Vampire Academy #2 : Frostbite

Vampire Academy 2 : Frostbite – Chapter 14

DUA ORANG COWOK yang belum pernah kulihat sedang berhadapan. Kelihatannya mereka berusia dua puluhan, dan tak satu pun dari mereka yang menyadari keberadaanku. Cowok yang menabrakku mendorong lawannya dengan keras, memaksanya terhuyung-huyung mundur.

“Kau takut!” cowok yang berada di dekatku berteriak. Dia memakai celana renang berwarna hijau, dan rambut hitamnya menempel rapi ke belakang karena basah. “Kalian semua pengecut. Kalian hanya ingin bersembunyi di rumah mewah kalian dan membiarkan para pengawal yang melakukan pekerjaan kotor. Apa yang akan kalian lakukan kalau mereka semua mati? Kalau itu terjadi, siapa yang akan melindungi kalian?”

Cowok di hadapannya mengusap darah dari wajah dengan punggung tangan. Aku tiba-tiba mengenalinya―berkat highlight pirangnya. Dia bangsawan yang meneriaki Tasha soal menggiring Moroi ke medan pertempuran. Tasha memanggilnya Andrew. Dia berusaha mendaratkan pukulan dan gagal, tekniknya benar-benar salah. “Inilah cara yang paling aman. Kalau kau mendengarkan si pecinta Strigoi, kita semua pasti akan mati. Dia berusaha memusnahkan ras kita!”

“Dia berusaha menyelamatkan kita!”

“Dia berusaha agar kita menggunakan sihir hitam!”

Si “pecinta Strigoi” yang dimaksud pasti Tasha. Si cowok bukan bangsawan adalah orang pertama di luar kelompok kecil kami yang kudengar membela Tasha. Aku penasaran ada berapa orang yang berpendapat sama seperti cowok ini di luar sana. Dia menonjok Andrew lagi, dan insting dasarku―atau mungkin tonjokannya―membuatku langsung beraksi.

Aku melompat maju lalu menempatkan diri di antara keduanya. Aku masih merasa pusing dan sedikit limbung. Kalau keduanya tidak berdiri sedekat itu, mungkin aku sudah terjungkal. Mereka berdua ragu, jelas-jelas lengah.

“Pergi dari sini,” bentak Andrew.

Keduanya Moroi, jadi mereka lebih tinggi dan lebih besar dariku, tetapi mungkin aku lebih kuat dari mereka. Berharap bisa melakukannya sebaik mungkin, aku merenggut lengan mereka, menarik mereka mendekat, lalu mendorong keduanya sejauh mungkin. Mereka terhuyung, sama sekali tidak menduga kekuatanku. Aku sendiri juga agak terhuyung.

Si cowok bukan bangsawan melotot dan maju menghampiriku. Aku mengandalkan kemungkinan bahwa dia orang yang berpandangan kuno dan tidak tega memukul perempuan. “Apa yang kaulakukan?” serunya. Beberapa orang sudah berkumpul dan menonton dengan penuh semangat.

Aku membalas tatapannya. “Aku berusaha menghentikan kalian agar tidak bertingkah lebih bodoh lagi! Kalian ingin bantuan? Berhentilah berkelahi! Berusaha mencopot kepala satu sama lain tidak akan menyelamatkan Moroi, kecuali kalian berusaha mengurangi kebodohan dari kolam gen kalian.” Aku menuding Andrew. “Tasha Ozera bukan berusaha membunuh semua orang. Dia berusaha agar kalian tidak terus-menerus menjadi korban.” Aku berbalik ke cowok satunya. “Dan kau, kau harus berpikir lagi kalau menganggap ini sebagai jalan untuk mendapatkan keinginanmu. Sihir―terutama sihir menyerang―butuh pengendalian diri yang tinggi, dan sejauh yang kulihat, kau tidak membuatku terkesan. Aku bisa melakukannya dengan lebih baik, dan kalau mengenalku sedikit saja, kau pasti akan mengerti betapa gilanya hal itu.”

Kedua cowok itu memandangiku dengan takjub. Ternyata aku lebih ampuh daripada senjata penyengat. Yah, setidaknya selama beberapa detik. Karena saat efek mengagetkan kata-kataku mulai memudar, mereka kembali saling menyerang. Aku terjebak dalam arena pertempuran dan terdorong ke samping, nyaris terjatuh. Tiba-tiba, Mason muncul dari belakang untuk membelaku. Dia meninju orang pertama yang bisa digapainya―si cowok bukan bangsawan.

Cowok itu terlempar ke belakang, terjatuh ke dalam salah satu kolam dengan cipratan keras. Aku menjerit, teringat kekhawatiran mematahkan tulang tengkorak yang sempat tebersit dalam benakku. Tetapi sesaat kemudian, cowok itu berhasil mendapatkan pijakan dan mengusap air dari matanya.

Aku merenggut lengan Mason, berusaha menahannya, tetapi dia menepisku dan mengejar Andrew. Mason mendorong Andrew dengan keras, menyudutkannya ke arah beberapa Moroi―kuduga mereka teman-teman Andrew―yang tampaknya sedang berusaha menengahi perkelahian. Si cowok yang ada di dalam kolam memanjat ke luar, wajahnya tampak murka, lalu mulai menghampiri Andrew. Kali ini aku dan Mason menghalanginya. Dia memelototi kami.

“Jangan,” aku memperingatkannya.

Cowok itu mengepalkan tinju dan tampak ingin melawan. Tetapi kami terlihat menakutkan, dan sepertinya dia tidak punya gerombolan teman seperti Andrew―yang sekarang meneriakkan kata-kata kasar sambil dibawa pergi. Seraya menggumamkan beberapa ancaman, si cowok bukan bangsawan pun mundur.

Begitu dia pergi, aku menoleh pada Mason. “Kau sudah gila, ya?”

“Huh?”

“Ikut-ikutan dalam perkelahian itu!”

“Kau juga,” balas Mason.

Aku hendak mendebatnya, lalu tersadar bahwa yang diucapkannya memang benar. “Itu berbeda,” gerutuku.

Mason membungkuk ke arahku. “Kau mabuk, ya?”

“Tidak. Tentu saja tidak. Aku hanya berusaha mencegahmu bertindak bodoh. Hanya karena kau berkhayal sanggup mengalahkan Strigoi, bukan berarti kau bisa melampiaskannya pada semua orang.”

“Berkhayal?” tanya Mason tajam.

Pada saat itu aku mulai merasa mual. Kepalaku terasa berputar, dan aku berusaha melanjutkan perjalanan menuju ruangan samping, berharap tidak tersandung.

Tetapi saat tiba di sana, kulihat ruangan itu sama sekali bukan tempat menyimpan hidangan pencuci mulut atau minuman. Yah, setidaknya tidak seperti yang kuduga. Itu ruang donor. Beberapa manusia sedang berbaring di sofa panjang berlapis sutra bersama Moroi di sampingnya. Dupa beraroma melati memenuhi udara. Aku terpana dan dengan takjub menyaksikan seorang cowok Moroi berambut pirang membungkuk lalu menggigit leher seorang gadis berambut merah yang sangat cantik. Saat itu aku baru sadar bahwa semua donor yang ada di sana sangat cantik. Sepertinya mereka aktris atau model. Hanya yang terbaik untuk kaum bangsawan.

Cowok itu minum dengan isapan yang dalam dan panjang, si gadis menutup mata dan mulutnya terbuka, wajahnya terlihat sangat bahagia saat endorfin yang berasal dari Moroi membanjiri aliran darahnya. Tubuhku menggigil, teringat saat aku mengalami euforia yang sama. Dalam benakku yang dilapisi alkohol, segala sesuatunya tiba-tiba terlihat sangat erotis. Bahkan, aku merasa seperti sedang mengganggu―seolah sedang melihat orang yang sedang berhubungan seks. Saat Moroi itu selesai dan menjilat tetesan darah terakhir, dia mencium lembut pipi mulus si gadis donor.

“Mau jadi sukarelawan?”

Ada jemari yang menyapu ringan leherku, dan aku pun terlonjak. Aku berbalik lalu melihat mata hijau Adrian dan senyum sok tahunya.

“Jangan lakukan itu,” kataku sambil menepis tangannya.

“Kalau begitu, apa yang kaulakukan di sini?” tanya Adrian.

Aku memberi isyarat ke sekelilingku. “Aku tersesat.”

Adrian menatapku. “Kau mabuk, ya?”

“Tidak. Tentu saja tidak… tapi…” Mualnya sudah agak menghilang, tetapi aku masih merasa tidak enak badan. “Sepertinya aku harus duduk.”

Adrian meraih lenganku. “Kalau begitu, jangan duduk di sini. Orang lain bisa salah paham. Ayo, kita pergi ke tempat yang sepi.”

Adrian membimbingku ke ruangan yang lain, dan aku memandang sekeliling dengan penasaran. Ini area pijat. Beberapa Moroi sedang berbaring dan menikmati pijatan punggung serta kaki dari karyawan hotel. Minyak pijat yang digunakan sepertinya beraroma rosemary dan lavender. Pada saat-saat yang lain, pijat akan terdengar sangat menyenangkan, tetapi berbaring menelungkup sepertinya ide yang sangat buruk untuk saat ini.

Aku duduk di lantai beralas karpet dan bersandar ke dinding. Adrian pergi lalu kembali sambil membawa segelas air. Dia duduk di sampingku, lalu menyerahkan gelasnya.

“Minum ini. Bisa membuatmu merasa lebih baik.”

“Sudah kubilang, aku tidak mabuk,” gumamku. Tapi aku tetap meminum airnya.

“Uh-huh.” Adrian tersenyum. “Kau menangani perkelahiannya dengan hebat. Siapa cowok yang membantumu tadi?”

“Pacarku,” jawabku. “Yah, bisa dibilang begitu.”

“Mia ternyata benar. Kehidupanmu memang dipenuhi banyak cowok.”

“Sebenarnya bukan begitu.”

“Oke.” Adrian masih tersenyum. “Vasilisa mana? Kupikir dia akan selalu menempel denganmu.”

“Dia sedang bersama pacarnya.” Aku mengamati Adrian.

“Kenapa nada bicaramu begitu? Kau cemburu? Kau menginginkan cowok itu untukmu sendiri?”

“Astaga, tidak. Aku hanya tidak menyukainya.”

“Apakah dia memperlakukan Vasilisa dengan buruk?” tanya Adrian.

“Tidak,” aku mengakui. “Dia memuja Lissa. Hanya saja dia agak menyebalkan.”

Adrian jelas-jelas menikmati semua ini. “Ah, kau memang cemburu. Apa Vasilisa lebih banyak menghabiskan waktu dengan cowok itu daripada denganmu?”

Aku mengabaikan pertanyaannya. “Kenapa kau terus-menerus menanyakan Lissa? Kau menyukainya, ya?”

Adrian tertawa. “Tenanglah, aku tidak menyukainya seperti aku menyukaimu.”

“Tapi kau menyukainya.”

“Aku hanya ingin mengobrol dengannya.”

Adrian pergi mengambil air lagi. “Sudah baikan?” dia bertanya sambil menyerahkan gelas. Gelasnya terbuat dari kristal dengan ukiran rumit pada permukaannya. Kelihatannya terlalu mewah untuk diisi air putih saja.

“Yeah… aku tidak menyangka minumannya sekeras itu.”

“Di sanalah letak keindahannya,” Adrian tergelak. “Dan omong-omong soal keindahan… warna itu sangat cocok untukmu.”

Aku bergeser. Mungkin aku tidak memperlihatkan kulit telanjang sebanyak gadis-gadis lain, tapi lebih banyak dari yang sebenarnya ingin kutunjukkan pada Adrian. Atau sebenarnya aku memang menginginkannya? Ada sesuatu yang aneh pada diri Adrian. Tingkah lakunya yang arogan membuatku kesal… tetapi aku tetap senang berada di dekatnya. Mungkin sifat sok yang ada di dalam diriku mengenali jiwa yang serupa.

Di salah sudut pikiranku yang sedang mabuk, sebuah cahaya tiba-tiba menyala. Tetapi aku belum bisa memahaminya. Aku minum lebih banyak air.

“Kau tidak merokok selama, hmm, mungkin sepuluh menit terakhir,” kataku, berusaha mengalihkan topik pembicaraan.

Adrian mencibir. “Di sini tidak boleh merokok.”

“Aku yakin kau sudah mendapat gantinya di dalam punch.”

Adrian kembali tersenyum. “Sebagian dari kita bisa menahan diri untuk tidak minum minuman keras. Kau tidak akan muntah, kan?”

Aku masih merasa agak mabuk tetapi sudah tidak mual. “Tidak.”

“Bagus.”

Aku teringat pada mimpiku tentang Adrian. Itu memang hanya mimpi, tetapi aku masih terus mengingatnya, terutama saat dia mengatakan bahwa aku dikelilingi oleh kegelapan. Aku ingin menanyakannya pada Adrian… meski aku tahu betapa bodohnya keinginan itu. Itu mimpiku, bukan mimpi Adrian.

“Adrian….”

Adrian mengarahkan mata hijaunya padaku. “Ya, darling?”

Aku tidak sanggup menanyakannya. “Lupakan saja.”

Adrian hendak menjawab, tetapi kemudian menelengkan kepala ke arah pintu. “Ah, dia sudah datang.”

“Siapa―”

Lissa masuk ke dalam ruangan, matanya menyapu sekeliling. Saat dia melihat kami, kulihat rasa lega membanjiri dirinya. Namun, aku tak bisa merasakannya. Zat memabukkan seperti alkohol membuat ikatan batin di antara kami menjadi tumpul. Ini alasan lain mengapa malam ini seharusnya aku tidak melakukan hal bodoh seperti itu.

“Ternyata kau di sini,” kata Lissa sambil berlutut di sampingku. Lissa mengangguk seraya melirik Adrian. “Hei.”

“Hei juga, Sepupu,” jawab Adrian, menggunakan istilah kekeluargaan yang terkadang digunakan kaum bangsawan terhadap satu sama lain.

“Kau baik-baik saja?” Lissa bertanya padaku. “Saat aku melihat betapa mabuknya dirimu, kupikir kau mungkin terjatuh di suatu tempat dan tenggelam.”

“Aku tidak―” Aku menyerah terus-menerus menyangkal. “Aku baik-baik saja.”

Ekspresi wajah Adrian yang biasa kulihat berubah menjadi serius saat mengamati Lissa. Lagi-lagi hal itu mengingatkan aku pada mimpinya. “Bagaimana kau menemukannya?”

Lissa menatap Adrian dengan bingung. “Aku, em, memeriksa semua ruangan.”

“Oh.” Adrian kelihatan kecewa. “Kupikir kau menggunakan ikatan batin kalian.”

Aku dan Lissa berpandangan.

“Bagaimana kau tahu soal itu?” tuntutku. Di sekolah hanya sedikit orang yang tahu. Adrian membicarakannya dengan santai seperti sedang membicarakan warna rambutku.

“Hei, aku tak bisa membocorkan rahasiaku, kan?” tanya Adrian dengan nada misterius. “Lagi pula, ada sesuatu yang berbeda dengan cara kalian berdua berinteraksi… tapi sulit untuk menjelaskannya. Keren juga… semua mitos kuno itu ternyata benar.”

Lissa menatap Adrian dengan waspada. “Ikatan batinnya hanya berlaku satu arah. Rose bisa merasakan apa yang kurasakan dan kupikirkan, tapi aku tak bisa melakukannya pada Rose.”

“Ah.” Sejenak kami tidak mengatakan apa-apa, dan aku minum lebih banyak air. Adrian bicara lagi. “Memangnya spesialisasimu apa, Sepupu?”

Lissa tampak malu. Kami berdua sama-sama tahu betapa pentingnya merahasiakan kekuatan roh yang dimiliki Lissa agar tidak dimanfaatkan orang lain, tetapi menutupinya, dengan mengatakan belum memiliki spesialisasi selalu membuat Lissa risih.

“Belum ada,” kata Lissa.

“Apa menurut mereka kau akan mendapatkannya? Terlambat berkembang?”

“Tidak.”

“Tapi mungkin saja kemampuanmu lebih tinggi dalam elemen lain, kan? Hanya tidak cukup kuat untuk menguasai salah satunya?” Adrian mengulurkan tangan untuk menepuk bahu Lissa dan berusaha menunjukkan dukungan dengan cara berlebihan.

“Yeah, bagaimana kau―”

Begitu jemari Adrian menyentuhnya, Lissa terkesiap. Seakan-akan ada petir yang menyambar tubuhnya. Wajah Lissa menunjukkan ekspresi yang sangat aneh. Sekalipun sedang mabuk aku bisa merasakan luapan kebahagiaan yang mengalir melalui ikatan batin kami. Lissa menatap Adrian dengan takjub. Mata Adrian juga terpaku pada mata Lissa. Aku tidak mengerti mengapa mereka saling menatap seperti itu, tetapi yang pasti hal itu membuatku risih.

“Hei,” aku berkata. “Hentikan. Sudah kubilang, dia punya pacar.”

“Aku tahu,” kata Adrian, masih menatap Lissa. Senyum simpul terbentuk di bibirnya. “Kapan-kapan kita harus mengobrol, Sepupu.”

“Ya,” Lissa sepakat.

“Hei.” Aku semakin bingung. “Kau punya pacar. Dan ini dia orangnya datang.”

Lissa mengerjapkan mata dan kembali ke kenyataan. Kami bertiga menoleh ke pintu. Christian dan yang lain-lain sedang berdiri di sana. Tiba-tiba aku teringat pada saat mereka menemukanku dengan tangan Adrian merangkul tubuhku. Keadaan saat ini tidak lebih baik. Aku dan Lissa sedang duduk di kedua sisi Adrian, dalam jarak yang sangat dekat.

Lissa melompat berdiri, wajahnya terlihat agak bersalah. Christian menatapnya dengan penasaran.

“Kami mau pergi dari sini,” kata Christian.

“Oke,” jawab Lissa. Dia menunduk menatapku. “Kau sudah siap?”

Aku mengangguk dan mulai bangkit. Adrian langsung menangkap lenganku lalu membantuku berdiri. Dia tersenyum pada Lissa. “Menyenangkan sekali bisa bicara denganmu.” Kemudian dia bergumam padaku dengan sangat pelan, “Jangan takut. Sudah kubilang, aku tidak menyukainya dalam artian seperti itu. Dia tidak kelihatan sehebat dirimu dalam baju renang. Mungkin tanpa baju renang juga tidak sehebat itu.”

Aku menarik lenganku. “Kau takkan pernah mengetahuinya dengan pasti.”

“Tak masalah,” katanya. “Imajinasiku cukup hebat.”

Aku bergabung dengan yang lain, dan kami kembali ke bagian utama penginapan. Mason menatapku dengan cara yang sama anehnya dengan cara Christian memandang Lissa. Dia menjauh dariku, berjalan di depan bersama Eddie. Aku terkejut dan tidak nyaman saat menyadari bahwa aku sedang berjalan di samping Mia. Dia tampak sedih.

“Aku… aku benar-benar menyesal mendengar apa yang terjadi,” kataku akhirnya.

“Kau tak perlu pura-pura peduli, Rose.”

“Tidak, tidak. Aku sungguh-sungguh. Kejadiannya sangat mengerikan… Aku ikut berduka.” Mia tidak mau menatapku. “Apa… apa kau akan segera menemui ayahmu?”

“Saat mereka mengadakan upacara pemakaman,” Mia berkata kaku.

“Oh.”

Aku tidak tahu harus berkata apa lagi dan mengalihkan perhatian pada anak tangga yang sedang kami naiki menuju lantai dasar penginapan. Tanpa diduga, Mia-lah yang melanjutkan pembicaraan kami.

“Aku melihatmu menengahi perkelahian tadi…” kata Mia pelan. “Kau tadi menyebut-nyebut soal sihir menyerang. Seolah kau tahu banyak soal itu.”

Oh. Hebat sekali. Mia akan berusaha untuk memerasku… atau tidak? Pada saat ini dia terlihat hampir bersahabat.

“Aku hanya menebak-nebak,” kataku. Aku tidak mungkin membocorkan soal Tasha dan Christian. “Sebenarnya aku tidak tahu sebanyak itu. Hanya dari cerita-cerita yang kudengar.”

“Oh.” Wajah Mia terlihat merengut. “Cerita-cerita seperti apa?”

“Um, yah….” Aku berusaha memikirkan sebuah cerita yang tidak terlalu samar tetapi juga tidak terlalu spesifik. “Sama seperti yang kukatakan pada mereka… konsentrasi itu sangat penting. Karena kalau kau sedang bertempur melawan Strigoi, segala macam hal bisa mengalihkan perhatianmu. Jadi, kau harus bisa mengendalikan diri.”

Sebenarnya itu aturan dasar pengawal, tetapi Mia pasti baru mendengarnya. Matanya melebar penuh semangat. “Apa lagi? Mantra apa saja yang dipakai?”

Aku menggelengkan kepala. “Entahlah. Aku tak mengerti cara kerja mantra, dan seperti yang kubilang, semua ini hanya… cerita yang kudengar. Sepertinya kau harus mencari cara agar elemen yang kaukuasai bisa digunakan sebagai senjata. Contohnya… para pengguna sihir api benar-benar memiliki keuntungan karena api bisa membunuh Strigoi, jadi hal itu cukup mudah bagi mereka. Dan pengguna sihir udara bisa mencekik orang.” Aku pernah sungguh-sungguh merasakan hal itu melalui Lissa. Rasanya sangat mengerikan.

Mata Mia semakin lebar. “Bagaimana dengan pengguna sihir air?” tanyanya. “Bagaimana cara air bisa menyakiti Strigoi?”

Aku terdiam sejenak. “Aku, eh, tidak pernah mendengar cerita mengenai pengguna sihir air. Maaf.”

“Tapi bisakah kau memikirkan sebuah cara? Cara yang bisa dipelajari orang-orang sepertiku?”

Ah. Jadi, ternyata itu inti permasalahannya. Sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Aku ingat bagaimana wajah Mia kelihatan bersemangat saat Tasha membicarakan rencana menyerang Strigoi pada pertemuan tadi. Mia ingin membalas dendam pada Strigoi atas kematian ibunya. Tidak heran sejak tadi dia dan Mason sangat akur.

“Mia,” kataku lembut, memegangi pintu untuk membiarkannya masuk. Sekarang kami hampir tiba di lobi. “Aku tahu kau pasti ingin… melakukan sesuatu. Tapi kurasa sebaiknya kau harus membiarkan dirimu untuk, em, berduka dulu.”

Wajah Mia memerah, dan tiba-tiba aku melihat Mia yang pemarah seperti biasanya. “Jangan remehkan aku,” katanya.

“Hei, aku tidak meremehkanmu. Aku serius. Aku hanya tidak ingin kau bertindak gegabah selama masih sedih. Lagi pula….” Aku menelan kembali kata-kata yang hendak kuucapkan.

Mia menyipitkan mata. “Apa?”

Persetan. Mia tetap harus mengetahuinya. “Yah, sebenarnya aku tak tahu apa gunanya sihir air dalam melawan Strigoi. Bisa dibilang air elemen paling tidak berguna dalam melawan Strigoi.”

Wajahnya tampak sangat marah. “Kau benar-benar menyebalkan, tahu?”

“Aku hanya mengatakan yang sebenarnya.”

“Nah, kuberitahu kau yang sebenarnya. Kau benar-benar idiot untuk urusan cowok.”

Aku memikirkan Dimitri. Pendapat Mia tidak sepenuhnya melenceng.

“Mason hebat,” lanjut Mia. “Salah satu cowok terbaik yang pernah kukenal―dan kau bahkan tidak menyadarinya! Dia bersedia melakukan apa saja untukmu, tapi kau malah menjatuhkan diri ke pelukan Adrian Ivashkov.”

Ucapan Mia membuatku terkejut. Mungkinkah Mia naksir Mason? Dan meskipun aku sama sekali tidak menjatuhkan diri ke pelukan Adrian, aku mengerti bahwa orang-orang mungkin akan beranggapan seperti itu. Dan kalaupun itu tidak benar, mungkin Mason akan tetap merasa sakit hati dan terkhianati.

“Kau benar,” ucapku.

Mia terbelalak, dia benar-benar tercengang karena aku menyetujui pendapatnya, sehingga tidak mengatakan apa-apa lagi sepanjang sisa perjalanan kami.

Kami tiba di bagian penginapan yang bercabang menuju dua sayap berbeda, satu untuk lelaki dan satu untuk perempuan. Aku meraih lengan Mason. Yang lain terus berjalan.

“Tunggu,” kataku. Aku sangat ingin meyakinkannya soal Adrian, tetapi ada sebagian kecil diriku yang penasaran apakah aku melakukannya karena benar-benar menginginkan Mason, atau karena menyukai kenyataan bahwa dia menginginkan aku dan tidak mau kehilangan semua itu. Mason berhenti dan menatapku. Wajahnya terlihat waspada. “Aku ingin minta maaf. Seharusnya aku tidak berteriak padamu setelah perkelahian itu―aku tahu kau hanya berusaha membantu. Sedangkan soal Adrian… tidak ada yang terjadi. Aku serius.”

“Kelihatannya tidak begitu,” kata Mason. Tetapi amarah di wajahnya sudah memudar.

“Aku tahu, tapi percayalah, dia saja yang agak tergila-gila padaku.”

Nada suaraku sepertinya terdengar meyakinkan karena Mason tersenyum. “Yah. Memang sulit untuk tidak tergila-gila padamu.”

“Aku tidak tertarik padanya,” lanjutku. “Atau pada siapa pun juga.” Ini kebohongan kecil, tetapi kurasa itu tidak penting. Tak lama lagi aku akan melupakan Dimitri, dan pendapat Mia soal Mason benar. Mason memang hebat, baik hati, dan tampan. Aku pasti bodoh jika tidak menerimanya… ya kan?

Tanganku masih memegang lengan Mason, dan aku menarik tubuhnya mendekat. Dia tidak memerlukan sinyal lain. Mason membungkuk dan menciumku, dan selama kami melakukannya, aku terdorong hingga merapat ke dinding―sama seperti yang terjadi bersama Dimitri di ruang latihan. Tentu saja, rasanya tidak sebanding dengan yang kurasakan bersama Dimitri, tetapi tetap menyenangkan dalam cara tersendiri. Aku melingkarkan lengan pada tubuh Mason dan menariknya mendekat.

“Kita bisa pergi… ke suatu tempat,” kataku.

Mason mundur dan tertawa. “Tidak di saat kau sedang mabuk.”

“Aku tidak… semabuk itu lagi,” aku berkata, berusaha menariknya mendekat.

Mason mencium bibirku sekilas lalu melangkah mundur. “Cukup mabuk. Dengar, ini tidak mudah untuk dilakukan. Percayalah padaku. Tapi kalau besok kau masih menginginkan aku―saat kau sudah tidak mabuk―kita bisa membicarakannya.”

Mason membungkuk dan menciumku lagi. Aku berusaha melingkarkan lengan ke tubuhnya, tetapi dia menjauh.

“Kendalikan dirimu, Nona,” godanya, mundur menuju selasar.

Aku melotot, tetapi dia hanya tertawa dan berbalik pergi. Saat dia berjalan menjauh, tatapan tajamku memudar dan aku kembali ke kamarku dengan wajah tersenyum.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s