengenalnya jauh lebih baik daripada sebagian besar orang.”

Mata ibuku melebar dan kelihatan pura-pura terkejut. Aku sering menggunakan tatapan sarkastik seperti itu pada banyak orang, dan sangat tidak suka kalau orang lain melakukannya padaku. “Oh, benarkah? Di mana kau selama dua tahun terakhir?”

“Kau sendiri di mana selama lima tahun terakhir?” tuntutku. “Apa kau menyadari kepergianku kalau tidak ada yang memberitahumu?”

“Jangan memutarbalikkan semuanya. Aku pergi jauh karena terpaksa melakukannya. Kau pergi agar bisa berbelanja dan bergadang semalaman.”

Sakit hati dan rasa maluku berubah menjadi kemarahan. Sepertinya aku tidak akan pernah bisa menyingkirkan konsekuensi yang harus kutanggung karena melarikan diri bersama Lissa.

“Kau sama sekali tidak tahu kenapa aku pergi,” kataku dengan suara meninggi. “Dan kau tidak berhak menduga-duga kehidupanku, karena kau tidak tahu apa-apa soal itu.”

“Aku sudah membaca laporan mengenai apa yang terjadi. Kau punya alasan untuk peduli, tapi tindakanmu salah.” Ucapannya terdengar resmi dan tegas. Dia bisa mengajar di salah satu kelasku. “Kau mestinya meminta bantuan orang lain.”

“Tak ada yang bisa kumintai tolong―tak ada yang bisa kudatangi karena aku tidak punya bukti yang meyakinkan. Lagi pula, kami dibiasakan untuk belajar berpikir mandiri.”

“Ya,” jawabnya. “Tekankan pada kata belajar. Sesuatu yang kaulewatkan selama dua tahun. Kau sama sekali tidak pantas mengajariku soal protokol pengawal.”

Aku selalu terlibat dalam perdebatan, ada sesuatu dalam sifatku yang membuat itu sulit dihindari. Jadi aku sudah terbiasa mempertahankan diri dan menerima berbagai macam hinaan. Aku sudah tebal muka. Namun, entah bagaimana jika berada di dekat ibuku―dalam waktu singkat yang pernah kuhabiskan dengannya―aku selalu merasa seperti anak berusia tiga tahun. Sikapnya sudah mempermalukan aku, dan menyinggung-nyinggung pelatihan yang kulewatkan―ini subjek yang sangat rawan―hanya membuatku merasa lebih buruk. Aku meniru posisinya menyilangkan tangan dan memasang tampang sombong.

“Oh ya? Tapi guru-guruku tidak sependapat denganmu. Meski ketinggalan pelajaran, aku masih sanggup menyamai teman-teman sekelasku.”

Ibuku tidak langsung menjawab. Akhirnya, dia menjawab dengan suara datar. “Kalau tidak kabur, kau pasti bisa melampaui mereka.”

Ibuku berbalik dengan gaya militer, lalu berjalan menyusuri selasar. Satu menit kemudian, bel berbunyi, dan seisi kelas Stan berhamburan ke selasar.

Mason pun tidak sanggup menghiburku setelahnya. Aku menghabiskan sisa hari itu dengan marah dan kesal, merasa yakin semua orang berbisik-bisik mengenai aku dan ibuku. Aku melewatkan makan siang dan pergi ke perpustakaan untuk membaca buku mengenai psikologi serta anatomi.

Ketika tiba saatnya untuk latihan sepulang sekolah bersama Dimitri, aku langsung berlari menghampiri boneka latih. Dengan tinju terkepal, aku menghantam dada boneka, agak ke kiri tetapi lebih ke tengah.

“Di sana,” kataku pada Dimitri. “Jantungnya di sana, dan ada tulang dada serta tulang rusuk yang menghalanginya. Boleh kupegang pasaknya sekarang?”

Sambil menyilangkan lengan, aku melirik Dimitri penuh kemenangan. Aku menunggunya menghujaniku dengan pujian atas kecerdikanku yang baru ini. Alih-alih, Dimitri hanya mengangguk mengiyakan, seolah mestinya aku sudah tahu semua itu. Dan yeah, mestinya aku sudah tahu.

“Dan bagaimana caramu menembus tulang dada serta tulang rusuk?” tanyanya.

Aku mendesah. Aku sudah berhasil mendapatkan jawaban dari sebuah pertanyaan, tetapi malah mendapatkan pertanyaan baru. Seperti biasa.

Kami menghabiskan sebagian besar waktu latihan dengan membicarakan hal itu, dan Dimitri menunjukkan beberapa teknik membunuh dengan cepat. Setiap gerakan Dimitri sangat annggun sekaligus mematikan. Dia membuatnya terlihat mudah, tetapi aku tahu yang sebenarnya.

Saat Dimitri tiba-tiba mengulurkan tangan dan menyodorkan pasak padaku, awalnya aku tidak mengerti. “Kau menyerahkannya padaku?”

Mata Dimitri berbinar. “Aku tak percaya kau sanggup menahan diri. Kupikir kau akan langsung mengambilnya dan berlari pergi.”

“Bukankah kau selalu mengajariku untuk menahan diri?” tanyaku.

“Tidak dalam segala hal.”

“Tapi dalam beberapa hal.”

Aku menyadari makna ganda dalam suaraku dan heran dari mana asalnya. Aku pernah bisa menerima kenyataan untuk tidak memikirkan Dimitri secara romantis lagi. Sesekali aku terpeleset dan berharap Dimitri merasakan hal yang sama―rasanya sangat menyenangkan kalau tahu Dimitri masih menginginkanku, masih tergila-gila padaku. Tetapi kalau melihatnya sekarang, aku sadar Dimitri mungkin tidak akan terpeleset sepertiku karena aku sudah tidak membuatnya tergila-gila. Pikiran itu membuatku sangat sedih.

“Tentu saja,” katanya, sama sekali tidak menunjukkan tanda bahwa kami sedang membicarakan masalah lain. “Sama seperti yang lainnya. Keseimbangan. Kau harus tahu apa yang kaukejar―dan apa yang sebaiknya kaulepaskan.” Dimitri memberi penekanan pada kalimat yang terakhir.

Kami berpandangan sejenak, dan aku merasa ada aliran listrik yang mengaliri tubuhku. Ternyata dia tahu apa yang kubicarakan. Dan seperti biasa, dia mengabaikannya dan malah mengguruiku―yang memang seharusnya. Sambil mendesah, aku menepis perasaanku pada Dimitri, dan berusaha mengingat-ingat bahwa sebentar lagi aku akan menyentuh senjata yang sudah kudambakan sejak kecil. Kenangan akan rumah keluarga Badica muncul lagi dalam ingatanku. Para Strigoi ada di luar sana. Aku harus memusatkan pikiran.

Dengan ragu, bahkan hampir khidmat, aku mengulurkan tangan dan melingkarkan jemari pada gagang pasak. Bahan logamnya terasa dingin dan menyengat. Gagangnya diberi ukiran agar gampang digenggam, tetapi saat menelusuri sisanya, aku mendapati permukaannya semulus kaca. Aku mengangkat pasak itu dari tangan Dimitri lalu mengambilnya, berlama-lama mengamatinya dan membiasakan diri dengan bobotnya. Sebagian diriku yang cemas ingin berbalik dan menusuk semua boneka, tetapi alih-alih, aku malah mendongak menatap Dimitri dan bertanya, “Apa yang harus kulakukan lebih dulu?”

Seperti biasa, Dimitri mengajari hal-hal dasar dulu, memusatkan pelajaran pada cara memegang dan menggerakkan pasak. Kemudian, akhirnya dia membiarkan aku menyerang boneka, pada saat inilah aku menyadari bahwa ini tidak mudah. Evolusi secara cerdik melindungi jantung dengan membentuk tulang dada dan tulang rusuk. Meski begitu, Dimitri selalu tekun dan sabar, membimbingku melalui setiap langkah yang dibutuhkan dan memperbaiki semuanya hingga ke detail terkecil.

“Dorong ke atas melalui tulang rusuk,” Dimitri menjelaskan, mengawasi aku yang berusaha menusukkan ujung pasak ke dalam sebuah celah di antara tulang. “Itu akan lebih mudah karena kau lebih pendek dari sebagian besar penyerangmu. Selain itu, kau juga bisa mendorongnya di sepanjang tepi tulang rusuk bawah.”

Setelah latihan, Dimitri mengambil pasaknya dan mengangguk setuju.

“Bagus. Bagus sekali.”

Aku meliriknya kaget. Tidak biasanya Dimitri melontarkan pujian.

“Benarkah?”

“Kau seperti sudah bertahun-tahun melakukannya.”

Aku merasa senyum girang mengulas di wajahku ketika kami hendak meninggalkan ruang latihan. Dan saat kami berada di dekat pintu, aku melihat sebuah boneka berambut merah keriting. Tiba-tiba saja semua yang terjadi di kelas Stan kembali memenuhi kepalaku. Aku cemberut.

“Lain kali bolehkah aku menusuk yang itu?”

Dimitri mengambil mantel lalu memakainya. Mantelnya panjang berwarna cokelat, terbuat dari kulit yang sudah usang, dan sangat mirip dengan duster koboi, meski Dimitri tidak pernah mau mengakuinya. Diam-diam Dimitri mengagumi Old West. Sebenarnya aku tidak terlalu mengerti, tetapi kalau dipikir-pikir, aku juga tidak memahami selera musiknya yang aneh.

“Kurasa itu tidak baik,” katanya.

“Lebih baik daripada melakukannya pada wanita itu,” gumamku, mengayunkan ransel ke atas bahu. Kami keluar dari gedung olahraga.

“Kekerasan bukan jawaban dari semua masalah,” kata Dimitri dengan bijak.

“Dia yang bermasalah. Dan kupikir inti pendidikan yang kudapat adalah kekerasan memang jawabannya.”

“Hanya bagi mereka yang lebih dulu melakukan kekerasan. Ibumu tidak menyerangmu. Kalian berdua hanya sangat mirip, itu saja.”

Aku berhenti berjalan. “Aku sama sekali tidak seperti dia! Maksudku… mata kami memang mirip. Tetapi aku jauh lebih tinggi. Dan rambutku sangat berbeda.” Aku menunjuk ekor kudaku, hanya untuk berjaga-jaga seandainya Dimitri tidak menyadari bahwa rambut tebalku yang hitam kecokelatan jauh berbeda dari rambut ibuku yang keriting kemerahan.

Ekspresi wajah Dimitri masih terlihat agak geli, tetapi ada ketegasan di matanya. “Aku tidak membicarakan soal penampilan kalian, dan kau tahu itu.”

Aku berpaling darinya. Ketertarikanku pada Dimitri sudah dimulai nyaris sejak pertama kali kami bertemu―dan bukan hanya karena dia sangat tampan. Aku merasa dia memahami sebagian diriku yang bahkan tidak kupahami, dan terkadang aku cukup yakin bahwa aku memahami sebagian diri Dimitri yang tidak dipahaminya.

Satu-satunya masalah adalah Dimitri memiliki kecenderungan menyebalkan untuk menunjukkan hal-hal tentang diriku yang memang tidak ingin kumengerti.

“Menurutmu aku iri?”

“Benarkah?” tanyanya. Aku sebal jika dia menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lain. “Iri karena apa?”

Aku melirik Dimitri. “Entahlah. Mungkin iri terhadap reputasinya. Mungkin iri karena dia lebih banyak meluangkan waktu untuk reputasinya daripada untukku. Entahlah.”

“Kau tidak menganggap hebat apa yang telah dilakukannya?”

“Ya. Tidak. Entahlah. Hanya saja kedengarannya seperti… yah… seperti menyombongkan diri. Seolah dia melakukannya demi kejayaan.” Aku meringis. “Demi tanda.” Tanda molnija adalah tato yang diberikan sebagai penghargaan bagi pengawal yang berhasil membunuh Strigoi. Setiap tanda terlihat seperti sebuah huruf x kecil yang terdiri atas dua kilatan petir. Tanda itu diletakkan di belakang leher kami, dan menunjukkan sejauh mana pengalaman seorang pengawal.

“Menurutmu menghadapi Strigoi sepadan dengan beberapa buah tanda? Kusangka kau sudah mempelajari sesuatu saat berada di rumah keluarga Badica.”

Aku merasa bodoh. “Bukan itu yang ku―”

“Ayo.”

Aku berhenti berjalan. “Apa?”

Kami sedang berjalan ke asramaku, tetapi sekarang Dimitri menganggukkan kepala ke arah berlawanan. “Aku ingin menunjukkan sesuatu.”

“Menunjukkan apa?”

“Tidak semua tanda bisa dianggap sebagai lencana kehormatan.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s