Vampire Academy #2 : Frostbite

Vampire Academy 2 : Frostbite – Chapter 09

SETELAH ITU AKU tidak pernah bertemu lagi dengan Dimitri. Siangnya, dia mengirim pesan yang mengatakan bahwa menurutnya kami sebaiknya membatalkan dua sesi latihan berikutnya karena rencana keberangkatan yang sudah semakin dekat. Toh pelajarannya juga akan segera berakhir, begitu katanya. Beristirahat sejenak dari latihan kedengarannya memang masuk akal.

Itu alasan yang payah, dan aku tahu itu bukan alasan sebenarnya Dimitri membatalkan latihan kami. Jika dia ingin menghindar, aku lebih suka dia mengarang cerita mengenai rencananya bersama pengawal lain untuk meningkatkan keamanan bagi kaum Moroi, atau melatih gerakan-gerakan ninja super-rahasia.

Terlepas dari itu, aku tahu Dimitri menghindariku karena ciuman kami. Ciuman sialan itu. Aku tidak menyesalinya, sama sekali tidak. Hanya Tuhan yang tahu betapa besar keinginanku untuk menciumnya. Tetapi aku melakukannya dengan alasan yang salah. Aku melakukannya karena kesal, frustrasi, dan sekadar ingin membuktikan bahwa aku bisa melakukannya. Aku capek harus selalu bertindak benar dan cerdas. Akhir-akhir ini aku berusaha untuk lebih mengendalikan diri, tetapi sepertinya aku terpeleset.

Aku belum melupakan peringatan yang pernah diberikan Dimitri―bahwa masalah pada hubungan kami bukan sekadar soal umur. Hubungan kami akan memengaruhi pekerjaan kami. Memancingnya dengan ciuman… hmm, bisa dibilang sama saja dengan mengipasi api masalah yang akhirnya bisa melukai Lissa. Seharusnya aku tidak menciumnya. Kemarin aku tak sanggup menahan diri. Hari ini aku bisa melihat perbuatanku itu dengan sudut pandang yang lebih jelas, dan aku tak percaya apa yang sudah kulakukan.

Mason menemuiku pada pagi hari Natal, dan kami pergi untuk berkumpul dengan yang lain. Ini memberiku kesempatan baik untuk menyingkirkan Dimitri dari kepalaku. Aku menyukai Mason―sangat suka. Dan bukan berarti aku akan melarikan diri dan menikahinya. Seperti yang dikatakan Lissa, kembali berkencan akan menjadikan kehidupanku lebih sehat.

Tasha mengadakan sarapan siang Natal di ruang tamu elegan yang terdapat di area tamu Akademi. Banyak acara dan pesta kelompok yang diadakan di seluruh penjuru sekolah, tetapi aku langsung menyadari bahwa kehadiran Tasha selalu menimbulkan gangguan. Orang-orang biasanya memandanginya, atau menjauh untuk menghindarinya. Terkadang Tasha menantang mereka. Terkadang dia diam saja. Hari ini, dia memilih menghindari bangsawan lain dan menikmati pesta kecil akrab bersama orang-orang yang tidak mengucilkannya.

Dimitri juga diundang, dan keteguhan hatiku agak tumbang saat melihatnya. Dia benar-benar berdandan rapi untuk acara ini. Oke, “berdandan rapi” mungkin berlebihan, tetapi penampilannya saat ini mendekati gambaran itu. Biasanya dia terlihat agak urakan… seakan-akan bisa terjun ke dalam pertarungan kapan saja. Hari ini, rambut gelapnya diikat di tengkuk, seolah dia sudah berusaha merapikannya. Dia memakai sepatu bot kulit dan celana jinsnya yang biasa, tetapi alih-alih kaus oblong atau kaus tangan panjang, Dimitri memakai sweter rajut warna hitam. Sweter yang dipakainya biasa saja, bukan buatan desainer dan tidak mahal, tetapi memberikan sentuhan lain yang belum pernah kulihat pada dirinya. Dan ya Tuhan, sweter itu sangat cocok untuknya.

Dimitri tidak bersikap jahat atau semacamnya kepadaku, tetapi jelas-jelas dia juga tidak berusaha mengobrol denganku. Namun, dia berbincang dengan Tasha, dan dengan takjub kulihat mereka mengobrol dengan santai. Aku baru tahu bahwa seorang teman baik Dimitri adalah sepupu jauh keluarga Tasha, dan dari sanalah mereka berdua saling mengenal.

“Lima?” tanya Dimitri kaget. Mereka sedang membicarakan anak-anak teman mereka itu. “Aku baru dengar.”

Tasha menganggukkan kepala. “Memang sinting. Kurasa istrinya tidak punya waktu kosong lebih dari enam bulan sebelum mengandung anak berikutnya. Perempuan itu bertubuh pendek―jadi tubuhnya terus melebar, dan semakin lebar.”

“Saat pertama kali aku bertemu dengannya, dia bersumpah tak ingin punya anak.”

Mata Tasha melebar senang. “Benar! Aku sendiri tidak percaya. Kau harus melihat dia sekarang. Dia benar-benar tak berdaya saat berada di dekat anak-anaknya. Aku bahkan sering tak mengerti ucapannya. Aku berani sumpah, dia lebih sering bicara bahasa bayi daripada bahasa Inggris.”

Dimitri menyunggingkan senyum langkanya. “Yah… anak-anak memang sanggup menyebabkan orang-orang bertingkah seperti itu.”

“Aku tak bisa membayangkan itu terjadi padamu,” kata Tasha sambil tertawa. “Sikapmu selalu tenang. Tentu saja… kurasa kau akan mengucapkan bahasa bayi dalam bahasa Rusia, jadi takkan ada yang menyadarinya.”

Mereka berdua tertawa dan aku memalingkan wajah, bersyukur ada Mason yang bisa diajak bicara. Mason merupakan pengalih perhatian yang baik, karena selain Dimitri mengabaikan aku, Lissa dan Christian juga sedang mengobrol di dunia kecil mereka sendiri. Sepertinya seks membuat mereka lebih saling mencintai, dan aku bertanya-tanya apa akan punya waktu bersama Lissa dalam perjalanan ski kami nanti. Akhirnya Lissa memang berpaling dari Christian untuk memberikan kado Natal kepadaku.

Aku membuka kotak yang diberikan Lissa lalu menatap isinya. Aku melihat seuntai manik-manik berwarna merah tua, dan aroma mawar pun menguar.

“Apa-apa―”

Aku mengangkat manik-manik itu, dan sebuah salib emas menggantung di ujungnya. Lissa memberiku chotki. Chotki mirip dengan rosario, hanya lebih kecil. Seukuran gelang.

“Kau sedang berusaha membuatku berpindah agama?” tanyaku masam. Lissa tidak terlalu religius, tetapi dia percaya pada Tuhan dan mengunjungi gereja secara teratur. Seperti halnya keluarga-keluarga Moroi yang berasal dari Rusia dan Eropa Timur, Lissa adalah penganut Kristen Ortodoks.

Sedangkan aku? Bisa dibilang aku seorang Agnostik Ortodoks. Mungkin Tuhan memang ada, tetapi aku tak punya waktu ataupun energi untuk menyelidikinya lebih lanjut. Lissa menghormati pandanganku dan tidak pernah berusaha memaksakan kepercayaannya, sehingga kado yang diberikannya terasa lebih janggal lagi.

“Coba kaubalik salibnya,” kata Lissa, jelas geli melihat kekagetanku.

Aku melakukan apa yang diminta. Di bagian belakang salib, seekor naga yang dikelilingi jalinan bunga terukir pada emasnya. Simbol keluarga Dragomir. Aku mendongak menatap Lissa dengan bingung.

“Itu warisan keluarga,” kata Lissa.“Salah seorang teman baik ayahku menyimpan barang-barang peninggalannya. Chotki itu milik pengawal nenek buyutku.”

“Liss…” aku berkata. Benda itu kini terlihat sepenuhnya berbeda. “Aku tak bisa… kau tak bisa memberiku benda seperti ini.”

“Tapi sudah pasti aku tak bisa menyimpannya. Benda ini ditujukan bagi seorang pengawal. Pengawalku.”

Aku melingkarkan manik-manik itu ke pergelangan tangan. Salibnya terasa dingin pada kulitku.

“Tahukah kau,” aku menggoda Lissa, “ada kemungkinan aku sudah dikeluarkan dari sekolah sebelum sempat menjadi pengawalmu.”

Lissa nyengir. “Hmm, kalau itu yang terjadi, kau bisa mengembalikannya kepadaku.”

Semua orang tertawa mendengarnya. Tasha hendak mengatakan sesuatu, tetapi berhenti saat mendongak ke pintu.

“Janine!”

Ibuku berdiri di depan pintu, tampak sekaku dan sedatar biasanya.

“Maaf terlambat,” katanya. “Ada urusan yang harus kuselesaikan.”

Urusan. Seperti biasa. Saat Natal sekalipun.

Aku merasa perutku melilit dan ada hawa panas yang naik ke pipiku saat detail pertarungan kami kembali mengisi benakku. Ibuku belum mengatakan apa-apa sejak peristiwa itu terjadi dua hari yang lalu, bahkan saat aku masih berada di klinik. Tak ada permintaan maaf. Tak ada apa pun. Aku mengertakkan gigi.

Ibuku duduk dan langsung bergabung dalam obrolan kami. Sudah lama aku tahu bahwa ibuku hanya bisa mengobrol mengenai satu hal: urusan pengawal. Aku ingin tahu apakah dia punya hobi. Serangan keluarga Badica masih hangat dalam ingatan semua orang, dan hal itu mendorongnya memulai pembicaraan mengenai pertarungan serupa yang pernah dialaminya. Yang membuatku ngeri, Mason terpukau oleh setiap patah kata ibuku.

“Memang, memenggal kepala tidak semudah yang terlihat,” kata ibuku dengan nada inilah-yang-sesungguhnya-terjadi. Aku sama sekali tidak pernah menganggapnya mudah, tetapi nada suara ibuku menunjukkan keyakinannya bahwa semua orang menganggap remeh soal itu. “Kau harus menembus tulang belakang dan banyak tendon.”

Melalui ikatan batin, aku bisa merasakan Lissa mulai agak mual. Dia tidak tahan dengan pembicaraan yang mengerikan seperti ini.

Mata Mason berbinar. “Apa senjata terbaik untuk melakukannya?”

Ibuku berpikir-pikir. “Kapak. Kau bisa mendapat beban tambahan di bagian belakang.” Ibuku membuat gerakan mengayun sebagai gambaran.

“Keren,” kata Mason. “Oh, kuharap mereka mengizinkanku menggunakan kapak.” Gagasan itu terdengar konyol dan menggelikan karena kapak bukanlah senjata yang biasa dibawa ke mana-mana. Sejenak, bayangan Mason berjalan-jalan sambil memikul kapak di atas bahu membuat suasana hatiku agak membaik. Tetapi tidak lama.

Sejujurnya aku tak percaya bahwa kami membicarakan hal semacam ini saat Natal. Kehadiran ibuku telah merusak segalanya. Untungnya, acara kumpul-kumpul ini akhirnya bubar. Christian dan Lissa pergi untuk menyelesaikan urusan mereka, sedangkan Dimitri dan Tasha merasa masih banyak hal yang ingin mereka perbincangkan. Aku dan Mason sedang berjalan menuju asrama dhampir saat ibuku menghampiri kami.

Tidak seorang pun dari kami yang bicara. Bintang bertaburan di langit hitam, tajam dan terang, kilau mereka serupa dengan es dan salju di sekeliling kami. Aku memakai parka berwarna gading dengan bulu buatan. Parka ini menjaga tubuhku tetap hangat, meski sama sekali tak berguna dalam melawan angin dingin yang menerpa wajahku. Selama kami berjalan, aku terus-menerus berharap ibuku berbalik menuju area pengawal yang lain, tetapi dia ikut masuk ke dalam asrama bersama kami.

“Sejak tadi aku ingin bicara denganmu,” akhirnya ibuku berkata. Alarm di dalam tubuhku berbunyi. Apa salahku kali ini?

Ibuku hanya berkata seperti itu, tetapi Mason langsung mengerti. Mason sama sekali tidak bodoh dan sepenuhnya menyadari petunjuk-petunjuk dalam bersosialisasi, tetapi saat ini aku mengharapkan sebaliknya. Menurutku sikap Mason juga sangat ironis, dia ingin membantai semua Strigoi di dunia, tetapi pada saat yang sama takut pada ibuku.

Mason menatapku dengan pandangan meminta maaf, mengangkat bahu, lalu berkata, “Hei, aku harus, em, pergi. Sampai nanti.”

Aku menatap kepergian Mason dengan menyesal, berharap bisa berlari menyusulnya. Mungkin ibuku akan menjegal kakiku dan menonjok mataku yang satu lagi kalau aku berusaha melarikan diri. Sebaiknya aku menurut dan menyelesaikan semuanya secepat mungkin. Sambil beringsut gelisah, aku menghindari tatapannya dan menunggunya bicara. Dari sudut mataku, aku melihat beberapa orang melirik ke arah kami. Saat teringat bahwa semua orang di dunia ini sepertinya tahu ibukulah yang menyebabkan lebam mataku, tiba-tiba aku memutuskan tidak mau ada orang lain yang menyaksikan ceramah atau apa pun yang akan diempaskannya kepadaku.

“Kau mau, em, naik ke kamarku?” aku bertanya.

Ibuku kelihatan kaget, hampir tidak yakin. “Tentu saja.”

Aku mengajaknya ke lantai atas, menjaga tetap berada dalam jarak aman saat kami berjalan. Suasana di antara kami terasa tegang dan canggung. Ibuku tidak mengatakan apa-apa saat kami tiba di kamar, tetapi kulihat dia mengamati setiap detail dengan saksama, seolah ada Strigoi yang mungkin sedang mengintai kami. Aku duduk di tempat tidur dan menunggu ibuku mondar-mandir, bingung harus berbuat apa. Ibuku menyapukan jemari pada setumpuk buku mengenai evolusi dan perilaku hewan.

“Buku-buku ini kaugunakan untuk membuat laporan?” tanyanya.

“Tidak. Aku hanya tertarik untuk membacanya, itu saja.”

Alisnya terangkat. Dia tidak tahu soal itu. Tetapi bagaimana dia bisa tahu? Ibuku tidak tahu apa-apa soal aku. Dia melanjutkan pengamatannya, sesekali berhenti untuk mempelajari hal-hal kecil tentang aku yang sepertinya membuatnya kaget. Sebuah foto yang memperlihatkan aku dan Lissa berdandan seperti peri saat Halloween. Satu kantong SweetTart. Rasanya seolah ibuku baru pertama kali bertemu denganku.

Tiba-tiba, ibuku berbalik dan mengulurkan tangan ke arahku. “Ini.”

Dengan terkejut aku meletakkan telapak di bawah tangannya. Sebuah benda kecil dan dingin terjatuh ke tanganku. Benda itu liontin berukuran kecil―diameternya tidak lebih besar daripada koin. Alas peraknya menahan cakram datar berisi lingkaran-lingkaran kaca berwarna. Dengan kening berkerut, aku menyapukan jempol pada permukaannya. Rasanya aneh, tetapi lingkaran-lingkaran itu hampir tampak seperti mata. Lingkaran terdalam berukuran kecil, menyerupai pupil. Warnanya biru gelap hampir seperti hitam. Bagian luarnya dikelilingi lingkaran yang lebih besar warna biru pucat, lalu dikelilingi lagi oleh lingkaran putih. Sebuah lingkaran yang sangat, sangat tipis berwarna biru gelap mengitari bagian luarnya.

“Trims,” ucapku. Aku tidak mengharapkan kado apa pun dari ibuku. Hadiah ini sangat aneh―untuk apa dia memberiku mata?―tetapi tetap saja ini hadiah. “Aku… aku tidak menyiapkan kado untukmu.”

Ibuku mengangguk, wajahnya kembali terlihat kosong dan tak peduli. “Tak apa-apa. Aku tak membutuhkan apa pun.”

Ibuku membalikkan badan lalu mulai berjalan mengitari ruangan. Dia tidak punya banyak tempat untuk melakukannya, tetapi tubuh pendeknya membuat langkahnya lebih kecil. Setiap kali dia melewati jendela di atas tempat tidurku, rambutnya yang berwarna kemerahan akan terkena cahaya dan tampak menyala. Aku menatapnya dengan penasaran dan baru sadar bahwa ibuku sama gugupnya denganku.

Ibuku berhenti mondar-mandir dan melirik ke arahku. “Bagaimana matamu?”

“Sudah mendingan.”

“Bagus.” Ibuku membuka mulut, dan aku punya firasat dia hendak minta maaf. Tetapi dia tidak melakukannya.

Saat dia mulai mondar-mandir lagi, aku memutuskan tidak tahan diam saja seperti ini. Aku mulai menyimpan hadiah-hadiah yang kudapatkan. Aku mendapatkan cukup banyak barang pagi ini. Salah satunya adalah sehelai gaun sutra dari Tasha, warnanya merah dan dihiasi bordiran bunga. Ibuku melihatku menggantungnya ke dalam lemari kecil yang ada di kamarku.

“Tasha baik sekali.”

“Yeah,” aku sependapat. “Aku tak menyangka dia akan memberiku sesuatu. Aku benar-benar menyukainya.”

“Aku juga.”

Aku berbalik dari lemari dengan terkejut dan menatap ibuku. Keterkejutannya sama dengan yang kurasakan. Seandainya aku tidak tahu bagaimana keadaan sebenarnya, mungkin aku akan berpendapat bahwa kami baru saja sepakat mengenai sesuatu. Mungkin keajaiban Natal memang ada.

“Garda Belikov akan menjadi pasangan yang tepat untuknya.”

“Aku―” Aku mengerjap, tidak sepenuhnya memahami ucapan ibuku. “Dimitri?”

“Garda Belikov,” ibuku meralat dengan tegas, masih tidak setuju dengan caraku yang santai dalam memanggil nama Dimitri.

“Pasangan… pasangan seperti apa?” tanyaku.

Ibuku mengangkat alis. “Kau belum dengar? Tasha meminta Garda Belikov menjadi pengawalnya―karena dia belum punya pengawal.”

Aku merasa seperti dipukul lagi. “Tapi dia… ditugaskan di sini. Dan untuk Lissa.”

“Semua itu bisa diatur. Dan terlepas dari reputasi Ozera… dia tetap seorang bangsawan. Jika terus memaksa, dia bisa mendapatkan keinginannya.”

Aku menatap kosong. “Yah, kurasa mereka memang berteman dan semacamnya.”

“Lebih dari itu―atau setidaknya mungkin akan lebih dari itu.”

Bum! Pukulan lagi.

“Apa?”

“Hmm? Oh. Tasha… tertarik padanya.” Dari nada suara ibuku, jelas dia sama sekali tidak tertarik pada urusan percintaan. “Tasha ingin memiliki anak-anak dhampir, jadi mungkin saja mereka akan membuat, em, kesepakatan jika Garda Belikov menjadi pengawalnya.”

Ya Tuhan.

Waktu membeku.

Jantungku berhenti berdetak.

Aku sadar ibuku sedang menunggu tanggapanku. Dia bersandar pada meja sambil mengawasi aku. Ibuku mungkin sanggup memburu Strigoi, tetapi dia jelas tidak menyadari perasaanku.

“Apa… apa dia akan melakukannya? Menjadi pengawal Tasha?” tanyaku lemah.

Ibuku mengangkat bahu. “Kurasa Garda Belikov belum menyetujuinya, tapi tentu saja dia akan melakukannya. Itu kesempatan hebat.”

“Tentu saja,” ulangku. Memangnya kenapa Dimitri mau menolak kesempatan menjadi pengawal untuk temannya sendiri dan memiliki anak bersamanya?

Kurasa setelah itu ibuku mengatakan hal lain, tetapi aku tidak mendengarnya. Aku tidak mendengar apa-apa. Aku terus berpikir mengenai Dimitri yang akan meninggalkan Akademi, meninggalkan aku. Aku memikirkan bagaimana Dimitri dan Tasha terlihat sangat akrab. Kemudian, setelah mengingat semua itu, imajinasiku mulai mengembangkan skenario masa depan. Tasha dan Dimitri bersama. Saling menyentuh. Berciuman. Tanpa busana. Hal-hal lainnya….

Aku memejamkan mata selama setengah detik, lalu membukanya lagi.

“Aku benar-benar lelah.”

Ibuku berhenti di tengah ucapannya. Aku sama sekali tidak tahu apa yang sedang dibicarakannya sebelum aku menyelanya.

“Aku benar-benar lelah,” ulangku. Aku bisa mendengar kekosongan dalam suaraku. Kosong. Tak ada emosi. “Terima kasih untuk mata… em, kadonya, tapi kalau kau tak keberatan….”

Ibuku menatapku dengan kaget, ekspresi wajahnya terlihat tulus dan bingung. Kemudian, dengan begitu saja, dinding profesionalismenya yang dingin kembali ke tempat semula. Sebelum saat itu, aku tidak sadar bahwa ibuku sudah menyingkirkan dinding itu jauh-jauh. Namun, dia memang melakukannya. Untuk sesaat ibuku sudah membiarkan dirinya menjadi rapuh saat bersamaku. Kerapuhan itu sekarang lenyap.

“Tentu saja,” ibuku berkata kaku. “Aku takkan mengganggumu.”

Aku ingin memberitahunya bahwa bukan itu masalahnya. Aku ingin memberitahunya bahwa aku bukan mengusirnya karena alasan pribadi. Dan aku ingin memberitahunya bahwa aku berharap dia ibu yang penyayang dan pengertian seperti yang sering kaudengar dalam cerita, ibu yang bisa kujadikan tempat mengadu. Bahkan mungkin ibu yang bisa kumintai nasihat mengenai kehidupan cintaku yang bermasalah.

Ya Tuhan. Sebenarnya aku berharap bisa menceritakan masalah kehidupan cintaku pada siapa pun. Terutama saat ini.

Tetapi aku begitu terperangkap dalam drama pribadiku sehingga tak bisa mengucapkan semua itu. Aku merasa seperti ada orang yang merenggut jantungku dan melemparkannya ke sisi lain ruangan. Aku merasakan nyeri yang membara dan menyakitkan di dada, namun tidak tahu cara menyembuhkannya. Menerima kenyataan bahwa aku tak bisa mendapatkan Dimitri sudah cukup sulit kuhadapi. Namun, menyadari bahwa ada orang lain yang bisa memilikinya benar-benar sulit.

Aku tidak mengatakan apa-apa lagi karena kemampuan bicaraku sudah lenyap. Mata ibuku berkilat marah, dan bibirnya terkatup rapat hingga membentuk ekspresi tidak senang yang sering terlihat di wajahnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ibuku berbalik pergi, membanting pintu. Sebenarnya, aku pun mungkin sudah membanting pintu. Kurasa kami memang berbagi gen yang sama.

Namun, bisa dibilang aku melupakan ibuku saat itu juga. Aku tetap duduk dan berpikir. Berpikir dan berandai-andai.

Aku menghabiskan sisa hari tanpa melakukan apa-apa. Aku melewatkan makan malam. Aku menangis. Sisanya, aku hanya duduk di tempat tidur sambil berpikir dan semakin tertekan. Aku juga menyadari bahwa satu-satunya yang lebih buruk dari membayangkan Dimitri dan Tasha bersama adalah mengingat saat-saat aku dan Dimitri bersama. Dimitri takkan pernah menyentuhku seperti itu lagi, takkan pernah menciumku seperti itu lagi….

Ini Natal terburuk.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s